Pengunduran Direktur BEKS Picu Sorotan: Laba Naik, Saham Anjlok dan Dugaan Gorengan Mencuat
JAKARTA – PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (BEKS) kembali menjadi sorotan setelah mengumumkan pengunduran diri Bambang Widyatmoko dari posisi Direktur Bisnis Perseroan. Informasi tersebut disampaikan melalui keterbukaan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) dan dinyatakan telah diterima manajemen pada 19 November 2025.
Dalam dokumen resmi yang ditandatangani Direktur Utama Bank Banten Muhammad Busthami, perseroan menyebutkan bahwa pengunduran diri tersebut merupakan keputusan pribadi direktur bersangkutan. Rencana pengesahan pemberhentian baru akan diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham sesuai ketentuan perundang-undangan.
Manajemen Bank Banten memastikan bahwa mundurnya Bambang tidak memberikan dampak material terhadap operasional, hukum, maupun kondisi keuangan perusahaan. “Tidak ada dampak signifikan terhadap kelangsungan usaha perseroan,” demikian pernyataan resmi yang disampaikan perusahaan.
Namun di luar pernyataan resmi, keputusan mendadak seorang direktur kembali memicu pertanyaan di kalangan pelaku pasar. Bank Banten adalah salah satu emiten yang selama bertahun-tahun berada dalam tekanan kinerja dan kontroversi tata kelola.
Di saat manajemen mengumumkan pergantian direksi, Bank Banten juga merilis laporan keuangan kuartal III/2025 yang menunjukkan laba bersih sebesar Rp10,7 miliar. Kenaikan itu disebut tumbuh 43,34 persen dibandingkan periode tahun sebelumnya, sebagaimana diberitakan Infobanknews.
Manajemen mengklaim lonjakan laba tersebut berasal dari efisiensi biaya operasional serta kenaikan pendapatan bunga bersih. Pemerintah Provinsi Banten sebagai pemegang saham pengendali juga disebut telah memberikan dukungan tambahan melalui penyertaan modal dan inbreng aset.
Meski demikian, pasar modal justru menunjukkan reaksi yang berlawanan. Saham BEKS anjlok ke level Rp27, turun jauh dari titik tertingginya beberapa pekan sebelumnya yang mencapai Rp34. Data perdagangan yang diunggah melalui sistem informasi emiten Indopremier/IPOTNews memperkuat tren penurunan tersebut.
Seorang analis pasar modal menilai bahwa pola kenaikan cepat lalu kejatuhan mendadak pada saham BEKS lebih mencerminkan aktivitas spekulatif ketimbang respons wajar terhadap fundamental. “Ini tidak normal. Terlalu banyak lonjakan tiba-tiba yang tidak sejalan dengan kinerja perusahaan,” ujarnya.
Beberapa investor ritel bahkan menyebut pola pergerakan saham BEKS sebagai fenomena lama yang berulang. “Setiap ada kabar laba, saham diangkat dulu. Setelah itu langsung dilepas. Ini bukan hal baru,” kata seorang investor dari Bekasi.
Selama bertahun-tahun, Bank Banten menghadapi tantangan besar mulai dari likuiditas, permodalan, hingga kasus tata kelola. Salah satu kasus yang masih menjadi bayang-bayang adalah pembobolan dana nasabah senilai Rp6,1 miliar oleh oknum internal.
Seorang akademisi ekonomi menilai peristiwa itu menunjukkan lemahnya pengawasan internal Bank Banten. “Kalau orang dalam saja bisa membobol rekening, bagaimana publik bisa menaruh kepercayaan?” kritiknya.
Regulator seperti OJK dan BEI juga tidak luput dari sorotan. Pelaku pasar menilai kedua lembaga itu terlalu longgar dalam mengawasi emiten bermasalah yang terus dibiarkan melantai. “Sudah lama bermasalah, tapi tidak ada tindakan tegas. Ini menciptakan preseden buruk,” ujar seorang pengamat pasar modal.
Wacana delisting kembali muncul sebagai opsi ekstrem untuk melindungi investor ritel. Namun pemerintah daerah dinilai masih enggan mengambil langkah tersebut dan memilih mempertahankan BEKS melalui penambahan modal berulang.
Beberapa analis menilai bahwa laba Rp10,7 miliar yang dirilis Bank Banten tidak sebanding dengan jumlah modal yang telah digelontorkan pemerintah daerah sejauh ini. Mereka menyebutkan angka tersebut lebih mencerminkan perbaikan jangka pendek, bukan pemulihan fundamental.
“Laba itu lebih mirip kosmetik. Tidak menunjukkan perubahan yang signifikan dalam model bisnis bank,” kata seorang analis keuangan di Jakarta.
Kelesuan saham BEKS yang bertahan di kisaran Rp26–27 memperkuat dugaan bahwa pasar belum percaya pada narasi kebangkitan Bank Banten. Ketidaksinkronan antara klaim perbaikan kinerja dan reaksi pasar mempertegas dugaan adanya permainan spekulan.
Saham BEKS juga kerap disandingkan dengan saham-saham berisiko tinggi lain seperti IPPE yang sering disebut investor sebagai “saham gorengan”. Banyak investor ritel mempertanyakan komitmen regulator terhadap transparansi dan stabilitas pasar.
“Semua diam seribu bahasa. Yang rugi tetap investor kecil,” keluh seorang trader yang mengamati BEKS dan IPPE dalam beberapa bulan terakhir.
Bagi banyak investor, BEKS kini menjadi simbol bahwa tidak semua kenaikan harga saham menggambarkan kesehatan perusahaan. Di tengah pergantian direksi yang tiba-tiba dan volatilitas harga yang ekstrem, kepercayaan publik terhadap Bank Banten masih jauh dari pulih.
Baca Juga
Komentar