BRMS Kantongi Pinjaman US$ 625 Juta Usai Masuk Indeks MSCI Global, Ekspansi Tambang Dikebut
Jakarta - PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mengumumkan langkah strategis baru usai resmi masuk ke dalam Indeks MSCI Global Standard yang berlaku mulai Selasa (25/11/2025). Emiten pertambangan itu kini mengamankan fasilitas pinjaman jangka panjang senilai US$ 625 juta untuk mempercepat ekspansi bisnisnya.
Penandatanganan fasilitas pembiayaan dilakukan bersama sindikasi bank yang terdiri dari Bangkok Bank, Bank Permata, Bank Mega, dan BCA. Pendanaan ini disebut sebagai fondasi baru untuk memperkuat operasi jangka panjang BRMS di sektor emas dan mineral dasar.
BRMS menjelaskan bahwa fasilitas tersebut terbagi menjadi dua komponen utama, yakni US$ 425 juta untuk anak usaha PT Citra Palu Minerals (CPM) dan US$ 200 juta untuk BRMS sebagai entitas induk. Kedua fasilitas digunakan untuk pembangunan tambang emas bawah tanah, peningkatan kapasitas pabrik, serta kegiatan eksplorasi.
Chief Financial Officer & Direktur BRMS, Charles Gobel, menyampaikan bahwa fasilitas ini memiliki tenor yang cukup panjang. “Fasilitas pinjaman tersebut memiliki jangka waktu enam tahun, termasuk masa tenggang sekitar sepuluh bulan. Pinjaman ini akan jatuh tempo pada 31 Desember 2031,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (24/11/2025).
Pada CPM, porsi pendanaan terbesar diarahkan untuk penyelesaian konstruksi tambang emas bawah tanah di Palu. Proyek ini menjadi prioritas utama karena diproyeksikan menopang lompatan kapasitas produksi perusahaan.
Fasilitas itu juga dialokasikan untuk peningkatan kapasitas pabrik emas Carbon In Leach (CIL), dari sebelumnya 500 ton bijih per hari menjadi 2.000 ton per hari. Peningkatan empat kali lipat ini ditargetkan rampung pada kuartal IV-2026.
Direktur Utama BRMS, Agus Projosasmito, menegaskan bahwa pembiayaan tersebut merupakan bagian dari strategi transformasi perusahaan. “Pinjaman ini diperlukan untuk mendanai peningkatan kapasitas pemrosesan pabrik emas kami di Palu dari 500 ton menjadi 2.000 ton per hari yang akan selesai pada Oktober 2026,” ujarnya.
Dengan peningkatan kapasitas itu, produksi emas diperkirakan mulai melonjak pada kuartal IV-2026. Agus menambahkan bahwa konstruksi tambang bawah tanah yang ditargetkan selesai semester kedua 2027 menjadi kunci pertumbuhan selanjutnya.
“Tambang emas bawah tanah tersebut memiliki kadar emas tinggi sekitar 4,9 g/t. Ini akan mendorong peningkatan produksi emas secara signifikan pada 2027,” kata Agus.
Sementara itu, fasilitas US$ 200 juta yang diterima BRMS dialokasikan untuk kegiatan eksplorasi di Gorontalo, Aceh, dan Banten. Pendanaan digunakan untuk pengeboran serta pembaruan estimasi sumber daya dan cadangan mineral.
Agus menjelaskan bahwa eksplorasi menjadi fokus serius perusahaan selama 18 bulan ke depan. “Kami berharap dapat meningkatkan jumlah sumber daya dan cadangan tembaga di Gorontalo dan mengumumkan hasil pengeboran pada semester pertama 2027,” tuturnya.
Eksplorasi di Aceh akan dilanjutkan oleh PT Linge Mineral Resources (LMR) dengan fokus pada emas dan perak. Sementara itu, PT Suma Heksa Sinergi (SHS) menggarap komoditas serupa di Lebak, Banten.
Sebagian dana sindikasi juga dipakai untuk melunasi pinjaman US$ 120 juta CPM kepada Bank Mega. Pelunasan ini disebut akan memperkuat struktur permodalan sekaligus meningkatkan fleksibilitas pembiayaan proyek.
Dengan dukungan pendanaan jumbo tersebut, BRMS menargetkan kenaikan kapasitas produksi emas secara bertahap mulai 2026. Lonjakan signifikan diproyeksikan terjadi pada 2027 ketika tambang emas bawah tanah Palu mulai beroperasi penuh.
Manajemen BRMS memastikan strategi ekspansi ini diarahkan untuk memperkokoh posisi perusahaan sebagai pemain utama tambang emas dan mineral dasar di Indonesia. “Fasilitas ini membantu kami mencapai tiga tujuan: meningkatkan kapasitas produksi, menyelesaikan konstruksi tambang emas bawah tanah, dan memperluas eksplorasi mineral,” ujar Agus.
Sementara itu, riset Mirae Asset Sekuritas sebelumnya menyebut bahwa periode pertumbuhan laba BRMS sudah memasuki fase percepatan. Laba bersih tahun 2026 diperkirakan melonjak hingga 80 persen menjadi US$ 108 juta.
Mirae menyebut BRMS tengah menuju status pemain multiaset tambang berkat kombinasi sumber daya Citra Palu Minerals (CPM) dan kapasitas pemrosesan yang berpotensi mencapai 8.500 ton per hari.
Prospek itu turut diperkuat dengan rencana pengembangan tambang bawah tanah dengan cadangan 19,6 juta ton serta monetisasi aset Gorontalo Minerals.
BRMS diproyeksikan memproduksi 91,9 ribu ounce emas pada 2026 dan meningkat menjadi 105,7 ribu ounce pada 2027. Proyeksi ini didukung sentimen harga emas global yang diperkirakan berada di kisaran US$ 3.900–4.000 per ounce.
Mirae Asset menilai BRMS berpotensi membukukan profitabilitas kuat. Berdasarkan hitungannya, setiap kenaikan harga emas sebesar 10 persen dapat mengerek laba bersih BRMS sebesar 24–27 persen.
Dalam analisisnya, Mirae Asset juga memperkirakan pelemahan indeks dolar AS (DXY) ke level 96 pada 2026 akan menjadi katalis positif bagi harga emas. Tren penurunan suku bunga acuan AS dan pelebaran defisit anggaran dianggap memberi ruang kenaikan harga komoditas emas.
Mirae Asset memberikan rekomendasi trading buy untuk BRMS dengan target harga Rp1.100, menggunakan pendekatan SOTP. Target tersebut mencerminkan PER 2026 sebesar 84,8 kali.
Namun, laporan itu juga menyoroti beberapa risiko, termasuk potensi penundaan proyek, lonjakan biaya, volatilitas harga emas, dan perubahan kebijakan. Meski demikian, prospek BRMS tetap dinilai menarik karena ekspansi dan perbaikan tata kelola yang terus dilakukan.
Baca Juga
Komentar