Pertanian Modern PMAS Mulai Diterapkan di Bojongmangu Bekasi, Target Produktivitas Padi Naik Dua Kali Lipat
KABUPATEN BEKASI – Pemerintah Kabupaten Bekasi melalui Dinas Pertanian mulai menerapkan Program Pertanian Modern Agriculture System (PMAS) dengan sistem tanam benih langsung (Tabela) sebagai upaya meningkatkan produktivitas pertanian dan mendorong modernisasi sektor pangan.
Program tersebut diterapkan melalui lahan percontohan seluas 4.000 meter persegi milik Kelompok Tani Warudoyong I, Desa Sukabungah, Kecamatan Bojongmangu, Kabupaten Bekasi, Rabu (5/8/2026).
Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Bojongmangu, Ubuh Buhori, mengatakan PMAS merupakan inovasi modernisasi pertanian dari Kementerian Pertanian yang dilaksanakan bersama penyuluh dan kelompok tani untuk meningkatkan efisiensi serta hasil produksi padi.
Menurutnya, penerapan tahap awal PMAS menggunakan varietas padi Inpari 33 dengan dukungan fasilitasi dari Balai Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Ciawi.
"Sebelum penanaman dilakukan, kami terlebih dahulu mengolah lahan dan mengecek tingkat keasaman tanah. Hasil pengujian menunjukkan pH tanah di wilayah Bojongmangu berada pada angka 5,5 sehingga perlu dilakukan aplikasi kapur dolomit sebanyak 500 hingga 1.000 kilogram per hektare untuk memperbaiki kondisi tanah," ujar Ubuh.
Ia menjelaskan, pada lahan percontohan seluas 4.000 meter persegi telah diberikan sekitar 500 kilogram dolomit dalam dua tahap, yakni saat pengolahan tanah pertama dan tiga hari sebelum proses tanam.
Selain itu, satu hari sebelum penanaman dilakukan penyemprotan herbisida untuk mengendalikan pertumbuhan gulma agar tanaman padi dapat berkembang secara optimal.
Ubuh menjelaskan, dalam sistem PMAS terdapat sejumlah perlakuan khusus yang berbeda dibandingkan pola tanam konvensional. Salah satunya, lahan tidak boleh digenangi air selama lima hari pertama setelah benih ditanam agar benih tidak membusuk serta mengurangi risiko serangan penyakit.
Setelah tanaman mulai tumbuh, pemantauan dilakukan secara berkala dan pemupukan pertama diberikan pada usia sekitar 10 hari sesuai dengan dosis yang telah ditentukan.
"Pada sistem PMAS, kebutuhan pupuk memang lebih tinggi dibandingkan pola tanam konvensional karena menggunakan sistem tanam yang lebih rapat. Namun, penerapan teknologi ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas secara signifikan," jelasnya.
Program PMAS di Bojongmangu nantinya diharapkan menjadi lahan percontohan yang dapat dikembangkan di setiap desa dengan minimal dua hektare lahan demonstrasi. Dengan begitu, petani dapat melihat langsung manfaat teknologi pertanian modern sebelum menerapkannya secara luas.
Ubuh menyebut, Kementerian Pertanian menargetkan produktivitas padi melalui teknologi modern dapat mencapai 10 ton per hektare. Sementara saat ini rata-rata produksi padi petani di Bojongmangu masih berada di kisaran 5 ton per hektare.
"Kementerian Pertanian menargetkan produktivitas padi mencapai 10 ton per hektare. Saat ini rata-rata hasil panen petani di Bojongmangu masih sekitar 5 ton per hektare. Melalui PMAS kami berharap target tersebut dapat dicapai," ungkapnya.
Pada lahan percontohan tersebut digunakan sekitar 15 kilogram benih Inpari 33 dengan target hasil panen mencapai sekitar 4 ton gabah.
Ubuh berharap penerapan PMAS dapat mengubah pola pikir petani dari sistem budidaya konvensional menuju pertanian berbasis teknologi, sehingga produktivitas meningkat dan kesejahteraan petani semakin baik.
"Harapannya program ini mampu mendukung terwujudnya swasembada pangan melalui kolaborasi antara petani, kelompok tani, penyuluh pertanian, BRMP, dan Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi," katanya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Warudoyong I, Yusup Saepuloh, menyambut positif pelaksanaan program PMAS di wilayahnya. Menurutnya, program tersebut menjadi langkah awal untuk meningkatkan kualitas dan hasil produksi pertanian.
"Program ini menjadi langkah awal yang sangat baik. Kami berharap hasil uji coba ini dapat menjadi acuan sebelum diterapkan secara lebih luas kepada seluruh anggota kelompok tani sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh para petani," ujarnya.
Yusup optimistis penerapan teknologi mulai dari pengaturan pH tanah, pemupukan terukur, hingga sistem tanam modern mampu meningkatkan hasil panen.
Ia mengatakan, selama ini produktivitas padi dengan pola konvensional rata-rata masih sekitar 5 ton per hektare. Melalui PMAS, produksi ditargetkan meningkat hingga mencapai 10 ton per hektare.
Selain teknologi budidaya, Yusup memastikan ketersediaan air untuk musim tanam tetap terjaga. Kelompok tani telah mendapatkan bantuan pompanisasi dari pemerintah berupa pompa berkapasitas 6 inci yang didukung jaringan irigasi serta tambahan pompa milik kelompok tani.
"Insyaallah minggu depan kami akan mulai melakukan penanaman di lahan sekitar 30 hektare. Kami berharap program ini berhasil sehingga semakin banyak petani yang menerapkan sistem PMAS pada musim tanam berikutnya," tutupnya.
Baca Juga
Komentar