Donald Trump Menghubungi Putin Cabut Sanksi Minyak Rusia di Tengah Konflik Iran, Harga Minyak Dunia Tembus USD119!
JAKARTA, 11 Maret 2026 – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi global. Lonjakan tajam harga minyak dunia akibat konflik Iran membuat pemerintah Amerika Serikat mempertimbangkan langkah tak biasa: melonggarkan bahkan mencabut sebagian sanksi terhadap minyak Rusia. Kebijakan ini disebut-sebut sebagai upaya darurat untuk menambah pasokan minyak global yang terganggu akibat konflik bersenjata di kawasan Teluk.
Langkah yang sedang dipertimbangkan pemerintahan Presiden Donald Trump tersebut memicu perhatian dunia. Di satu sisi, kebijakan itu dinilai dapat menstabilkan pasar energi global yang sedang bergejolak. Namun di sisi lain, keputusan tersebut juga berpotensi memicu kontroversi politik karena dianggap dapat membantu perekonomian Rusia di tengah konflik berkepanjangan dengan Ukraina.
Lonjakan Harga Minyak Picu Kekhawatiran Global
Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran dalam beberapa pekan terakhir telah memicu gangguan serius terhadap jalur distribusi energi dunia. Serangan balasan Iran di kawasan Teluk membuat aktivitas di Selat Hormuz nyaris terhenti.
Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi global. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati perairan sempit tersebut setiap harinya. Ketika aktivitas pengiriman terganggu, pasar energi langsung bereaksi dengan lonjakan harga yang signifikan.
Dalam beberapa hari terakhir, harga minyak mentah global melonjak hingga 8,5 persen dalam satu hari perdagangan. Bahkan dalam kurun waktu sepekan, kenaikan harga tercatat hampir mencapai 30 persen.
Pada awal pekan ini, harga minyak sempat menyentuh angka 119 dolar AS per barel, atau sekitar Rp2 juta per barel. Angka tersebut menjadi level tertinggi sejak pertengahan 2022 dan memicu kekhawatiran baru mengenai potensi krisis energi global.
Lonjakan harga tersebut terjadi setelah Presiden Trump menyatakan bahwa konflik di Timur Tengah hanya akan berakhir jika Iran menyerah tanpa syarat. Pernyataan keras tersebut memicu spekulasi bahwa konflik dapat berlangsung lebih lama dari perkiraan pasar.
Amerika Serikat Pertimbangkan Melonggarkan Sanksi Rusia
Di tengah tekanan pasar energi yang semakin tinggi, pemerintah Amerika Serikat mulai mencari berbagai cara untuk menambah pasokan minyak global.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengungkapkan bahwa pemerintah sedang menimbang kemungkinan mencabut sebagian sanksi terhadap minyak Rusia yang selama ini tertahan di laut akibat pembatasan perdagangan internasional.
Menurutnya, saat ini terdapat ratusan juta barel minyak mentah Rusia yang tidak dapat masuk ke pasar karena terkena sanksi. Jika pembatasan tersebut dicabut sementara, pasokan minyak global dapat meningkat dengan cepat dan membantu menurunkan harga energi.
“Pada dasarnya dengan mencabut sanksi tersebut, Departemen Keuangan dapat menciptakan tambahan pasokan minyak ke pasar global,” ujarnya dalam wawancara dengan media ekonomi Amerika.
Meski demikian, Washington menegaskan bahwa kebijakan tersebut tidak berarti melonggarkan tekanan terhadap Rusia terkait perang di Ukraina. Pemerintah Amerika Serikat hanya mempertimbangkan pengecualian terbatas terhadap kargo minyak yang sudah berada dalam perjalanan atau tertahan di laut.
Langkah ini dipandang sebagai strategi darurat untuk menenangkan pasar energi yang sedang bergejolak akibat konflik di Timur Tengah.
India Sudah Mendapat Pengecualian
Sebagai langkah awal, pemerintah Amerika Serikat telah memberikan pengecualian sementara kepada India untuk membeli minyak Rusia yang sebelumnya tertahan akibat sanksi internasional.
Kebijakan ini berlaku hingga 3 April 2026 dan mencakup sejumlah kargo minyak yang diangkut kapal yang terkena berbagai rezim sanksi. Tujuan utama kebijakan tersebut adalah membantu negara-negara yang terdampak kekurangan pasokan minyak akibat konflik Iran.
India selama ini dikenal sebagai salah satu importir minyak terbesar di dunia. Ketika pasokan dari Timur Tengah terganggu, negara tersebut menjadi salah satu pihak yang paling terdampak oleh lonjakan harga energi.
Dengan memberikan pengecualian sementara, pemerintah Amerika Serikat berharap dapat menjaga stabilitas pasokan energi global sekaligus menghindari lonjakan harga yang lebih ekstrem.
Kekhawatiran Gedung Putih terhadap Dampak Ekonomi
Di balik kebijakan tersebut, Gedung Putih juga menghadapi tekanan ekonomi domestik yang tidak kecil.
Lonjakan harga minyak dunia secara langsung berdampak pada harga bahan bakar di Amerika Serikat. Kenaikan harga bensin dapat memicu inflasi, meningkatkan biaya transportasi, serta menekan daya beli masyarakat.
Situasi ini menjadi semakin sensitif karena Amerika Serikat akan menghadapi pemilu paruh waktu pada November mendatang. Lonjakan harga energi berpotensi memengaruhi persepsi publik terhadap kebijakan ekonomi pemerintah.
Beberapa sumber di Washington menyebutkan bahwa pemerintah juga sedang mempertimbangkan opsi lain untuk menekan harga energi, termasuk melepas cadangan minyak strategis nasional.
Menteri Energi AS Chris Wright sebelumnya mengonfirmasi bahwa opsi pelepasan cadangan minyak strategis sedang dibahas bersama negara-negara anggota G7. Namun hingga kini belum ada keputusan resmi mengenai langkah tersebut.
Pilihan Pemerintah AS Dinilai Terbatas
Para analis energi global menilai bahwa pemerintah Amerika Serikat memiliki pilihan yang relatif terbatas untuk menurunkan harga minyak dalam waktu cepat.
Selama jalur distribusi energi di Selat Hormuz masih terganggu, pasar minyak global akan terus mengalami tekanan. Ketergantungan dunia terhadap pasokan minyak dari Timur Tengah membuat konflik di kawasan tersebut selalu berdampak besar terhadap stabilitas energi global.
Selain itu, permintaan energi global yang terus meningkat pascapandemi juga mempersempit ruang manuver pemerintah untuk menstabilkan harga.
Banyak analis memperkirakan bahwa volatilitas harga minyak akan tetap tinggi selama konflik di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Respons Donald Trump
Meski harga energi melonjak tajam, Presiden Trump mencoba meredam kekhawatiran publik.
Dalam unggahan di platform media sosialnya, Truth Social, Trump menyatakan bahwa lonjakan harga minyak hanya bersifat sementara.
Menurutnya, kenaikan harga energi merupakan konsekuensi yang harus diterima dalam menghadapi konflik geopolitik yang lebih besar.
Ia bahkan menyebut lonjakan harga tersebut sebagai “harga kecil” yang harus dibayar oleh Amerika Serikat dalam menghadapi situasi global saat ini.
Trump juga menegaskan bahwa dirinya yakin dampak jangka panjang konflik Iran justru akan menghasilkan harga energi yang lebih rendah bagi konsumen Amerika.
Dampak Global yang Sulit Diprediksi
Ketegangan geopolitik yang melibatkan kekuatan besar dunia selalu membawa dampak luas bagi perekonomian global. Pasar energi, pasar keuangan, hingga stabilitas ekonomi negara-negara berkembang bisa ikut terguncang.
Jika harga minyak terus bertahan di level tinggi, banyak negara berpotensi menghadapi tekanan inflasi baru. Bagi negara importir energi, kenaikan harga minyak dapat memperlebar defisit perdagangan sekaligus meningkatkan beban subsidi energi.
Sementara bagi negara produsen minyak, lonjakan harga energi justru dapat meningkatkan pendapatan ekspor.
Pertanyaannya kini, apakah langkah Amerika Serikat melonggarkan sanksi minyak Rusia benar-benar mampu menenangkan pasar energi global?
Atau justru kebijakan tersebut akan membuka babak baru dalam dinamika geopolitik dan ekonomi dunia yang semakin kompleks.
Yang pasti, dunia kini kembali menaruh perhatian besar pada satu hal: stabilitas energi global di tengah konflik geopolitik yang belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.
Baca Juga
Komentar