Antrean Truk Sampah di Bantargebang Picu Bau dan Air Lindi, DPRD Bekasi Desak Shelter Transit
KOTA BEKASI – Antrean panjang truk sampah menuju TPST Bantargebang kembali menjadi sorotan setelah menyebabkan kemacetan dan ceceran air lindi di sepanjang Jalan Raya Narogong. Kondisi tersebut memicu keresahan warga karena menimbulkan bau tak sedap serta dinilai membahayakan pengguna jalan.
Menanggapi persoalan tersebut, Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Bekasi, Anton, mendesak agar segera dibangun shelter atau area transit khusus bagi armada pengangkut sampah milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Menurut Anton, antrean kendaraan pengangkut sampah yang mengular hingga ke jalan raya tidak bisa dibiarkan terus terjadi karena berdampak langsung terhadap kenyamanan dan keselamatan masyarakat sekitar.
Berdasarkan informasi dari pengelola TPST Bantargebang, antrean truk terjadi akibat adanya pembatasan operasional saat kondisi cuaca hujan. Kebijakan tersebut dilakukan untuk mengantisipasi risiko longsor di area tempat pembuangan sampah.
“Kalau kondisi di lokasi sedang hujan, truk sampah tidak diperbolehkan masuk ke area TPST karena ada kekhawatiran longsor seperti kejadian sebelumnya,” ujar Anton, Kamis (7/5/2026).
Akibat kebijakan tersebut, puluhan hingga ratusan truk sampah terpaksa menunggu di luar area TPST dan memenuhi badan jalan di kawasan Bantargebang.
Kondisi ini menyebabkan kemacetan cukup panjang, terutama di jalur utama Jalan Raya Narogong yang menjadi akses penting masyarakat dan kendaraan logistik.
Selain menimbulkan antrean panjang, warga juga mengeluhkan ceceran air lindi dari truk pengangkut sampah yang mengotori jalan raya. Air lindi merupakan cairan hasil pembusukan sampah yang menimbulkan bau menyengat dan berpotensi membahayakan pengguna jalan karena membuat permukaan jalan licin.
Anton menyebut persoalan tersebut telah menjadi keluhan berulang masyarakat sekitar TPST Bantargebang.
Menurutnya, kondisi ini tidak bisa hanya diselesaikan dengan pembersihan jalan semata, melainkan membutuhkan solusi permanen berupa penyediaan lokasi transit khusus bagi armada sampah.
Komisi II DPRD Kota Bekasi menilai pembangunan shelter transit menjadi langkah mendesak untuk mengatasi antrean kendaraan pengangkut sampah agar tidak lagi menggunakan badan jalan umum sebagai lokasi tunggu.
Anton mengungkapkan bahwa pihaknya bersama sejumlah anggota legislatif dari daerah pemilihan setempat bahkan sempat meminta sejumlah truk untuk kembali ke Jakarta demi mengurangi dampak terhadap warga.
“Kasihan warga yang dirugikan. Karena itu kemarin kami minta beberapa truk kembali dulu ke Jakarta,” katanya.
Ia menegaskan, DPRD Kota Bekasi akan segera mengirimkan surat resmi kepada pengelola TPST Bantargebang agar segera melakukan pembenahan dan menyediakan lahan transit yang memadai.
“Saya meminta TPST Bantargebang menyediakan lahan transit khusus, jangan sampai truk berhenti di jalan raya,” tegasnya.
Terkait ceceran air lindi di jalan raya, Anton mengapresiasi langkah cepat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang langsung mengerahkan armada pembersih jalan ke lokasi.
Menurutnya, tindakan tersebut cukup membantu mengurangi dampak sementara bagi masyarakat dan pengguna jalan.
Namun demikian, ia menilai pembersihan jalan hanya menjadi solusi jangka pendek apabila akar persoalan antrean truk belum diselesaikan.
“Kalau shelter transit tidak segera direalisasikan, persoalan ini akan terus berulang dan membahayakan masyarakat,” ujarnya.
Keberadaan TPST Bantargebang sebagai lokasi pengelolaan sampah terbesar di kawasan Jabodetabek memang memiliki peran strategis. Namun di sisi lain, aktivitas operasional yang melibatkan ribuan ton sampah setiap hari juga membutuhkan pengelolaan lalu lintas dan lingkungan yang lebih baik.
DPRD Kota Bekasi berharap adanya koordinasi lebih intensif antara Pemerintah Kota Bekasi, Pemprov DKI Jakarta, dan pengelola TPST untuk memastikan aktivitas pengangkutan sampah tidak merugikan masyarakat sekitar.
Selain menjaga kelancaran distribusi sampah, langkah penataan ini juga dinilai penting untuk meningkatkan keselamatan pengguna jalan serta menjaga kualitas lingkungan di kawasan Bantargebang.
Dengan solusi yang tepat dan berkelanjutan, persoalan antrean truk sampah dan ceceran air lindi diharapkan dapat segera teratasi sehingga aktivitas masyarakat kembali berjalan nyaman dan aman.
Baca Juga
Komentar