Harga Emas Hari Ini Anjlok, Goldman Sachs Pangkas Proyeksi Akhir Tahun
JAKARTA – Harga emas dunia kembali mengalami tekanan dan mencatatkan penurunan selama tiga pekan berturut-turut. Pelemahan logam mulia ini dipicu oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS) serta sikap bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), yang masih mempertahankan kebijakan moneter ketat atau hawkish.
Pada perdagangan Jumat (19/6/2026), harga emas spot turun 1,27 persen menjadi USD4.155,40 per ons. Bahkan, harga sempat menyentuh level terendah sejak 11 Juni 2026 di posisi USD4.119,78 per ons.
Selain itu, harga emas juga masih bergerak di bawah rata-rata pergerakan 200 hari (MA-200) sejak 5 Juni lalu, yang menjadi sinyal teknikal bahwa tekanan jual masih cukup kuat di pasar.
Penguatan indeks dolar AS turut menjadi faktor yang membebani pergerakan emas. Ketika dolar menguat, harga emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain sehingga permintaan cenderung menurun.
Analis Pasar Senior Tradu.com yang dimiliki Jefferies Financial Group, Nikos Tzabouras, menilai emas masih menghadapi tantangan besar dalam jangka pendek.
“Emas menghadapi risiko penurunan lebih dalam ke wilayah bearish dan berpotensi menembus level USD4.000 per ons karena masih berada dalam lingkungan pasar yang menantang,” ujarnya.
Menurut Tzabouras, ekspektasi bahwa suku bunga The Fed akan tetap tinggi dalam waktu lebih lama menjadi sentimen negatif bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil.
“Situasi tersebut justru memberikan keuntungan bagi dolar AS sehingga menekan daya tarik emas sebagai aset investasi,” tambahnya.
The Fed Pertahankan Suku Bunga
Berdasarkan proyeksi terbaru yang dirilis pekan ini, sembilan dari 19 pejabat The Fed memperkirakan masih ada peluang kenaikan suku bunga acuan pada tahun ini.
Sementara itu, Federal Reserve memutuskan mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen.
Pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September mencapai sekitar 70 persen berdasarkan data CME FedWatch Tool.
Kondisi tersebut membuat investor lebih berhati-hati terhadap aset safe haven seperti emas.
Faktor Geopolitik Masih Jadi Perhatian
Selain kebijakan moneter, pasar juga mencermati perkembangan geopolitik global, terutama negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Rencana pertemuan antara negosiator AS dan Iran yang semula diharapkan dapat membuka jalan menuju penyelesaian konflik Timur Tengah dilaporkan batal digelar pada Jumat setelah Wakil Presiden AS JD Vance membatalkan kunjungannya ke Swiss.
Di sisi lain, kabar mengenai kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah turut memengaruhi sentimen pasar dan mengurangi minat terhadap aset lindung nilai.
Goldman Sachs Pangkas Proyeksi Harga Emas
Bank investasi Goldman Sachs juga merevisi proyeksi harga emas untuk Desember 2026 menjadi USD4.900 per ons dari sebelumnya USD5.400 per ons.
Meski demikian, Goldman Sachs masih mempertahankan pandangan positif terhadap emas dalam jangka panjang karena fundamental permintaan global dinilai tetap kuat.
Namun dalam jangka pendek, risiko koreksi harga masih terbuka seiring ketidakpastian arah kebijakan suku bunga AS dan perkembangan geopolitik dunia.
Tidak hanya emas, logam mulia lainnya juga mengalami pelemahan. Harga perak spot turun 1,1 persen menjadi USD65,11 per ons. Sementara itu, platinum melemah 1,7 persen menjadi USD1.667,14 per ons dan paladium turun 1,9 persen menjadi USD1.254,69 per ons.
Ketiga logam tersebut juga mencatatkan penurunan secara mingguan, mengikuti sentimen negatif yang masih membayangi pasar komoditas global.
Baca Juga
Komentar