Fakta Mengejutkan dari Lo Kheng Hong Diam-Diam Kembali Borong Saham DILD
Jakarta - Pergerakan investor kawakan pasar modal Indonesia Lo Kheng Hong kembali menjadi sorotan pelaku pasar. Dijuluki “Warren Buffett Indonesia”, Lo Kheng Hong diketahui diam-diam menambah kepemilikan saham DILD di tengah tekanan harga dan melemahnya kinerja keuangan perusahaan properti tersebut.
Aksi akumulasi senyap itu terjadi pada 5 Mei 2026 dengan total pembelian mencapai 1,7 juta lembar saham DILD. Meski jumlah tambahan tersebut relatif kecil dibanding total kepemilikannya, langkah Lo Kheng Hong langsung memicu perhatian investor ritel karena dilakukan ketika saham Intiland justru berada dalam tren menurun.
Di tengah kondisi pasar yang masih fluktuatif, keputusan investor senior tersebut dinilai sebagai sinyal bahwa saham DILD masih menyimpan potensi jangka panjang meski kinerja kuartal pertama 2026 menunjukkan perlambatan signifikan.
Lo Kheng Hong Tambah Kepemilikan Jadi 6,93 Persen
Berdasarkan data transaksi pasar, pembelian saham dilakukan melalui sejumlah broker besar, mulai dari BCA Sekuritas, Mandiri Sekuritas, Sinarmas Sekuritas hingga BRI Danareksa Sekuritas.
Selain itu, transaksi juga melibatkan beberapa broker lain seperti Korean Investment and Sekuritas Indonesia, Panin Sekuritas, MNC Sekuritas, Sucor Sekuritas, hingga Pluang Maju Sekuritas.
Setelah transaksi tersebut, total kepemilikan saham DILD milik Lo Kheng Hong meningkat menjadi sekitar 718,5 juta lembar atau setara 6,93 persen saham perusahaan.
Sebelumnya, kepemilikan Lo tercatat sebanyak 716,8 juta saham atau sekitar 6,92 persen.
Kenaikan kepemilikan memang hanya sekitar 0,01 persen, namun aksi pembelian ini tetap menarik perhatian karena dilakukan di tengah sentimen negatif sektor properti.
Saham DILD Masih Tertekan
Pergerakan saham DILD sepanjang 2026 belum menggembirakan.
Pada perdagangan terakhir, saham DILD ditutup melemah 0,79 persen atau turun satu poin ke level Rp126 per saham.
Sejak awal tahun, saham ini telah terkoreksi sekitar 10,64 persen dari posisi Rp141 pada awal Januari 2026.
Padahal, pada 9 Januari 2026 saham DILD sempat menyentuh level tertinggi di Rp163 sebelum akhirnya mengalami tekanan berkepanjangan.
Bahkan pada 7 April 2026, saham ini sempat jatuh ke level terendah Rp122 per saham.
Dengan harga saat ini, kapitalisasi pasar Intiland berada di kisaran Rp1,31 triliun.
Sementara itu, rasio price to earnings (PE ratio) perusahaan tercatat sekitar 20,32 kali.
Dalam rentang 52 minggu terakhir, saham DILD bergerak di area Rp118 hingga Rp173 per saham.
Mengapa Lo Kheng Hong Tetap Membeli?
Pertanyaan besar yang muncul di kalangan investor adalah: mengapa Lo Kheng Hong tetap membeli saham DILD di tengah tekanan harga dan penurunan laba perusahaan?
Banyak analis menilai gaya investasi Lo Kheng Hong memang berbeda dengan mayoritas investor jangka pendek.
Selama ini, Lo dikenal sebagai investor value investing yang justru mencari saham ketika sedang tidak populer dan mengalami tekanan.
Strategi tersebut pernah ia lakukan pada sejumlah saham sebelum akhirnya melonjak besar dalam beberapa tahun berikutnya.
Bagi investor seperti Lo Kheng Hong, harga murah dan valuasi aset sering kali lebih penting dibanding sentimen jangka pendek.
Apalagi sektor properti dikenal sebagai sektor siklikal yang sangat dipengaruhi kondisi ekonomi dan suku bunga.
Ketika pasar pesimistis, investor jangka panjang biasanya mulai melakukan akumulasi secara perlahan.
Kinerja Intiland Kuartal I 2026 Turun Tajam
Meski aksi beli Lo Kheng Hong memberi sentimen positif, fakta kinerja keuangan Intiland memang masih menjadi tantangan utama.
Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2026, laba bersih Intiland turun tajam 76,79 persen menjadi Rp2,45 miliar.
Padahal pada periode sama tahun sebelumnya, laba perusahaan masih mencapai Rp10,56 miliar.
Akibat penurunan tersebut, laba per saham dasar ikut turun menjadi Rp0,24 dari sebelumnya Rp1,02.
Pendapatan usaha perusahaan juga mengalami penyusutan menjadi Rp619,78 miliar dibanding periode sebelumnya sebesar Rp640,76 miliar.
Penurunan pendapatan itu menunjukkan penjualan properti masih belum pulih sepenuhnya di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil.
Beban Keuangan Masih Jadi Tekanan
Meski pendapatan menurun, Intiland sebenarnya berhasil menekan beberapa pos pengeluaran.
Beban pokok penjualan dan beban langsung turun menjadi Rp397,43 miliar dari sebelumnya Rp414,12 miliar.
Beban umum dan administrasi juga turun menjadi Rp66,76 miliar dari Rp77,21 miliar.
Namun tekanan utama masih datang dari sisi pembiayaan.
Perusahaan masih mencatat beban bunga sebesar Rp60,89 miliar meski turun dibanding tahun sebelumnya yang mencapai Rp84,48 miliar.
Selain itu, komponen pendanaan atas liabilitas kontrak juga masih cukup besar mencapai Rp17,47 miliar.
Tingginya beban pendanaan menjadi tantangan umum sektor properti dalam beberapa tahun terakhir akibat suku bunga yang relatif tinggi.
Fundamental Aset Masih Besar
Meski laba turun tajam, Intiland masih memiliki total aset yang cukup besar.
Per akhir Maret 2026, total aset perusahaan tercatat sebesar Rp12,93 triliun.
Jumlah tersebut memang sedikit turun dibanding akhir 2025 yang mencapai Rp13,17 triliun.
Sementara total ekuitas perusahaan berada di level Rp6,76 triliun.
Adapun total liabilitas turun menjadi Rp6,16 triliun dari sebelumnya Rp6,33 triliun.
Besarnya aset perusahaan inilah yang kemungkinan masih menjadi pertimbangan utama investor jangka panjang seperti Lo Kheng Hong.
Apalagi Intiland memiliki sejumlah proyek properti besar di Jakarta, Surabaya, dan beberapa kota lain.
Investor Ritel Mulai Ikut Memantau
Aksi Lo Kheng Hong biasanya selalu menjadi perhatian investor ritel.
Tidak sedikit pelaku pasar yang menjadikan langkah Lo sebagai referensi awal sebelum melakukan analisis lebih lanjut.
Namun analis mengingatkan bahwa strategi investasi Lo Kheng Hong memiliki horizon waktu panjang dan tidak cocok untuk semua investor.
Investor ritel tetap diminta berhati-hati karena sektor properti masih menghadapi berbagai tantangan mulai dari daya beli masyarakat, suku bunga, hingga perlambatan ekonomi global.
Selain itu, fluktuasi saham berkapitalisasi menengah seperti DILD juga cenderung lebih tinggi dibanding saham big caps.
Meski demikian, aksi akumulasi diam-diam oleh Lo Kheng Hong tetap dianggap sebagai sinyal bahwa ada potensi nilai yang masih dilihat investor senior tersebut di balik tekanan saham Intiland saat ini.
Kini pasar tinggal menunggu, apakah langkah senyap sang investor legendaris akan kembali menjadi awal kebangkitan saham DILD seperti cerita-cerita sukses sebelumnya di Bursa Efek Indonesia.
Baca Juga
Komentar