Selat Hormuz Ditutup Iran, Kapal Dibalik dan Ratusan Tanker Terjebak! Dunia Khawatir Krisis Energi Global Meledak
TEHERAN – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memuncak setelah Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengumumkan penutupan total jalur strategis Selat Hormuz pada Jumat pagi.
Langkah tersebut disertai tindakan tegas di lapangan, termasuk membalikkan tiga kapal kontainer yang mencoba melintasi jalur vital tersebut tanpa izin otoritas Iran.
Dalam pernyataan resminya, IRGC menegaskan bahwa penutupan jalur tersebut merupakan bagian dari operasi pengamanan di wilayah perairan Teluk yang tengah dilanda eskalasi konflik.
Iran juga mengeluarkan peringatan keras kepada warga sipil di negara-negara Teluk agar menjauh dari wilayah yang terdapat kehadiran militer Amerika Serikat guna menghindari risiko keselamatan.
“Tidak ada kapal yang diizinkan transit ke atau dari pelabuhan yang bersekutu dengan Amerika Serikat dan Israel,” demikian pernyataan resmi IRGC melalui departemen hubungan masyarakatnya.
Penutupan Selat Hormuz berdampak langsung terhadap arus perdagangan global, khususnya sektor energi, mengingat jalur ini merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dunia.
Sejak meningkatnya konflik pada akhir Februari, Iran disebut telah mengendalikan secara efektif lalu lintas di kawasan tersebut.
Akibat kebijakan ini, pergerakan kapal dilaporkan menurun drastis hingga sekitar 95 persen. Lebih dari 350 kapal tanker, termasuk supertanker serta kapal pengangkut LNG dan CNG, kini tertahan di perairan Laut Oman dan Teluk Persia.
Ratusan kapal tersebut terpaksa menunggu izin dari otoritas Iran untuk dapat melanjutkan perjalanan, menciptakan antrean panjang yang berpotensi mengganggu pasokan energi global.
Pihak Teheran menyatakan bahwa kebijakan ini hanya menyasar negara atau pihak yang dianggap bermusuhan dengan Iran dan sekutunya.
Sementara itu, kapal dari negara yang tidak terlibat konflik disebut masih dapat melintas, meskipun dengan pengawasan ketat dari otoritas Iran.
Iran juga menegaskan bahwa pengendalian jalur perairan tersebut merupakan hak yang sah berdasarkan hukum internasional, sekaligus bagian dari strategi menjaga keamanan nasional.
Dalam pernyataan terpisah terkait Operasi True Promise 4, IRGC kembali mengingatkan warga sipil untuk menjauh dari area yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat.
“Segera tinggalkan wilayah tersebut untuk menghindari bahaya,” demikian peringatan yang disampaikan kepada masyarakat di kawasan Teluk.
IRGC menuduh kehadiran militer Amerika Serikat dan Israel di kawasan tersebut meningkatkan risiko bagi warga sipil, bahkan menyebut adanya praktik penggunaan masyarakat sebagai perisai dalam konflik.
Situasi ini mempertegas meningkatnya ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang telah berlangsung dalam beberapa pekan terakhir.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa jalur perdagangan tetap aman dan Amerika tidak bergantung pada Selat Hormuz karena produksi energi domestik.
Namun, klaim tersebut dibantah oleh pihak Iran yang menilai kondisi di lapangan menunjukkan situasi berbeda dan jauh lebih kompleks.
Sejumlah analis militer menilai Iran memiliki keunggulan strategis untuk mempertahankan kontrol atas Selat Hormuz.
Dengan garis pantai yang panjang serta dukungan sistem persenjataan seperti rudal anti-kapal, drone, ranjau laut, dan kapal cepat, Iran dinilai mampu menghadapi tekanan militer dari luar.
Kondisi ini membuat upaya pembukaan jalur secara paksa oleh pihak asing menjadi sangat berisiko dan berpotensi memicu konflik yang lebih luas.
Di sisi lain, penutupan Selat Hormuz juga memicu kekhawatiran global terkait lonjakan harga energi dan potensi gangguan rantai pasok internasional.
Sejumlah negara dan pelaku industri kini memantau perkembangan situasi dengan cermat, mengingat dampaknya yang dapat meluas ke berbagai sektor ekonomi dunia.
Ketegangan yang terus meningkat ini menempatkan kawasan Teluk sebagai salah satu titik krusial dalam dinamika geopolitik global saat ini.
Baca Juga
Komentar