Trump Tekan The Fed Turunkan Suku Bunga Saat Harga Minyak Dunia Melonjak
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mendesak Ketua Federal Reserve Jerome Powell untuk menurunkan suku bunga. Desakan tersebut muncul di tengah lonjakan harga minyak dunia yang dipicu meningkatnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Ketegangan geopolitik yang meningkat membuat pasar energi global terguncang. Harga minyak mentah melonjak tajam setelah Iran menyatakan akan tetap menutup jalur strategis Selat Hormuz yang merupakan salah satu rute utama perdagangan energi dunia.
Akibat kondisi tersebut, harga minyak mentah jenis WTI untuk kontrak pengiriman April 2026 naik hingga 95,7 dolar AS per barel.
Lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran baru di kalangan investor global. Harga energi yang lebih tinggi berpotensi mendorong kenaikan harga bensin, biaya transportasi, hingga harga pangan.
Para analis menilai situasi ini dapat memperburuk tekanan inflasi di Amerika Serikat dan membuat bank sentral lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga.
Sebelumnya, pasar memperkirakan akan terjadi dua kali pemangkasan suku bunga masing-masing seperempat poin hingga akhir tahun. Namun setelah konflik meningkat, ekspektasi tersebut berubah drastis.
Kini kontrak berjangka suku bunga hampir tidak lagi memperhitungkan pemangkasan suku bunga oleh The Fed hingga akhir tahun.
Selain minyak, analis juga memperingatkan dampak luas dari potensi gangguan perdagangan di Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan salah satu jalur utama pengiriman energi dan pupuk dunia.
Jika distribusi pupuk terganggu, harga pangan global juga diperkirakan akan ikut naik karena biaya produksi pertanian meningkat.
Analis dari Goldman Sachs memperkirakan inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) yang menjadi target The Fed sebesar 2 persen bisa meningkat menjadi sekitar 2,9 persen pada Desember mendatang.
Kondisi tersebut membuat proyeksi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve mundur dari sebelumnya diperkirakan pada Juni menjadi sekitar September.
Sementara itu, dinamika politik juga menambah ketidakpastian pasar. Trump disebut telah memilih mantan pejabat Federal Reserve, Kevin Warsh, sebagai kandidat yang berpotensi menggantikan Jerome Powell ketika masa jabatannya berakhir.
Para investor kini terus memantau perkembangan konflik geopolitik dan kebijakan moneter Amerika Serikat karena keduanya berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi global dalam beberapa bulan ke depan.
Baca Juga
Komentar