Musim Dividen Jumbo 2026 Dimulai! Saham Bank BCA, BRI, Mandiri hingga BNI Siap Tebar Cuan Puluhan Triliun
Jakarta - Musim Dividen Jumbo Mengguncang Bursa Efek Indonesia
Musim pembagian dividen besar kembali menggairahkan pasar modal Indonesia pada Maret 2026. Sejumlah emiten perbankan besar di Bursa Efek Indonesia mulai menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) untuk menetapkan pembagian laba kepada investor.
Momentum ini selalu menjadi perhatian pelaku pasar karena dividen dari saham perbankan biasanya bernilai sangat besar. Bahkan pada tahun ini, total dividen yang berpotensi dibagikan sejumlah bank nasional diperkirakan mencapai lebih dari Rp150 triliun.
Bagi investor, musim dividen bukan hanya soal pembagian laba, tetapi juga peluang meraih imbal hasil tinggi melalui strategi investasi yang dikenal sebagai dividend play.
BNI Buka Musim Dividen 2026
Bank pertama yang membuka musim pembagian dividen tahun ini adalah BBNI atau PT Bank Negara Indonesia Tbk.
Dalam RUPST yang digelar pada 9 Maret 2026, pemegang saham menyetujui pembagian dividen final sebesar Rp349,41 per saham.
Total dividen yang dibagikan mencapai Rp13,03 triliun atau sekitar 65 persen dari laba bersih konsolidasian perusahaan yang tercatat sebesar Rp20,04 triliun sepanjang tahun buku 2025.
Pada perdagangan saham 12 Maret 2026, harga saham BBNI berada di level Rp4.280 per saham. Dengan harga tersebut, dividend yield yang ditawarkan mencapai sekitar 8,16 persen.
Angka ini hampir tiga kali lipat dibandingkan rata-rata bunga deposito rupiah yang ditawarkan oleh Bank Negara Indonesia.
Meski demikian, nilai dividen tahun ini sedikit lebih kecil dibandingkan tahun sebelumnya karena laba bersih perseroan mengalami penurunan sekitar 6,6 persen secara tahunan.
BCA Catat Dividen Terbesar Sepanjang Sejarah
Sementara itu, BBCA kembali menunjukkan dominasinya sebagai bank swasta terbesar di Indonesia.
Dalam RUPST yang digelar pada 12 Maret 2026, pemegang saham menyetujui pembagian dividen sebesar Rp336 per saham.
Total dividen yang dibagikan mencapai Rp41,4 triliun atau setara dengan 72 persen dari laba bersih perusahaan pada tahun buku 2025.
Angka tersebut menjadi dividend payout ratio (DPR) tertinggi dalam sejarah perusahaan.
Secara historis, BCA biasanya membagikan dividen dengan rasio sekitar 67 hingga 70 persen dari laba bersih.
Sebagai perbandingan, pada tahun buku 2024 BCA membagikan dividen sebesar Rp36,98 triliun dengan DPR 67,4 persen.
Tidak hanya itu, BCA juga berencana meningkatkan frekuensi pembagian dividen mulai tahun buku 2026.
Bank tersebut berencana membagikan dividen interim hingga tiga kali dalam setahun, yang akan dilakukan setiap kuartal.
Langkah ini dinilai semakin memperkuat daya tarik saham BCA di mata investor.
BRI Berpotensi Bagikan Dividen Terbesar
Selain BNI dan BCA, perhatian investor juga tertuju pada BBRI yang dijadwalkan menggelar RUPST pada 10 April 2026.
Direktur Utama BRI Herry Gunardi sebelumnya menyatakan perusahaan membuka peluang untuk meningkatkan dividend payout ratio.
Sepanjang tahun 2025, BRI mencatatkan laba bersih sebesar Rp57,13 triliun.
Jika perusahaan memutuskan mempertahankan atau bahkan meningkatkan DPR dari level historis sekitar 86 persen, maka total dividen yang dibagikan berpotensi melampaui Rp49 triliun.
Hal ini menjadikan BRI sebagai salah satu emiten dengan potensi dividen terbesar di pasar saham Indonesia.
Bank Mandiri Tak Mau Ketinggalan
Emiten perbankan lain yang juga dinantikan investor adalah BMRI.
Bank terbesar di Indonesia dari sisi aset ini memang belum mengumumkan jadwal RUPST tahun buku 2025.
Namun Direktur Utama Bank Mandiri Riduan menyatakan bahwa dividend payout ratio kemungkinan tidak akan jauh berbeda dari tahun sebelumnya.
Pada tahun buku 2024, Bank Mandiri membagikan dividen dengan DPR sekitar 78 persen.
Dengan laba bersih 2025 yang mencapai Rp56,3 triliun, total dividen yang berpotensi dibagikan diperkirakan mencapai sekitar Rp43,9 triliun.
Jika dihitung per saham, investor berpeluang menerima dividen sekitar Rp472 per lembar saham.
BTN dan Permata Bank Siapkan Dividen Stabil
Dari kelompok bank bermodal inti besar lainnya, BBTN juga berencana membagikan dividen kepada pemegang saham.
Direktur Utama BTN Nixon Napitupulu menyatakan perusahaan sedang mempertimbangkan peningkatan dividend payout ratio.
Sepanjang 2025, BTN mencatat laba bersih Rp3,5 triliun atau tumbuh 16,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Jika DPR berada di kisaran 25 hingga 30 persen, maka total dividen yang berpotensi dibagikan mencapai sekitar Rp875 miliar hingga Rp1,05 triliun.
Sementara itu BNLI dijadwalkan menggelar RUPST pada 7 April 2026.
Bank ini dikenal konsisten membagikan dividen dengan rasio sekitar 30 persen dari laba bersih.
Pada tahun buku 2025, laba bersih Bank Permata tercatat Rp3,59 triliun.
Jika DPR tetap di kisaran 30 persen, maka total dividen yang berpotensi dibagikan mencapai sekitar Rp1,08 triliun.
Strategi Dividend Play Kembali Dilirik
Menurut Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia Muhammad Wafi, konsistensi dividend payout ratio yang tinggi menjadi daya tarik utama saham perbankan di pasar modal Indonesia.
Meskipun beberapa bank mengalami penurunan laba, komitmen membagikan dividen tetap menunjukkan kekuatan fundamental perusahaan.
“Itu mencerminkan struktur modal yang solid dan komitmen kuat terhadap pemegang saham,” ujarnya.
Strategi investasi berbasis dividen atau dividend play kini kembali dilirik oleh investor ritel maupun institusi.
Strategi ini biasanya dilakukan dengan membeli saham sebelum tanggal cum dividen untuk mendapatkan hak pembagian laba.
Namun para analis mengingatkan bahwa investor tetap harus memperhatikan prospek bisnis perusahaan dalam jangka panjang.
Dividen Tetap Jadi Daya Tarik Pasar Modal
Musim dividen selalu menjadi salah satu momentum paling dinantikan di pasar saham Indonesia.
Selain memberikan tambahan pendapatan bagi investor, pembagian dividen juga mencerminkan kesehatan keuangan perusahaan.
Bagi sektor perbankan, konsistensi dalam membagikan dividen menunjukkan kekuatan modal serta stabilitas kinerja bisnis.
Dengan nilai pembagian dividen yang mencapai puluhan triliun rupiah, saham perbankan tetap menjadi primadona bagi investor yang mencari kombinasi antara pertumbuhan dan pendapatan pasif.
Jika tren ini berlanjut, tahun 2026 berpotensi menjadi salah satu musim dividen terbesar dalam sejarah pasar modal Indonesia.
Baca Juga
Komentar