Terbaru IHSG Anjlok 3,53 Persen Sepekan, Saham BMRI hingga Grup Barito Jadi Pemberat Utama
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan signifikan sepanjang pekan ini setelah sederet saham berkapitalisasi besar atau big caps terkoreksi tajam di tengah sentimen negatif rebalancing MSCI Mei 2026 dan pengumuman terbaru FTSE Russell terkait saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG tercatat melemah 3,53 persen dalam sepekan seiring aksi jual investor asing yang mencapai Rp2,80 triliun di pasar reguler.
Saham BMRI menjadi penekan terbesar indeks setelah anjlok 9,29 persen ke level Rp4.200 per saham. Pelemahan saham perbankan pelat merah tersebut memangkas IHSG hingga 33,64 poin.
Tekanan besar juga datang dari saham-saham Grup Barito milik pengusaha Prajogo Pangestu. Saham BREN merosot tajam 21,95 persen ke Rp3.200 per saham dan membebani indeks sebesar 33,20 poin.
Sementara itu, TPIA turun 21,82 persen dan memberikan kontribusi negatif 24,81 poin terhadap IHSG.
Tekanan berlanjut pada saham CUAN yang melemah 24,11 persen dan memangkas indeks sebesar 10,80 poin.
Beberapa saham Grup Barito lainnya seperti BRPT, PTRO, serta CDIA juga menjadi perhatian pasar setelah isu free float dan konsentrasi kepemilikan mencuat pasca pengumuman MSCI dan FTSE Russell.
Dari Grup Sinarmas, saham DSSA terkoreksi 20,99 persen dan menekan IHSG sebesar 24,25 poin.
Sementara itu, saham AMMN yang terafiliasi dengan Grup Salim turun 12,11 persen dan memangkas indeks sebesar 15,50 poin.
Saham sektor perbankan besar lainnya juga tak luput dari tekanan. BBRI turun 4,29 persen dan membebani IHSG sebesar 21,96 poin. Sedangkan BBCA melemah 1,21 persen dengan kontribusi negatif 7,03 poin terhadap indeks.
Tekanan pasar muncul setelah sejumlah saham Indonesia dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index dan MSCI Global Small Cap Index dalam hasil review kuartalan MSCI Mei 2026.
Sentimen negatif bertambah usai FTSE Russell mengumumkan rencana penghapusan saham Indonesia dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) dari indeksnya dengan harga nol (zero price) efektif mulai 22 Juni 2026.
Dalam pengumuman resminya, FTSE Russell menyebut kebijakan tersebut menjadi bagian dari tinjauan indeks Juni 2026 yang juga mencakup pembaruan klasifikasi industri, pembaruan jumlah saham kuartalan, hingga penyesuaian free float sejumlah saham Indonesia.
FTSE Russell juga menyatakan evaluasi lanjutan terkait perlakuan indeks terhadap pasar Indonesia akan kembali dipertimbangkan pada peninjauan indeks September 2026.
Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi berlanjutnya arus keluar dana asing dari pasar modal Indonesia, terutama pada saham-saham dengan tingkat free float rendah dan konsentrasi kepemilikan tinggi.
Baca Juga
Komentar