Laba BEKS Naik Tapi Saham Anjlok: Investor Curiga, OJK–BEI Dinilai Tak Peduli
Jakarta -- PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (Bank Banten/BEKS) melaporkan laba bersih sebesar Rp10,7 miliar per kuartal III/2025. Data ini tercantum dalam laporan keuangan yang dirilis ke publik, sebagaimana juga dilaporkan oleh Infobanknews yang menyebut laba BEKS melonjak 43,34 persen dibanding tahun sebelumnya.
Manajemen menjelaskan bahwa kenaikan laba tersebut ditopang efisiensi biaya operasional serta peningkatan pendapatan bunga bersih. Pemerintah Provinsi Banten sebagai pemegang saham pengendali turut memberikan tambahan dukungan berupa penyertaan modal dan inbreng aset.
Namun di pasar modal, kabar positif itu tidak serta-merta membangkitkan optimisme. Saham BEKS justru melemah ke level Rp27 setelah sebelumnya sempat naik ke Rp34 beberapa pekan lalu. Data perdagangan tersebut juga dikonfirmasi dalam laporan ringkas yang diunggah melalui sistem informasi emiten dan pemberitaan pasar modal Indopremier/IPOTNews.
Pergerakan harga yang naik tiba-tiba kemudian jatuh dalam waktu singkat memunculkan kecurigaan di kalangan pelaku pasar. Seorang analis menilai pola tersebut lebih menunjukkan aktivitas spekulan daripada respons normal pasar terhadap fundamental.
“Lonjakan cepat dan turun mendadak itu tidak mencerminkan kondisi perusahaan sebenarnya. Ini mirip permainan pihak tertentu,” ujar seorang analis pasar modal kepada Pena Insight.
Beberapa investor ritel mengaku tidak terkejut dengan pola tersebut. “Sudah sering begitu. Begitu ada kabar laba, langsung dipoles seolah ini kebangkitan. Padahal fundamentalnya tidak berubah,” ungkap seorang investor ritel di Bekasi.
Sejak diambil alih pemerintah daerah, Bank Banten kerap menjadi sorotan karena deretan masalah jangka panjangnya. Berbagai aksi korporasi seperti rights issue hingga suntikan modal dilakukan berkali-kali, namun kinerja keuangan bank ini tetap belum stabil.
Masalah tata kelola internal juga masih membayangi reputasi BEKS. Kasus pembobolan dana nasabah oleh karyawan sendiri senilai Rp6,1 miliar beberapa tahun lalu dianggap sebagai bukti lemahnya pengawasan.
“Kalau orang dalam saja bisa bobol rekening, bagaimana masyarakat bisa percaya?” kritik seorang akademisi ekonomi Universitas Nasional.
Regulator juga ikut disorot. OJK dan BEI dinilai terlalu longgar terhadap emiten yang terus menerus bermasalah. Seorang pengamat pasar modal menyatakan bahwa pembiaran seperti ini membuat integritas pasar dipertanyakan.
“Sudah bertahun-tahun bermasalah tapi tidak ada tindakan tegas. BEKS tetap dibiarkan melantai. Ini preseden buruk,” ujarnya.
Kini wacana delisting kembali mencuat sebagai opsi ekstrem untuk melindungi investor ritel dan membersihkan pasar modal dari emiten bermasalah. Namun pemerintah daerah masih bersikeras mempertahankan BEKS melalui perbaikan bertahap dan penyuntikan modal tambahan.
Publik menilai langkah tersebut tidak cukup. “Masalah BEKS bukan sekadar modal, tetapi budaya transparansi dan profesionalitas. Kalau dua hal itu tidak berubah, tambahan dana hanya jadi tambal sulam,” ungkap seorang analis perbankan di Jakarta.
Laba Rp10,7 miliar yang dilaporkan bank juga dinilai belum sebanding dengan besarnya modal yang telah disuntikkan oleh pemerintah daerah selama bertahun-tahun. Beberapa analis menyebut laporan laba itu lebih mencerminkan efisiensi sementara, bukan pemulihan kesehatan finansial.
“Itu angka kosmetik. Tidak menunjukkan pemulihan fundamental,” ujar seorang pengamat keuangan.
Saham BEKS yang kini stagnan di sekitar Rp26–27 dianggap sebagai bukti bahwa pasar belum percaya pada narasi kebangkitan Bank Banten. Kinerja yang tidak sejalan dengan pergerakan saham memperkuat dugaan permainan spekulatif.
Fenomena BEKS kembali menjadi contoh betapa lemahnya pengawasan pasar modal Indonesia, terutama terhadap saham-saham yang dikenal sebagai “gorengan”.
Bersamaan dengan BEKS, sejumlah saham lain seperti IPPE juga kerap disebut investor sebagai saham “gorengan busuk” yang merugikan investor ritel. Banyak yang mempertanyakan ke mana arah pengawasan OJK, BEI, dan BEJ ketika saham-saham ini bergerak liar tanpa transparansi.
“Semua diam seribu bahasa. Yang rugi tetap investor kecil,” keluh seorang trader ritel yang sudah lama memantau pergerakan BEKS dan IPPE.
Bagi investor ritel, BEKS bukan sekadar saham, melainkan pengingat bahwa tidak semua kenaikan harga di layar bursa mencerminkan pertumbuhan nyata perusahaan di lapangan.
Baca Juga
Komentar