Terbaru Iran Ancam Tutup Selat Hormuz untuk Kapal Penerima Kompensasi dari Aset Beku
TEHERAN – Iran melontarkan ancaman keras menyusul rencana Amerika Serikat (AS) menggunakan aset Iran yang dibekukan untuk membayar ganti rugi kepada kapal-kapal yang mengalami kerusakan akibat konflik di kawasan Selat Hormuz.
Teheran menegaskan kapal milik negara atau perusahaan yang menerima kompensasi dari aset Iran tersebut tidak akan diizinkan melintasi Selat Hormuz.
Ancaman tersebut muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan aset Iran yang berada di bawah kendali Washington dapat digunakan untuk membayar kerugian kapal yang sebelumnya ditembak Iran, termasuk nilai muatan yang diangkut.
Pemerintah Iran menilai rencana tersebut sebagai tindakan ilegal dan memperingatkan akan memberikan balasan terhadap pihak-pihak yang dianggap terlibat.
Iran Beri Peringatan kepada Negara Penerima Kompensasi
Dalam pesan video yang disiarkan media pemerintah Iran, seorang juru bicara Markas Besar Pusat Khatam Al Anbiya menyampaikan peringatan kepada AS serta negara dan perusahaan yang menerima pembayaran menggunakan aset Iran yang dibekukan.
Menurutnya, respons Iran tidak hanya ditujukan kepada Washington. Negara maupun perusahaan yang memperoleh kompensasi dari aset Iran juga akan menghadapi konsekuensi.
“Mulai sekarang, Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran tidak akan mengizinkan kapal-kapal mereka untuk melewati Selat Hormuz,” kata juru bicara tersebut, dikutip Rabu (29/7/2026).
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa Teheran berupaya memperluas tekanan terhadap pihak-pihak yang dianggap mendukung kebijakan AS terkait aset Iran.
Mengapa Iran Ancam Kapal di Selat Hormuz?
Iran menyebut ketegangan di jalur pelayaran strategis tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh tindakan militernya.
Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam Al Anbiya menuding kebijakan militer AS menjadi salah satu pemicu munculnya situasi berbahaya di kawasan Selat Hormuz.
Menurut dia, jalur pelayaran baru yang dibuka oleh militer AS di bagian selatan Selat Hormuz dianggap ilegal dan tidak aman oleh Iran.
Teheran bahkan menyatakan kondisi tersebut menjadi alasan militernya melakukan penembakan terhadap sejumlah kapal tanker dan kapal kargo yang melintasi rute tersebut.
Iran Soroti Aset yang Dibekukan AS
Persoalan aset Iran yang dibekukan menjadi titik utama dalam ancaman terbaru Teheran.
Iran menolak rencana penggunaan aset tersebut sebagai sumber pembayaran kompensasi atas kerusakan kapal. Pemerintah Iran menilai aset yang dibekukan merupakan bagian dari persoalan hukum dan politik yang tidak dapat digunakan secara sepihak untuk membayar pihak lain.
Karena itu, Teheran memperingatkan setiap negara atau perusahaan yang menerima pembayaran dari aset Iran berdasarkan usulan AS agar mempertimbangkan konsekuensi dari keputusan tersebut.
Peringatan tersebut berpotensi menambah ketegangan antara Iran dan AS sekaligus meningkatkan risiko terhadap aktivitas pelayaran komersial di kawasan Teluk.
Selat Hormuz Jadi Titik Strategis Dunia
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia karena menjadi penghubung penting bagi lalu lintas energi dari kawasan Teluk menuju pasar internasional.
Setiap gangguan terhadap keamanan pelayaran di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi rantai pasok energi global, biaya transportasi, hingga harga minyak dunia.
Karena itu, ancaman Iran untuk melarang kapal tertentu melintasi Selat Hormuz menjadi perhatian serius bagi negara-negara yang memiliki kepentingan perdagangan dan energi di kawasan tersebut.
Ketegangan Iran-AS Berpotensi Meningkat
Ancaman terbaru Teheran menunjukkan bahwa persoalan aset Iran yang dibekukan tidak hanya berkaitan dengan kompensasi finansial, tetapi juga dapat berkembang menjadi persoalan keamanan dan pelayaran internasional.
Jika kebijakan penggunaan aset Iran benar-benar diterapkan, potensi benturan kepentingan antara Washington, Teheran, serta negara atau perusahaan penerima kompensasi dapat semakin besar.
Di sisi lain, ancaman terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan perdagangan global.
Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada langkah pemerintah AS, respons Iran, serta bagaimana negara-negara lain menyikapi ancaman terhadap kapal yang menggunakan jalur pelayaran strategis tersebut.
Baca Juga
Komentar