Orientasi Maba UM Indonesia, Tri Adhianto: Gelar Penting, tapi Ubah Mindset Jauh Lebih Penting
BEKASI – Wali Kota Bekasi Tri Adhianto mengingatkan mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah (UM) Indonesia agar tidak menjadikan gelar akademik sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi.
Pesan tersebut disampaikan Tri saat memberikan pengarahan dalam kegiatan orientasi mahasiswa baru UM Indonesia, Sabtu (19/9/2026). Ia menilai masa awal perkuliahan harus menjadi momentum bagi mahasiswa untuk membangun pola pikir, karakter, pengalaman, serta kemampuan beradaptasi.
Menurut Tri, perpindahan status dari siswa menjadi mahasiswa membawa perubahan besar dalam cara seseorang belajar dan berinteraksi. Mahasiswa dituntut lebih aktif berpikir, berdiskusi, sekaligus berani menyampaikan gagasan.
“Dari siswa menjadi mahasiswa. Di sini kalian akan mengenal lebih jauh, berubah warna, berubah gaya, dan berubah cita-cita. Harapannya, semua itu membawa Indonesia menjadi lebih maju,” ujar Tri.
Ia menegaskan, perguruan tinggi tidak semata-mata menjadi tempat untuk mendapatkan ijazah dan gelar. Kampus juga harus menjadi ruang bagi mahasiswa untuk bertukar gagasan, memperluas wawasan, serta belajar menghargai perbedaan pendapat.
“Berpendapat itu penting. Berdiskusi itu penting. Kuliah penting, mendapatkan gelar penting, tetapi mengubah mindset jauh lebih penting,” katanya.
Tri juga mendorong mahasiswa memiliki pandangan yang lebih luas mengenai keberhasilan. Menurutnya, kemampuan akademik dan profesional perlu berjalan bersama dengan kepedulian terhadap lingkungan serta masyarakat.
“Jadilah orang yang unggul, tetapi juga berdampak. Kesuksesan bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi bagaimana kita bisa memberikan manfaat untuk orang banyak,” ungkapnya.
Dalam pengarahan tersebut, Tri turut menyoroti perkembangan teknologi digital, termasuk artificial intelligence (AI), yang semakin memengaruhi berbagai bidang pekerjaan dan profesi.
Ia meminta mahasiswa tidak melihat perkembangan AI sebagai sesuatu yang harus ditakuti. Sebaliknya, teknologi tersebut perlu dipahami sebagai alat yang dapat membantu manusia menyelesaikan berbagai pekerjaan.
“Dunia profesi terus berkembang. AI sudah menjadi bagian dari kehidupan kita. Sebagian pekerjaan bisa diselesaikan dengan teknologi, tetapi AI hanyalah tools. Manusia tetap menjadi pihak yang menggerakkan, menentukan arah dan bagaimana teknologi itu digunakan,” jelasnya.
Karena itu, Tri meminta mahasiswa mulai membangun kemampuan yang tetap relevan di tengah perubahan teknologi. Kemampuan bekerja sama, berkomunikasi, berpikir kritis, dan beradaptasi dinilai menjadi bekal penting bagi mahasiswa menghadapi dunia profesi.
Selain berbicara mengenai pendidikan dan perkembangan teknologi, Tri juga membuka ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan gagasan mengenai berbagai persoalan di Kota Bekasi.

Ia menilai mahasiswa sebagai kelompok intelektual muda memiliki posisi strategis untuk memberikan masukan terhadap pembangunan daerah. Kritik dan gagasan dari mahasiswa, menurutnya, dapat menjadi bagian dari proses evaluasi pemerintah.
Bahkan, Tri secara terbuka mempersilakan mahasiswa menyampaikan kritik dan saran melalui berbagai saluran, termasuk media sosial.
“Saya siap menerima kritik dan saran. Silakan disampaikan langsung maupun melalui media sosial. Pemerintah harus terbuka terhadap masukan, termasuk dari mahasiswa,” tegasnya.
Di akhir pengarahan, Tri memperkenalkan semangat PETARUNG sebagai nilai yang diharapkan dapat menjadi karakter mahasiswa dalam menjalani proses pendidikan maupun kehidupan bermasyarakat.
PETARUNG merupakan akronim dari Pejuang, Empati, Tangguh, Amanah, Responsif, Unggul, Nasionalisme, dan Gigih.
Tri berharap mahasiswa tidak hanya mengejar pencapaian akademik selama berada di bangku kuliah. Menurutnya, pengalaman, karakter, kemampuan bekerja sama, serta nilai-nilai yang diperoleh selama menjadi mahasiswa juga menjadi bekal penting setelah lulus.
“Ketika lulus nanti, jangan hanya membawa ijazah. Bawalah pengalaman, karakter, kemampuan bekerja sama, dan nilai-nilai yang kalian dapatkan selama menjadi mahasiswa,” pesannya.
Ia juga mendorong mahasiswa baru UM Indonesia memanfaatkan masa perkuliahan untuk memperluas wawasan, membangun jejaring, mengembangkan kemampuan, dan mempersiapkan diri menghadapi perubahan dunia kerja.
Tri berharap generasi muda tidak hanya mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, tetapi juga tetap memiliki karakter, kepedulian sosial, serta rasa nasionalisme.
“Jadilah generasi yang unggul, mampu beradaptasi dengan perubahan, tetapi tetap memiliki karakter, kepedulian dan nasionalisme. Jadilah PETARUNG,” pungkasnya.
Baca Juga
Komentar