Ekonomi Indonesia Ditopang Jutaan UMKM, Budi Utama Dorong Digitalisasi hingga Pasar Global
JAKARTA – Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menjadi salah satu fondasi utama perekonomian Indonesia. Selain berperan besar dalam menciptakan lapangan pekerjaan, sektor ini juga memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Hal tersebut disampaikan Ketua Komite Khusus Sektor Keuangan Lembaga Kajian AstaCita, Budi Utama, SE, MBA, LUTCF, saat menerima wawancara wartawan Paulus Sidik Budhiadi di ruang kerjanya, Jakarta, Selasa (2/9/2026).
Budi Utama menjelaskan, berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai sumber, termasuk Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) serta data pemerintah, jumlah UMKM di Indonesia mencapai puluhan juta unit usaha.
Hingga akhir 2025, tercatat sekitar 30,21 juta UMKM nonpertanian dan perikanan. Sementara apabila digabungkan dengan sektor pertanian dan perikanan, jumlah keseluruhan unit usaha diperkirakan mencapai sekitar 59,55 juta unit.
Angka lain yang kerap digunakan pemerintah dan berbagai lembaga berkisar antara 64 juta hingga 64,2 juta UMKM, termasuk usaha yang belum seluruhnya tercatat secara administratif.
"UMKM merupakan salah satu tulang punggung utama ekonomi Indonesia. Tantangan kita sekarang bukan hanya bagaimana membuat UMKM bertahan, tetapi bagaimana mereka bisa naik kelas dan memiliki daya saing global," ujar Budi Utama.
Usaha Mikro Mendominasi
Berdasarkan data UMKM nonpertanian pada 2025, jumlah usaha tercatat mencapai 30.209.069 unit.
Dari jumlah tersebut, usaha mikro masih mendominasi dengan jumlah sekitar 30.119.928 unit atau 99,70 persen.
Sementara itu, usaha kecil tercatat sebanyak 73.828 unit atau 0,24 persen, sedangkan usaha menengah mencapai 15.313 unit atau sekitar 0,05 persen.
Dominasi usaha mikro tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar pelaku usaha di Indonesia masih membutuhkan pendampingan agar dapat berkembang menjadi usaha kecil dan menengah.
Tiga sektor dengan jumlah UMKM terbesar adalah perdagangan yang mencapai sekitar 14,44 juta unit usaha, sektor kuliner dan akomodasi sebanyak 6,41 juta unit, serta industri pengolahan sekitar 4,17 juta unit usaha.
Menyerap Jutaan Tenaga Kerja
Selain memiliki jumlah pelaku usaha yang besar, UMKM juga memiliki peran penting dalam penyerapan tenaga kerja nasional.
Sektor UMKM disebut mampu menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja nasional atau sekitar 117 juta pekerja. Kondisi tersebut menjadikan UMKM sebagai salah satu solusi penting dalam membuka lapangan pekerjaan, khususnya di berbagai daerah.
Menurut Budi Utama, karakter UMKM yang banyak bergerak di sektor padat karya membuat usaha ini mampu memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat dengan latar belakang pendidikan dan keterampilan yang beragam.
"UMKM hadir hampir di seluruh wilayah Indonesia dan menjadi penggerak ekonomi masyarakat di tingkat lokal," katanya.
Dari sisi ekonomi, kontribusi UMKM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional disebut berada di atas 60 persen.
Selain itu, sektor UMKM dinilai memiliki fleksibilitas yang cukup tinggi dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi.
Pengalaman saat krisis ekonomi 1998 hingga masa pandemi COVID-19 menunjukkan bahwa banyak UMKM mampu bertahan melalui kemampuan beradaptasi terhadap perubahan pasar.
Pemerataan Ekonomi hingga Pelosok Daerah
Budi Utama mengatakan keberadaan UMKM juga berperan dalam mendorong pemerataan ekonomi dan membantu pengentasan kemiskinan.
Aktivitas ekonomi berbasis UMKM dapat ditemukan mulai dari warung, pasar tradisional, usaha kuliner hingga industri kerajinan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
"UMKM menggerakkan ekonomi sampai ke tingkat daerah. Karena itu, penguatan UMKM juga berarti memperkuat ekonomi masyarakat secara langsung," ujarnya.
Selain memberikan dampak ekonomi, UMKM juga memiliki peran dalam menjaga keberagaman budaya dan mendorong lahirnya inovasi berbasis potensi lokal.
Berbagai produk kuliner, kriya, fesyen hingga produk kreatif daerah menjadi bagian dari identitas ekonomi Indonesia yang memiliki peluang untuk dikembangkan ke pasar yang lebih luas.
Digitalisasi Membuka Peluang Baru
Transformasi digital menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan UMKM saat ini.
Pemanfaatan sistem pembayaran digital seperti QRIS, marketplace, e-commerce, hingga berbagai program pendampingan dinilai telah membuka akses pasar yang lebih luas bagi pelaku usaha.
Digitalisasi juga diharapkan dapat meningkatkan inklusi keuangan dan mempermudah UMKM dalam memperoleh akses pembiayaan.
"Pelaku UMKM harus mampu memanfaatkan perkembangan teknologi. Digitalisasi bukan lagi sekadar pilihan, tetapi sudah menjadi kebutuhan untuk meningkatkan daya saing," tegas Budi Utama.
Harapan UMKM Bisa Naik Kelas
Menurut Budi Utama, tantangan besar yang dihadapi Indonesia ke depan adalah mendorong UMKM agar tidak hanya bertahan, tetapi mampu berkembang dan naik kelas.
Harapan pertama adalah mendorong usaha mikro berkembang menjadi usaha kecil dan menengah melalui peningkatan kapasitas usaha.
Pelaku UMKM diharapkan memiliki legalitas yang jelas, sistem pembukuan yang baik, manajemen profesional, serta kemampuan memenuhi pesanan dalam jumlah besar.
"Kita ingin UMKM Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi benar-benar naik kelas," ungkapnya.
Harapan berikutnya adalah memperluas transformasi digital dan membuka akses UMKM ke pasar internasional.
Penggunaan QRIS, marketplace, serta perdagangan digital diharapkan dapat membantu produk-produk Indonesia memasuki pasar ASEAN maupun pasar global.
Produk kuliner, kriya, fesyen, dan berbagai produk kreatif Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk bersaing di tingkat internasional apabila didukung kualitas dan strategi pemasaran yang tepat.
Akses Permodalan Harus Lebih Mudah
Selain digitalisasi, Budi Utama menekankan pentingnya kemudahan akses pembiayaan bagi pelaku UMKM.
Menurutnya, lembaga perbankan, perusahaan pembiayaan, hingga sektor teknologi finansial harus dapat menjadi jembatan bagi pelaku usaha untuk memperoleh modal yang terjangkau.
"UMKM membutuhkan akses pembiayaan yang mudah, cepat, dan terjangkau agar mereka dapat melakukan ekspansi usaha tanpa harus terjerat pinjaman informal yang merugikan," katanya.
Ia juga berharap kontribusi UMKM terhadap perekonomian nasional terus meningkat di masa mendatang.
UMKM diharapkan semakin kuat sebagai pilar ekonomi, mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja produktif, serta menjadi salah satu benteng ekonomi Indonesia dalam menghadapi potensi krisis global.
Standarisasi Produk Harus Ditingkatkan
Budi Utama juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas dan standardisasi produk UMKM.
Ke depan, semakin banyak pelaku usaha diharapkan memiliki sertifikasi seperti izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), sertifikat halal, Standar Nasional Indonesia (SNI), maupun standar keamanan pangan lainnya sesuai dengan kebutuhan produknya.
Selain itu, peningkatan kualitas kemasan dan penguatan merek juga menjadi faktor penting agar produk UMKM Indonesia mampu bersaing dengan produk dari negara lain.
"Produk Indonesia memiliki potensi yang sangat besar. Yang harus terus kita perbaiki adalah kualitas, standardisasi, kemasan, branding, serta kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pasar global," pungkas Budi Utama.
Dengan jumlah pelaku usaha yang mencapai puluhan juta unit, UMKM diproyeksikan akan terus menjadi salah satu kekuatan utama perekonomian Indonesia. Dukungan pemerintah, lembaga keuangan, dunia usaha dan masyarakat diharapkan mampu mempercepat transformasi UMKM menuju sektor usaha yang lebih profesional, produktif, dan berdaya saing global.
Penulis: Paulus Sidik Budhiadi
Keterangan Foto:
Budi Utama, SE, MBA, LUTCF, Ketua Komite Khusus Sektor Keuangan Lembaga Kajian AstaCita.
Baca Juga
Komentar