Kondisi Darurat Energi, Iran Hentikan Total Ekspor Gas ke Irak, Listrik Terancam Defisit
Iran menghentikan secara total ekspor gas alam ke Irak, memicu kondisi darurat energi di negara tersebut. Langkah ini langsung menekan pasokan listrik nasional Irak yang selama ini sangat bergantung pada gas impor dari Teheran.
Penghentian ekspor gas tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan persoalan pembayaran, sekaligus menandai fase paling kritis dalam hubungan energi kedua negara dalam beberapa tahun terakhir.
Sebelumnya, Irak mendapatkan keringanan sanksi dari Amerika Serikat untuk tetap mengimpor gas Iran. Keringanan ini pertama kali diberlakukan pada 2018 dan terus diperpanjang, baik pada masa pemerintahan Presiden Donald Trump maupun Presiden Joe Biden.
Kebijakan tersebut bertujuan memberi waktu bagi Irak untuk melakukan diversifikasi sumber energi serta mengurangi ketergantungan pada pasokan gas dari Iran secara bertahap.
Namun, hingga kini ketergantungan tersebut masih tinggi. Irak tercatat mengandalkan gas Iran untuk sekitar 30 hingga 40 persen kebutuhan pembangkit listrik nasionalnya.
Volume impor gas dari Iran mencapai sekitar 50 juta meter kubik per hari, dengan nilai transaksi diperkirakan berada di kisaran USD4–5 miliar per tahun.
Di sisi lain, kebutuhan listrik Irak terus meningkat. Saat beban puncak, kebutuhan listrik nasional kerap melampaui 50.000 megawatt.
Sayangnya, kapasitas produksi listrik dalam negeri Irak masih terbatas, yakni berada di kisaran 27.000 megawatt. Selisih besar antara kebutuhan dan pasokan ini membuat sistem kelistrikan Irak sangat rentan.
Dengan dihentikannya pasokan gas Iran, risiko pemadaman listrik meluas semakin besar, terutama menjelang periode konsumsi tinggi.
Pemerintah Irak menyatakan telah mengaktifkan rencana darurat untuk menjaga stabilitas pasokan listrik. Salah satu langkah yang diambil adalah beralih ke bahan bakar alternatif yang diproduksi di dalam negeri.
Selain itu, Irak juga membuka opsi impor energi dari negara lain guna menutup kekurangan pasokan gas dalam jangka pendek.
Namun, upaya tersebut dinilai tidak mudah dan membutuhkan waktu. Infrastruktur pembangkit listrik Irak selama ini dirancang untuk menggunakan gas, sehingga konversi bahan bakar berpotensi menurunkan efisiensi.
Tekanan pada sektor energi Irak tidak hanya datang dari sisi pasokan. Faktor keamanan juga menjadi tantangan serius dalam menjaga keberlanjutan produksi dan distribusi energi.
Pada November lalu, ladang gas Khor Mor di wilayah utara Irak menjadi sasaran serangan roket. Insiden tersebut memangkas sekitar 3.000 megawatt pasokan listrik regional.
Kombinasi gangguan keamanan, keterbatasan produksi, dan ketergantungan impor memperburuk ketahanan energi Irak di tengah situasi geopolitik yang belum stabil.
Penghentian ekspor gas Iran ini diperkirakan akan berdampak luas, tidak hanya pada sektor kelistrikan, tetapi juga pada stabilitas ekonomi dan sosial Irak.
Dalam jangka menengah, tekanan ini diprediksi akan mempercepat upaya Irak mencari sumber energi alternatif, termasuk meningkatkan produksi gas domestik dan memperluas kerja sama energi dengan negara lain.
Namun dalam jangka pendek, Irak menghadapi tantangan berat untuk menjaga pasokan listrik tetap stabil di tengah kondisi darurat energi yang kian kompleks.
Baca Juga
Komentar