IHSG Dibayangi Geopolitik Global, BBNI hingga BRIS Jadi Rekomendasi Saham Hari Ini
Jakarta - Pasar saham Indonesia diperkirakan kembali bergerak dinamis pada perdagangan Jumat, 8 Mei 2026. Sentimen global mulai dari ketegangan geopolitik Timur Tengah, kebijakan obligasi pemerintah, hingga aksi korporasi emiten besar menjadi faktor utama yang memengaruhi arah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Di tengah volatilitas pasar global, sejumlah saham unggulan justru dinilai masih memiliki peluang teknikal menarik untuk jangka pendek. Mandiri Sekuritas dalam riset hariannya merekomendasikan tiga saham yang layak dicermati investor, yakni saham perbankan BBNI, bank syariah BRIS, dan sektor telekomunikasi EXCL.
Rekomendasi ini muncul di tengah derasnya arus sentimen domestik dan internasional yang membentuk arah pasar saham Indonesia dalam beberapa hari terakhir.
Pemerintah Siapkan Dana Stabilitas Obligasi
Salah satu sentimen terbesar datang dari pemerintah yang dikabarkan tengah menyiapkan Dana Stabilisasi Obligasi untuk meredam volatilitas yield Surat Berharga Negara (SBN).
Langkah ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas pasar keuangan nasional di tengah tekanan global akibat konflik geopolitik dan ketidakpastian arah suku bunga global.
Pelaku pasar menilai kebijakan tersebut berpotensi menjaga kepercayaan investor asing terhadap pasar obligasi Indonesia sekaligus menahan tekanan terhadap rupiah.
Selain itu, pemerintah juga tengah menyiapkan skema kredit murah melalui Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) dengan bunga di bawah 6 persen guna mendorong ekspor nasional.
Kebijakan stimulus ini dipandang positif bagi sektor perbankan dan industri yang memiliki eksposur besar terhadap pembiayaan ekspor.
Ketegangan Timur Tengah Masih Jadi Sorotan
Di sisi global, pasar masih memantau perkembangan konflik di Timur Tengah.
Amerika Serikat dilaporkan telah menyerahkan nota kesepahaman atau MoU kepada Iran terkait pembukaan bertahap Selat Hormuz. Jalur strategis tersebut menjadi perhatian dunia karena merupakan salah satu jalur utama distribusi minyak global.
Namun di saat yang sama, Israel disebut kembali melakukan serangan ke Beirut dan Gaza meski gencatan senjata masih berlaku.
Situasi ini membuat pasar global bergerak hati-hati karena setiap eskalasi di Timur Tengah berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan tekanan inflasi global.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak dapat berdampak langsung terhadap subsidi energi dan stabilitas fiskal.
China Mulai Tekan Kilang yang Disanksi AS
Sentimen lain datang dari China. Pemerintah China dikabarkan meminta bank-bank besar menghentikan pembiayaan terhadap lima kilang minyak yang terkena sanksi Amerika Serikat.
Kebijakan tersebut memicu kekhawatiran baru terkait rantai pasok energi Asia dan potensi perlambatan sektor manufaktur regional.
Meski demikian, China juga tengah menyiapkan penerbitan Panda Bond dengan denominasi yuan dan yield sekitar 2,3 hingga 2,5 persen.
Langkah itu menunjukkan Beijing terus memperluas pengaruh mata uang yuan di pasar keuangan internasional.
BBNI Jadi Sorotan Investor
Di tengah situasi global tersebut, saham BBNI menjadi salah satu saham yang direkomendasikan untuk trading jangka pendek.
Mandiri Sekuritas memberikan rekomendasi BUY dengan entry price di level 3.980, target price 4.090, dan stop loss di area 3.940.
Saham BBNI dinilai menarik setelah muncul kabar adanya aksi pembelian saham oleh direktur perusahaan senilai Rp3,5 miliar.
Aksi beli oleh internal perusahaan sering kali dipandang pasar sebagai sinyal positif terhadap prospek kinerja emiten ke depan.
Selain itu, sektor perbankan diperkirakan masih menjadi salah satu penopang utama IHSG karena fundamental yang relatif solid.
BRIS Diuntungkan Tren Ekonomi Syariah
Saham BRIS juga masuk daftar rekomendasi dengan entry price 1.990, target 2.040, dan stop loss 1.970.
Meski dividend yield BRIS hanya sekitar 1,8 persen, investor dinilai masih optimistis terhadap prospek pertumbuhan bank syariah terbesar di Indonesia tersebut.
Pertumbuhan pembiayaan syariah nasional dan dukungan pemerintah terhadap ekonomi halal menjadi faktor pendorong utama.
Selain itu, BRIS juga dinilai memiliki potensi ekspansi bisnis digital dan layanan haji yang masih sangat besar.
EXCL Berpeluang Rebound
Sementara dari sektor telekomunikasi, saham EXCL direkomendasikan BUY dengan entry price 3.230, target 3.320, dan stop loss 3.190.
Sektor telekomunikasi dinilai masih defensif di tengah ketidakpastian ekonomi global karena kebutuhan data dan internet terus meningkat.
Analis melihat peluang rebound pada saham EXCL seiring meningkatnya kebutuhan layanan digital dan efisiensi operasional perusahaan.
Aksi Korporasi Ramai Warnai Bursa
Perdagangan saham pekan ini juga diramaikan berbagai aksi korporasi.
Pengendali BSDE dilaporkan menambah kepemilikan saham hingga 8,09 persen senilai Rp1,5 triliun.
Sementara taipan Prajogo Pangestu tercatat menjual saham CUAN senilai Rp468 miliar.
Di sisi lain, pengendali AKRA juga menambah kepemilikan saham senilai Rp283 miliar. Bahkan lima direksi dan satu komisaris turut membeli saham perusahaan senilai Rp19 miliar.
Aksi insider buying tersebut menjadi perhatian investor karena sering dianggap sebagai indikator optimisme internal perusahaan terhadap prospek bisnis.
Dividen Jumbo Masih Jadi Magnet
Sejumlah emiten juga masih menarik perhatian karena menawarkan dividend yield tinggi.
BJTM menawarkan dividend yield sekitar 8,8 persen.
Selain itu, TOTL juga mencatat yield serupa sebesar 8,8 persen.
Sedangkan ISAT memiliki dividend yield sekitar 5,2 persen.
Yield tinggi dinilai menjadi daya tarik tersendiri bagi investor yang mencari pendapatan pasif di tengah ketidakpastian pasar.
Investor Diminta Tetap Waspada
Meski sejumlah saham direkomendasikan untuk trading jangka pendek, investor tetap diminta berhati-hati.
Volatilitas pasar masih sangat tinggi akibat pengaruh geopolitik global, arah kebijakan suku bunga dunia, hingga dinamika harga minyak mentah.
Selain itu, analisis teknikal bersifat jangka pendek dan tidak selalu cocok untuk semua profil investor.
Karena itu, investor disarankan tetap memperhatikan manajemen risiko, disiplin terhadap stop loss, dan mencermati fundamental emiten sebelum mengambil keputusan investasi.
Di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian, pasar saham Indonesia memang masih menyimpan peluang. Namun kehati-hatian tetap menjadi kunci utama agar investor tidak terjebak euforia sesaat.
Baca Juga
Komentar