Kementerian ESDM dan DPR RI Sepakati Asumsi Dasar Energi RAPBN 2027, Fokus Perkuat Ketahanan Energi Nasional
JAKARTA – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama Komisi XII DPR RI menyepakati asumsi dasar sektor energi dan sumber daya mineral dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun Anggaran 2027. Kesepakatan tersebut dicapai dalam Rapat Kerja yang digelar di DPR RI, Senin (15/6/2026), sebagai langkah strategis menghadapi dinamika geopolitik global sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Dalam rapat tersebut, disepakati asumsi rata-rata Harga Minyak Mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) berada pada kisaran USD70 hingga USD95 per barel. Sementara itu, target lifting minyak dan gas bumi ditetapkan pada rentang 1.556–1.610 ribu Barrel Oil Equivalent per Day (BOEPD).
Rinciannya meliputi lifting minyak bumi sebesar 605–620 ribu Barrel Oil per Day (BOPD) dan lifting gas bumi sebesar 951–990 ribu BOEPD, dengan proyeksi Cost Recovery berkisar USD10,1 miliar hingga USD11,5 miliar.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menegaskan pentingnya optimalisasi produksi migas nasional melalui peningkatan kapasitas produksi kontraktor kontrak kerja sama (KKKS).
“Untuk porsi yang ini bisa kita diskusikan, mana ruang yang lebih untuk bisa kita bicarakan dalam konteks meningkatkan kapasitas lifting daripada seluruh KKKS yang ada di negara kita,” ujar Bahlil.
Selain sektor hulu migas, rapat kerja juga menyepakati volume subsidi energi tahun 2027. Untuk BBM bersubsidi, volumenya diproyeksikan berada pada kisaran 19,343–19,561 juta kiloliter (KL). Angka tersebut terdiri dari minyak tanah 0,543–0,561 juta KL dan solar subsidi 18,80–19,00 juta KL.
Sementara itu, alokasi LPG tabung 3 kilogram diperkirakan mencapai 8 juta metrik ton (MT) guna menjaga daya beli masyarakat serta mendukung kebutuhan energi rumah tangga.
Dalam kesepakatan tersebut, DPR dan Pemerintah juga menyetujui subsidi tetap solar sebesar Rp1.000 per liter, serta anggaran subsidi listrik sebesar Rp113,45 triliun hingga Rp122,83 triliun.
Bahlil menjelaskan bahwa asumsi makro yang disepakati saat ini masih bersifat awal dan akan terus disempurnakan mengikuti perkembangan kondisi global.
“Menyangkut asumsi makro sektor migas, angka yang disampaikan saat ini masih akan terus dievaluasi. Memasuki Juli atau Agustus nanti, kita akan memiliki angka yang lebih presisi sesuai perkembangan geopolitik global,” katanya.
Di sisi lain, Kementerian ESDM juga tengah menyiapkan postur anggaran tahun 2027 yang difokuskan pada pembangunan infrastruktur energi dan program strategis yang berdampak langsung bagi masyarakat. Beberapa program prioritas yang akan mendapat dukungan anggaran antara lain listrik desa (lisdes), program converter kit untuk petani, serta Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL).
Melalui kebijakan tersebut, pemerintah berharap ketahanan energi nasional dapat semakin kuat sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui akses energi yang lebih merata, terjangkau, dan berkelanjutan.
Baca Juga
Komentar