Emiten Keluarga Sri Tahir Masih Rugi, Tapi Pendapatan MPRO Melonjak 53 Persen, Ini Fakta Terbarunya
JAKARTA – Kinerja terbaru PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) pada Semester I 2026 menghadirkan dua cerita yang berbeda. Di satu sisi, emiten properti milik keluarga konglomerat Sri Tahir masih membukukan rugi bersih. Namun di sisi lain, pendapatan perusahaan justru melonjak lebih dari 53 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Laporan keuangan terbaru yang dirilis perseroan menunjukkan adanya perbaikan operasional meski tekanan pada sektor properti nasional masih terasa. Fakta tersebut menjadi perhatian investor karena MPRO juga baru terungkap menjadi salah satu emiten dengan High Share Concentration (HSC) tertinggi di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Perkembangan terbaru ini memunculkan pertanyaan besar di kalangan pelaku pasar: apakah MPRO sedang berada dalam fase pemulihan atau justru masih menghadapi tantangan berat?
Pendapatan MPRO Melonjak Tajam
Laporan keuangan per 30 Juni 2026 mencatat pendapatan MPRO mencapai Rp3,15 miliar, naik 53,65 persen dibandingkan Semester I 2025 yang sebesar Rp2,05 miliar.
Lonjakan tersebut menunjukkan aktivitas bisnis perusahaan mulai bergerak positif setelah beberapa periode menghadapi perlambatan penjualan properti.
Namun peningkatan pendapatan tersebut belum mampu sepenuhnya mengangkat laba bersih perusahaan.
Beban pokok penjualan dan beban langsung ikut meningkat menjadi Rp2,10 miliar, dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp1,59 miliar.
Meski demikian, laba kotor berhasil melonjak signifikan menjadi Rp1,05 miliar, meningkat sekitar 128,26 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya Rp467,28 juta.
Rugi Bersih Masih Terjadi
Di balik kenaikan pendapatan, MPRO masih mencatatkan rugi bersih.
Perseroan membukukan rugi bersih sebesar Rp16,21 miliar, membaik dibandingkan rugi Rp20,58 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Artinya, kerugian berhasil ditekan sekitar 21,23 persen.
Perbaikan tersebut juga tercermin pada rugi per saham dasar yang turun menjadi Rp0,00163 dari sebelumnya Rp0,00207.
Walaupun masih mencatatkan angka negatif, penyusutan rugi menunjukkan adanya efisiensi yang mulai dilakukan manajemen.
Efisiensi Operasional Mulai Terlihat
Perbaikan kinerja juga tampak dari sisi pengeluaran operasional.
Beban penjualan turun menjadi Rp276,49 juta, dibandingkan sebelumnya Rp354,74 juta.
Sementara itu, beban umum dan administrasi berhasil ditekan cukup signifikan menjadi Rp7,24 miliar, dari sebelumnya mencapai Rp10,87 miliar.
Pendapatan lain-lain meningkat menjadi Rp201,90 juta.
Sebaliknya, beban lain-lain sedikit meningkat menjadi Rp220,10 juta.
Beban pajak juga naik menjadi Rp81,70 juta.
Hasil efisiensi tersebut membuat rugi usaha menyusut drastis menjadi sekitar Rp6,57 miliar, jauh lebih rendah dibandingkan rugi usaha tahun sebelumnya yang mencapai Rp10,85 miliar.
Beban Keuangan Masih Menjadi Tantangan
Salah satu faktor utama yang masih menekan laba bersih MPRO berasal dari tingginya beban keuangan.
Pendapatan keuangan tercatat sebesar Rp169,25 juta.
Sementara beban keuangan masih mencapai Rp9,80 miliar, meski sedikit lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp9,92 miliar.
Besarnya biaya bunga tersebut masih menjadi tantangan utama yang menghambat percepatan pemulihan laba perusahaan.
Kondisi Neraca Perusahaan
Dari sisi posisi keuangan, total aset MPRO tercatat sebesar Rp1,66 triliun, sedikit turun dibandingkan akhir 2025 yang mencapai Rp1,67 triliun.
Jumlah liabilitas meningkat menjadi Rp499,01 miliar dari sebelumnya Rp489,74 miliar.
Ekuitas perusahaan sedikit menurun menjadi Rp1,17 triliun.
Sementara defisit meningkat menjadi Rp228,17 miliar, dibandingkan akhir tahun lalu sebesar Rp211,96 miliar.
Data tersebut menunjukkan perusahaan masih memiliki pekerjaan rumah untuk memperbaiki struktur keuangannya.
Terungkap Jadi Jawara High Share Concentration BEI
Fakta menarik lainnya datang dari publikasi terbaru Bursa Efek Indonesia.
MPRO kini menjadi emiten dengan High Share Concentration (HSC) tertinggi.
Sebanyak 99,99 persen saham perusahaan tercatat dikuasai kelompok pemegang saham utama.
Posisi tersebut menggeser Rockfields Properti Indonesia (ROCK) yang sebelumnya menjadi emiten dengan konsentrasi kepemilikan saham tertinggi.
Di bawah MPRO terdapat beberapa emiten lain seperti:
-
DCI Indonesia (DCII)
-
Krom Bank (BBSI)
-
Pradiksi Gunatama (PGUN)
-
Golden Flower (POLU)
-
Soho Global Health (SOHO)
-
Bank Permata (BNLI)
-
Yupi Indo Jelly Gum (YUPI)
Konsentrasi kepemilikan saham yang sangat tinggi menjadi perhatian investor karena jumlah saham yang beredar di publik relatif sangat kecil.
Kondisi tersebut dapat memengaruhi tingkat likuiditas perdagangan saham di pasar.
Sri Tahir Sempat Mengurangi Kepemilikan Saham
Di tengah tingginya konsentrasi kepemilikan saham, pengendali MPRO, Sri Tahir, diketahui sempat melakukan aksi korporasi.
Pada 9 Juni 2026, Sri Tahir melepas sekitar 26,14 juta lembar saham MPRO.
Langkah tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena dilakukan saat perusahaan masih berada dalam fase restrukturisasi kinerja.
Meski demikian, kepemilikan kelompok pengendali tetap mendominasi struktur saham perseroan.
Prospek MPRO Masih Menunggu Pemulihan Properti
Analis menilai keberhasilan meningkatkan pendapatan menjadi sinyal positif.
Namun perusahaan masih harus membuktikan bahwa kenaikan penjualan mampu diterjemahkan menjadi laba yang berkelanjutan.
Pasar properti Indonesia sendiri diperkirakan mulai membaik seiring meningkatnya aktivitas investasi dan pembangunan infrastruktur di sejumlah wilayah, termasuk Jakarta, Bekasi, dan kota-kota penyangga lainnya.
Apabila efisiensi biaya terus berjalan dan penjualan proyek meningkat pada semester kedua, peluang MPRO memperkecil kerugian terbuka cukup besar.
Namun investor tetap diminta mencermati perkembangan beban keuangan, arus kas operasional, serta strategi perusahaan dalam memperbaiki profitabilitas.
Laporan Semester I 2026 memperlihatkan bahwa MPRO mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan melalui lonjakan pendapatan lebih dari 53 persen dan penyusutan rugi bersih hingga 21 persen.
Meski demikian, perusahaan masih menghadapi tantangan berupa tingginya beban keuangan dan belum mampu membalikkan kondisi menjadi laba.
Di sisi lain, status MPRO sebagai emiten dengan konsentrasi kepemilikan saham tertinggi di BEI menjadi fakta baru yang ikut menarik perhatian investor.
Semester kedua 2026 akan menjadi periode penting untuk membuktikan apakah strategi efisiensi dan peningkatan penjualan mampu membawa perusahaan keluar dari tekanan kinerja yang masih berlangsung.
Baca Juga
Komentar