Tangis di Minab: 171 Siswi Tewas dalam Serangan Rudal, China Kirim Bantuan Rp3,3 Miliar untuk Keluarga Korban
Minab—Duka mendalam masih menyelimuti kota pesisir Minab di selatan Iran. Di antara puing-puing bangunan sekolah yang hancur, para keluarga korban terus berdatangan untuk mengenang anak-anak mereka yang tewas dalam serangan militer yang mengguncang kawasan tersebut beberapa waktu lalu.
Tragedi yang terjadi di Provinsi Hormozgan itu menyisakan luka yang belum juga sembuh. Tangis orang tua, kerabat, dan warga setempat menjadi gambaran nyata dari dampak konflik bersenjata yang kini meluas di kawasan Timur Tengah.
Di tengah suasana berkabung, bantuan kemanusiaan mulai mengalir dari berbagai negara. Salah satu yang paling awal datang adalah bantuan dari pemerintah China yang menyalurkan dana darurat bagi keluarga para siswa yang menjadi korban serangan tersebut.
Palang Merah China menyerahkan bantuan sebesar 200.000 dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp3,3 miliar kepada Masyarakat Bulan Sabit Merah Iran. Dana tersebut ditujukan untuk membantu para orang tua murid yang kehilangan anak-anak mereka dalam tragedi tersebut.
Bantuan itu disebut sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan sekaligus ungkapan belasungkawa bagi keluarga korban yang kini harus menghadapi kenyataan pahit kehilangan putri-putri mereka.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, mengecam keras serangan yang menargetkan fasilitas pendidikan tersebut. Dalam konferensi pers rutin di Beijing, ia menyatakan bahwa serangan terhadap sekolah dan anak-anak merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional.
“Serangan terhadap sekolah dan anak-anak adalah pelanggaran yang sangat berat terhadap hukum humaniter internasional dan melampaui batas hati nurani serta moral kemanusiaan,” kata Guo kepada wartawan.
Ia menegaskan bahwa fasilitas sipil seperti sekolah seharusnya dilindungi dalam setiap konflik bersenjata. Menurutnya, tindakan militer yang menyasar lembaga pendidikan tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun.
Tragedi di Minab terjadi pada 28 Februari 2026, bertepatan dengan hari pertama operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel yang diberi nama Operation Epic Fury. Operasi tersebut dilaporkan menargetkan sejumlah lokasi strategis di berbagai wilayah Iran.
Salah satu target yang terkena dampak paling tragis adalah Sekolah Dasar Perempuan Shajarah Tayyebeh di Provinsi Hormozgan. Bangunan sekolah itu dilaporkan hancur setelah terkena serangan rudal saat aktivitas belajar mengajar masih berlangsung.
Tim penyelamat yang melakukan evakuasi di lokasi menemukan banyak korban di bawah reruntuhan bangunan. Sebagian besar korban adalah siswi sekolah dasar yang tidak sempat menyelamatkan diri saat serangan terjadi.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan sedikitnya 171 siswi meninggal dunia akibat serangan tersebut berdasarkan data terbaru dari tim penyelamat dan otoritas setempat.
Jumlah korban yang sangat besar itu membuat tragedi Minab menjadi salah satu insiden paling mematikan yang melibatkan anak-anak sejak konflik terbaru di kawasan tersebut meletus.
Beberapa laporan media internasional menyebut bangunan sekolah tersebut kemungkinan terkena rudal jelajah Tomahawk yang diluncurkan oleh militer Amerika Serikat dalam rangkaian operasi militer tersebut.
Meski demikian, investigasi independen terkait jenis senjata dan kronologi serangan masih terus berlangsung di tengah tekanan internasional untuk mengungkap fakta secara transparan.
Pemerintah Iran menyatakan bahwa tragedi tersebut merupakan bentuk agresi militer yang melanggar hukum internasional dan norma kemanusiaan. Mereka juga menegaskan bahwa fasilitas sipil seperti sekolah tidak boleh menjadi sasaran operasi militer.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap para korban, pemerintah Iran berencana mengubah lokasi sekolah yang hancur itu menjadi sebuah monumen peringatan.
Wakil Menteri Warisan Budaya dan Pariwisata Iran, Ali Darabi, mengatakan lokasi tersebut akan dijadikan memorial permanen untuk mengenang para siswi yang meninggal dunia.
Menurutnya, memorial tersebut tidak hanya akan menjadi tempat mengenang para korban, tetapi juga simbol peringatan bagi dunia tentang dampak tragis perang terhadap anak-anak.
“Tempat ini akan menjadi monumen yang mengingatkan generasi mendatang bahwa perang selalu membawa penderitaan, terutama bagi mereka yang paling tidak bersalah,” ujar Darabi.
Sementara itu, pemerintah China menyatakan siap memberikan bantuan tambahan bagi Iran jika dibutuhkan. Beijing juga menyampaikan keprihatinan mendalam atas meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah.
Dalam pernyataan resminya, China menegaskan bahwa serangan terhadap warga sipil dan fasilitas nonmiliter harus dihentikan segera.
Beijing juga mendesak semua pihak yang terlibat konflik untuk menahan diri dan kembali ke jalur diplomasi guna mencegah krisis yang lebih luas di kawasan tersebut.
Ketegangan di Timur Tengah memang meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah target di Iran dilaporkan menewaskan ribuan orang di berbagai wilayah.
Dalam laporan yang beredar luas di media internasional, serangan tersebut bahkan disebut menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, bersama sejumlah pejabat senior pemerintah. Namun berbagai pihak masih menunggu konfirmasi resmi terkait laporan tersebut.
Sebagai respons, Iran meluncurkan serangan balasan menggunakan drone dan rudal yang menargetkan wilayah Israel serta beberapa negara Teluk.
Negara-negara Teluk tersebut diketahui menjadi lokasi instalasi militer Amerika Serikat yang digunakan sebagai basis operasi militer terhadap Iran.
Situasi tersebut membuat konflik yang awalnya dipicu oleh ketegangan terkait program nuklir Iran kini berkembang menjadi krisis regional yang jauh lebih kompleks.
Banyak pengamat menilai eskalasi ini berpotensi menyeret lebih banyak negara ke dalam konflik terbuka yang dapat mengguncang stabilitas global.
Di tengah meningkatnya ketegangan, berbagai negara dan organisasi internasional terus menyerukan penghentian kekerasan serta mendorong dimulainya kembali dialog diplomatik.
Namun bagi keluarga para siswi yang menjadi korban di Minab, luka akibat tragedi tersebut mungkin tidak akan pernah benar-benar sembuh.
Bagi mereka, kenangan tentang anak-anak yang pergi terlalu cepat kini hanya tersisa dalam foto, cerita, serta bantuan kemanusiaan yang datang dari berbagai penjuru dunia.
Dunia internasional pun terus mendesak dilakukannya investigasi transparan terhadap insiden tragis ini, dengan harapan kebenaran dapat terungkap dan keadilan bagi para korban bisa ditegakkan.
Baca Juga
Komentar