Asing Lepas Rp2,31 Triliun di BEI, BBCA Paling Banyak Dijual dan IHSG Anjlok 1,43 Persen Hari Ini
JAKARTA – Tekanan jual investor asing mewarnai perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang pekan ini. Investor asing tercatat melakukan net sell Rp2,31 triliun di pasar reguler, seiring dengan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 1,43 persen dalam sepekan.
Tekanan asing terlihat pada sejumlah saham berkapitalisasi besar yang menjadi sasaran aksi jual. Salah satu yang paling mencolok adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
BBCA Jadi Saham Paling Banyak Dilego Asing
Berdasarkan data perdagangan, BBCA menjadi saham yang paling banyak dilepas investor asing sepanjang pekan ini.
Net foreign sell pada saham BBCA mencapai Rp1,48 triliun. Pada periode yang sama, harga saham BBCA turun 5,60 persen dan ditutup di level Rp6.325 per saham.
Besarnya aksi jual asing pada BBCA menjadi salah satu perhatian investor mengingat saham perbankan tersebut merupakan salah satu saham dengan kapitalisasi pasar besar di BEI.
TPIA dan CPIN Ikut Tertekan
Setelah BBCA, saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) berada di posisi berikutnya dengan net sell asing mencapai Rp356,30 miliar.
Harga saham TPIA terkoreksi 5,76 persen dalam sepekan dan berakhir di level Rp1.880 per saham.
Tekanan jual juga terjadi pada PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN). Investor asing mencatat net sell sebesar Rp351,77 miliar, sementara harga CPIN melemah 1,56 persen menjadi Rp3.160 per saham.
Saham Bank Mandiri hingga Kalbe Farma Ikut Dilepas
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) juga masuk dalam daftar saham yang paling banyak mengalami tekanan jual asing.
Net foreign flow BMRI tercatat negatif Rp176,67 miliar. Harga sahamnya turun 1,36 persen sepanjang pekan dan ditutup pada level Rp4.360.
Berikutnya, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) mencatat net sell asing sebesar Rp158,80 miliar.
Saham KLBF melemah 5,16 persen dalam sepekan menjadi Rp735 per saham.
DSSA dan ADRO Tertekan
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) turut mencatat aksi jual asing yang cukup besar. Net sell DSSA mencapai Rp115,33 miliar dengan harga saham turun 6,78 persen menjadi Rp1.100.
Sementara itu, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) mencatat net sell asing Rp112,85 miliar.
Harga ADRO terkoreksi 2,94 persen dan berakhir di level Rp2.640 per saham.
CUAN dan ASII Justru Menguat
Menariknya, aksi jual asing tidak selalu diikuti pelemahan harga saham.
PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), misalnya, mencatat net sell asing Rp111,85 miliar. Namun, harga sahamnya justru mampu menguat 0,53 persen menjadi Rp945.
Hal serupa terjadi pada PT Astra International Tbk (ASII). Meski mencatat net sell asing Rp78,28 miliar, harga ASII masih naik tipis 0,20 persen sepanjang pekan menjadi Rp4.910.
ISAT Jadi Pengecualian
PT Indosat Tbk (ISAT) menjadi salah satu saham yang paling menarik perhatian karena mampu mencatat kenaikan harga meski dibayangi aksi jual asing.
Net sell asing pada ISAT mencapai Rp257,71 miliar. Namun, harga sahamnya justru naik 1,67 persen menjadi Rp2.430.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan jual investor asing tidak selalu secara langsung menentukan arah pergerakan harga saham. Minat investor domestik dan faktor fundamental maupun sentimen sektoral juga dapat memengaruhi pergerakan harga.
IHSG Turun 1,43 Persen dalam Sepekan
Secara keseluruhan, tekanan jual asing ikut mewarnai kinerja IHSG sepanjang pekan ini.
IHSG terkoreksi 1,43 persen, setelah pada pekan sebelumnya indeks justru mampu menguat 1,82 persen.
Pada perdagangan Jumat (11/9/2026), IHSG ditutup melemah 0,73 persen ke level 6.541,38, dengan nilai transaksi mencapai Rp14,71 triliun.
Harga Minyak dan Kebijakan Bank Sentral Jadi Perhatian
Phintraco Sekuritas menilai kenaikan harga minyak mentah menjadi salah satu perhatian investor. Harga minyak mentah bahkan menembus level USD100 per barel di pasar spot.
Selain harga komoditas, investor juga akan mencermati arah kebijakan moneter sejumlah bank sentral utama dunia pada pekan depan.
Federal Reserve atau The Fed dijadwalkan menggelar keputusan kebijakan pada 16 September, disusul Bank of England (BOE) pada 17 September dan Bank of Japan (BOJ) pada 18 September.
Rangkaian keputusan tersebut berpotensi menjadi katalis penting bagi pasar keuangan global, termasuk pasar saham Indonesia.
IHSG Diproyeksikan Bergerak 6.450–6.700
Dari sisi teknikal, IHSG masih ditutup di atas MA20. Namun, sejumlah indikator menunjukkan adanya potensi tekanan lanjutan yang perlu diperhatikan investor.
Pada grafik mingguan, MACD masih berada di area positif. Di sisi lain, Stochastic RSI membentuk death cross di area overbought.
Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG pada perdagangan pekan depan akan bergerak dalam kisaran 6.450–6.700.
Dengan tekanan jual asing yang masih tinggi dan agenda kebijakan bank sentral global yang akan menjadi perhatian, investor perlu mencermati pergerakan IHSG serta saham-saham yang mengalami perubahan signifikan dalam arus dana asing.
Baca Juga
Komentar