Tri Adhianto Luncurkan Gerakan 1.000 Lubang Biopori di Bekasi Hadapi Musim Kemarau
BEKASI – Wali Kota Bekasi Tri Adhianto mendorong penguatan gerakan masyarakat dalam menjaga lingkungan melalui program 1.000 Lubang Biopori di Perumahan Taman Persada Raya RW 01, Kelurahan Jatibening Baru, Kecamatan Pondok Gede, Kota Bekasi.
Gerakan tersebut menjadi bagian dari peluncuran Program Bekasi Keren Lingkungan Hidup yang dirangkaikan dengan kick off pertandingan olahraga dalam rangka menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Kegiatan berlangsung pada Minggu (26/7/2026).
Program 1.000 lubang biopori tersebut menargetkan setiap rumah warga memiliki sedikitnya empat lubang biopori. Pemerintah Kota Bekasi menilai gerakan tersebut dapat menjadi langkah sederhana namun strategis untuk meningkatkan daya resap air sekaligus memperkuat ketahanan lingkungan di tengah perubahan cuaca dan ancaman musim kemarau.
Tri Adhianto memberikan apresiasi terhadap inisiatif warga yang secara mandiri mengembangkan program lingkungan berbasis gotong royong. Menurutnya, kepedulian terhadap lingkungan akan lebih efektif apabila dimulai dari rumah dan lingkungan tempat tinggal masyarakat.
"Saya mengapresiasi inisiatif masyarakat Perumahan Taman Persada Raya yang menggagas gerakan 1.000 lubang biopori. Ini adalah contoh nyata bagaimana kepedulian terhadap lingkungan dimulai dari tingkat rumah tangga dan dilakukan secara gotong royong," ujar Tri Adhianto.
Biopori dan Sumur Resapan Jadi Cadangan Air
Menurut Tri, program biopori yang dikembangkan masyarakat di kawasan tersebut tidak berdiri sendiri. Pemkot Bekasi juga mendorong integrasi antara biopori dan sumur resapan untuk meningkatkan manfaat konservasi air.
Di kawasan tersebut telah dibangun sumur resapan dengan kedalaman sekitar 40 meter. Infrastruktur tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan penyerapan air hujan ke dalam tanah sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga ketersediaan air ketika musim kemarau.
"Pembuatan sumur resapan dan biopori ini memiliki manfaat yang sangat besar. Ketika musim kemarau datang, lingkungan tetap memiliki cadangan air karena air hujan yang turun dapat terserap ke dalam tanah. Dengan begitu, setiap rumah pada dasarnya ikut membangun cadangan air untuk lingkungannya sendiri," jelas Tri.
Konsep tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan dapat dilakukan melalui langkah sederhana yang dikerjakan secara bersama-sama. Lubang biopori dapat membantu meningkatkan infiltrasi air, sementara sumur resapan menjadi sarana pendukung konservasi air dalam skala lingkungan.
Upaya tersebut menjadi semakin penting bagi wilayah perkotaan seperti Kota Bekasi yang memiliki tingkat aktivitas dan kepadatan permukiman cukup tinggi. Penguatan daya resap air di lingkungan permukiman dapat menjadi salah satu bagian dari strategi masyarakat dalam menghadapi perubahan kondisi cuaca.
Bank Sampah Kumpulkan 7,2 Ton Sampah
Selain konservasi air, warga RW 01 Perumahan Taman Persada Raya juga menunjukkan kepedulian terhadap persoalan sampah melalui keberadaan Bank Sampah.
Dalam pelaksanaannya, Bank Sampah tersebut telah melakukan enam kali penimbangan dengan total sampah yang berhasil dikumpulkan mencapai 7,2 ton.
Tidak hanya sampah anorganik, warga juga mulai mengelola minyak jelantah. Hingga saat ini, sekitar setengah kuintal minyak jelantah berhasil dikumpulkan dengan jumlah nasabah aktif mencapai 85 orang.
Pengelolaan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekonomi sirkular di tingkat lingkungan. Sampah yang sebelumnya berpotensi menjadi beban lingkungan dapat dikumpulkan dan dikelola sehingga memiliki nilai manfaat.
Program lingkungan di Taman Persada Raya juga dilengkapi dengan tempat pengolahan kompos dari sampah organik. Dengan demikian, sistem pengelolaan lingkungan dilakukan secara lebih terpadu, mulai dari pengurangan sampah, pemilahan, pengolahan sampah organik, hingga konservasi air.
Bekasi Keren Lingkungan Hidup Diperkuat dari Tingkat Warga
Tri Adhianto menilai program seperti biopori, bank sampah, pengolahan kompos, dan sumur resapan merupakan bentuk investasi lingkungan yang manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Menurutnya, keberhasilan program lingkungan tidak hanya bergantung pada pembangunan fasilitas oleh pemerintah. Partisipasi masyarakat menjadi faktor penting agar berbagai program tersebut dapat berjalan secara berkelanjutan.
Dalam kesempatan yang sama, Tri Adhianto juga meresmikan dimulainya pertandingan olahraga dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan RI. Ia sekaligus meninjau sarana olahraga yang telah dibangun di kawasan Perumahan Taman Persada Raya.
Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk menggabungkan berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari olahraga, lingkungan hidup, hingga gotong royong. Pemerintah berharap aktivitas tersebut dapat memperkuat interaksi sosial sekaligus membangun lingkungan permukiman yang sehat dan nyaman.

Tri berharap gerakan 1.000 lubang biopori tidak berhenti di Perumahan Taman Persada Raya. Ia mendorong agar inovasi serupa dapat ditiru oleh lingkungan lain di Kota Bekasi sesuai kondisi wilayah masing-masing.
"Program seperti ini sejalan dengan visi Kota Bekasi untuk membangun lingkungan yang bersih, sehat, dan berketahanan terhadap perubahan iklim. Semoga gerakan ini dapat menjadi contoh bagi lingkungan lain di Kota Bekasi untuk terus berinovasi menjaga kelestarian alam," tutup Tri Adhianto.
Gerakan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa penguatan ketahanan lingkungan dapat dimulai dari tingkat rumah tangga. Dengan target empat lubang biopori setiap rumah, pengelolaan sampah berbasis masyarakat, pemanfaatan sampah organik menjadi kompos, serta pembangunan sumur resapan, warga dapat mengambil peran langsung dalam menjaga lingkungan.
Jika dilakukan secara konsisten dan meluas, gerakan berbasis masyarakat tersebut berpotensi menjadi salah satu model pengelolaan lingkungan perkotaan yang mengedepankan gotong royong, konservasi air, pengurangan sampah, dan ketahanan menghadapi perubahan iklim.
Baca Juga
Komentar