Rekomendasi Saham Hari Ini: ISAT, CPIN dan DEWA Jadi Sorotan, Investor Berebut Cum Dividen BJTM hingga TOTL
JAKARTA — Pergerakan pasar saham Indonesia memasuki pekan ketiga Mei 2026 dibayangi kombinasi sentimen global dan domestik yang sangat dinamis. Di tengah tekanan eksternal akibat inflasi Amerika Serikat yang masih tinggi serta volatilitas nilai tukar rupiah, sejumlah saham unggulan justru mulai menarik perhatian investor karena peluang teknikal jangka pendek dan momentum dividen yang menggiurkan.
Sejumlah analis pasar merekomendasikan tiga saham pilihan untuk perdagangan hari ini, Senin (18/5/2026), yakni ISAT, CPIN, dan DEWA.
Ketiga saham tersebut dinilai memiliki momentum teknikal menarik di tengah rotasi sektor yang mulai terjadi di Bursa Efek Indonesia.
Untuk saham ISAT, analis merekomendasikan posisi buy pada area entry price 1.030 dengan target price 1.055 dan stop loss di level 1.015.
Sementara saham CPIN direkomendasikan buy pada area 4.160 dengan target kenaikan menuju 4.250 dan batas stop loss di 4.110.
Adapun saham DEWA direkomendasikan buy pada area 484 dengan target price 494 dan stop loss di level 478.
Rekomendasi ini muncul di tengah derasnya sentimen pasar yang berasal dari berbagai faktor global maupun domestik.
Salah satu sentimen terbesar datang dari data inflasi Amerika Serikat April 2026 yang tercatat berada di atas ekspektasi pasar. Kondisi tersebut memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve System atau The Fed masih akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan sebelumnya.
Dampaknya, arus modal asing ke negara berkembang termasuk Indonesia menjadi lebih rentan mengalami tekanan.
Di dalam negeri, Bank Indonesia menegaskan akan terus melakukan intervensi terukur di pasar valuta asing demi menjaga stabilitas rupiah yang belakangan mengalami pelemahan signifikan terhadap dolar AS.
Pemerintah juga menyiapkan skema Bond Stabilization Fund untuk menjaga stabilitas yield Surat Berharga Negara (SBN) agar tekanan di pasar obligasi tidak semakin meluas.
Situasi global juga dipengaruhi perkembangan geopolitik terbaru di kawasan Timur Tengah. Amerika Serikat dan China dilaporkan sepakat mendorong larangan pungutan tarif kapal di Selat Hormuz demi menjaga kelancaran jalur perdagangan energi global.
Selain itu, AS bersama sekutunya juga mendorong resolusi Dewan Keamanan PBB untuk menekan Iran membuka akses Selat Hormuz guna mengurangi ketegangan geopolitik dan risiko lonjakan harga energi dunia.
Di pasar modal Indonesia, perhatian investor juga tertuju pada pengumuman evaluasi indeks oleh MSCI terhadap indeks MSCI Global Standard, Small Cap, dan Micro Cap yang berpotensi memengaruhi aliran dana asing ke sejumlah saham domestik.
Sementara itu, sektor otomotif menunjukkan sinyal positif. ASII mencatat penjualan wholesales mobil periode empat bulan pertama 2026 tumbuh 4 persen secara tahunan.
Data nasional juga memperlihatkan penjualan mobil naik 7 persen secara tahunan, sedangkan penjualan sepeda motor meningkat sekitar 2 persen.
Perkembangan tersebut memberi sentimen positif bagi saham-saham sektor otomotif dan konsumsi domestik.
Di sisi lain, aksi korporasi sejumlah emiten juga menjadi perhatian besar investor.
Salah satu yang paling ramai dibahas ialah rencana stock split RAJA dengan rasio 1:5. Langkah tersebut dinilai dapat meningkatkan likuiditas perdagangan saham dan memperluas basis investor ritel.
Saham RAJA sebelumnya mengalami penguatan signifikan hingga berada pada level harga relatif tinggi sehingga stock split dipandang sebagai strategi untuk meningkatkan keterjangkauan harga saham di pasar.
Selain RAJA, sejumlah emiten lain juga aktif melakukan aksi korporasi.
CHEK dilaporkan menjajaki kerja sama global untuk pengembangan produk diagnostik Hantavirus.
KEEN memenangkan tender proyek Independent Power Producer (IPP) PLTA Pakkat 2 berkapasitas 45 MW.
Kemudian BIPI bersama Humpuss dikabarkan tengah mengkaji lima proyek energi senilai USD1,5 miliar.
Investor juga mencermati aktivitas insider transaction yang terjadi di sejumlah emiten.
Komisaris menambah kepemilikan saham ASII senilai Rp1 miliar, sementara direktur BYAN justru melepas saham senilai Rp36 miliar.
Di saham NSSS, pengendali melepas 5,5 persen saham senilai Rp1 triliun, namun di saat bersamaan direktur perusahaan menambah kepemilikan sekitar 2 persen senilai Rp381 miliar.
Pasar juga menyoroti laporan keuangan kuartal pertama 2026 sejumlah emiten.
EXCL misalnya, mencatat rugi bersih Rp717 miliar pada periode tiga bulan pertama 2026.
Di sisi dividen, sejumlah saham menawarkan dividend yield yang cukup menarik bagi investor.
PANR mencatat estimasi dividend yield sekitar 5,7 persen.
Kemudian MDLA sekitar 5,6 persen, MCOL 5,1 persen, dan WEHA sekitar 4,7 persen.
Adapun saham OBAT memiliki dividend yield sekitar 2,5 persen, sedangkan PSSI sekitar 1,5 persen.
Fokus investor hari ini juga tertuju pada jadwal cum dividen sejumlah emiten besar di pasar reguler dan negosiasi.
Ada empat saham yang memasuki masa cum dividen pada Senin (18/5/2026), yakni BJTM, TOTL, RATU, dan SHIP.
Dari keempat emiten tersebut, BJTM menawarkan dividend yield tertinggi sekitar 9,7 persen dengan nilai dividen Rp56,62 per saham.
Sementara TOTL membagikan dividen Rp110 per saham dengan estimasi dividend yield sekitar 8,9 persen.
RATU menetapkan dividen tunai Rp45 per saham dengan yield sekitar 0,8 persen, sedangkan SHIP membagikan dividen Rp35 per saham dengan estimasi yield 1,6 persen.
Pada perdagangan sebelumnya, performa saham-saham tersebut bergerak variatif.
BJTM ditutup melemah 0,85 persen ke level Rp585 per saham. TOTL turun 0,40 persen ke level Rp1.230.
Sebaliknya RATU menguat 0,88 persen ke level Rp5.700, sementara SHIP mengalami tekanan cukup dalam setelah ambles 14,84 persen ke posisi Rp2.180.
Analis pasar melihat momentum cum dividen biasanya akan memicu peningkatan aktivitas perdagangan karena investor berburu hak dividen sebelum tanggal ex-dividend.
Namun investor juga diingatkan untuk tetap memperhatikan risiko volatilitas harga pasca cum dividen, terutama di tengah kondisi pasar global yang masih penuh ketidakpastian.
Di tengah kombinasi sentimen eksternal dan domestik saat ini, investor disarankan tetap disiplin menerapkan manajemen risiko serta memperhatikan batas stop loss dalam setiap transaksi jangka pendek.
Pasar saham Indonesia diperkirakan masih bergerak fluktuatif dalam beberapa hari ke depan seiring perkembangan data ekonomi global, arah kebijakan bank sentral dunia, serta stabilitas nilai tukar rupiah.
Baca Juga
Komentar