Pajak Tembus Rp1.224 Triliun, Pertalite dan Biosolar Berpotensi Dibatasi untuk Desil 9-10 Hari Ini
JAKARTA – Sejumlah perkembangan ekonomi nasional menjadi perhatian pada Kamis, 10 September 2026. Mulai dari penerimaan pajak yang tumbuh hingga rencana pembatasan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi bagi kelompok masyarakat tertentu.
Salah satu kabar utama datang dari sektor perpajakan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut penerimaan pajak hingga Juli 2026 mencapai Rp1.224,3 triliun.
Angka tersebut tumbuh 23,7 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut menjadi salah satu indikator perkembangan penerimaan negara dari sektor perpajakan.
Di sisi lain, pemerintah juga masih mematangkan sejumlah kebijakan ekonomi yang berkaitan dengan masyarakat. Salah satunya adalah rencana pembukaan rekening secara massal bagi masyarakat.
Anggaran Pembukaan Rekening Massal Belum Final
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan anggaran untuk rencana pembukaan rekening massal bagi masyarakat hingga kini belum ditetapkan secara final.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa rencana tersebut masih berada dalam tahap pembahasan. Pemerintah masih perlu memastikan kebutuhan anggaran sebelum kebijakan dijalankan.
Kebijakan tersebut menjadi salah satu perkembangan ekonomi yang turut mendapat perhatian karena berkaitan dengan akses masyarakat terhadap layanan keuangan.
Pertamina Siapkan Pengolahan Minyak Jelantah
Dari sektor energi dan ekonomi hijau, Pertamina melalui Kilang Unit IV Cilacap menjajaki pemanfaatan minyak jelantah yang berasal dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Minyak jelantah tersebut dijajaki untuk diolah menjadi Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar pesawat udara yang lebih ramah lingkungan.
Pemanfaatan limbah minyak sebagai bahan baku SAF menjadi bagian dari upaya mengembangkan sumber energi alternatif sekaligus meningkatkan nilai ekonomi dari limbah yang sebelumnya dianggap tidak memiliki nilai tinggi.
Pertamina Siap Dukung Pembatasan Pertalite
Sementara itu, kebijakan BBM bersubsidi juga menjadi sorotan. Pertamina Patra Niaga menyatakan siap mendukung rencana pembatasan BBM bersubsidi, termasuk Pertalite dan Biosolar, bagi masyarakat yang masuk kelompok desil 9 dan 10.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun menyampaikan kesiapan tersebut sebagai bagian dari dukungan terhadap kebijakan pemerintah mengenai penyaluran BBM bersubsidi.
Kelompok desil 9 dan 10 merupakan kelompok yang berada pada bagian atas klasifikasi desil dalam data sosial-ekonomi. Pembatasan bagi kelompok tersebut diarahkan agar subsidi energi dapat lebih tepat sasaran.
Pemerintah Dorong Ekonomi Kreatif
Perkembangan lain datang dari sektor ekonomi kreatif. Kementerian Ekonomi Kreatif memperkuat kolaborasi dengan pelaku industri untuk mengembangkan ekosistem seni pertunjukan.
Pengembangan tersebut tidak hanya diarahkan sebagai ruang ekspresi budaya, tetapi juga sebagai sektor yang mampu menciptakan nilai ekonomi secara berkelanjutan.
Kolaborasi antara pemerintah dan pelaku industri diharapkan dapat memperkuat rantai ekonomi sektor seni pertunjukan, mulai dari produksi hingga pengembangan pasar.
Rangkaian perkembangan tersebut menunjukkan bahwa agenda ekonomi pemerintah tidak hanya berkaitan dengan penerimaan negara dan subsidi energi, tetapi juga mencakup transformasi energi, inklusi keuangan, serta penguatan industri kreatif.
Dengan penerimaan pajak yang mencapai Rp1.224,3 triliun hingga Juli 2026, pemerintah memiliki tambahan ruang untuk menjaga kapasitas fiskal. Namun, berbagai kebijakan lain tetap membutuhkan perhitungan agar mampu memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga daya beli masyarakat.
Sementara itu, rencana pembatasan Pertalite dan Biosolar untuk kelompok desil 9 dan 10 masih menjadi bagian dari agenda penataan subsidi agar bantuan energi lebih tepat sasaran. Implementasinya tetap bergantung pada kebijakan dan mekanisme yang ditetapkan pemerintah.
Di sektor energi, penjajakan pengolahan minyak jelantah menjadi SAF juga membuka peluang baru bagi ekonomi sirkular. Limbah dari aktivitas masyarakat berpotensi diolah kembali menjadi produk energi bernilai ekonomi sekaligus mendukung agenda keberlanjutan.
Baca Juga
Komentar