Nanang Sharna Kembali! Terungkap Fakta Maestro Batik Dunia Soroti Meredupnya BWA Jakarta
Jakarta - Semangat diplomasi budaya dan dunia fashion kembali terasa dalam gelaran tahunan British Women's Association atau BWA yang berlangsung di Four Seasons Hotel Jakarta pada Jumat malam, 9 Mei 2026. Acara yang dihadiri sejumlah duta besar negara sahabat, komunitas ekspatriat, hingga tokoh seni internasional itu menjadi momen emosional bagi Maestro Batik Dunia asal Indonesia, Nanang Sharna.
Kehadiran Nanang Sharna dalam acara tersebut bukan sekadar sebagai tamu undangan biasa. Sosok yang dikenal luas di dunia fashion dan batik internasional itu ternyata memiliki sejarah panjang bersama organisasi perempuan ekspatriat tersebut sejak tahun 1995.
Dalam wawancara khusus bersama AWITV.co.id, Nanang mengungkapkan rasa harunya bisa kembali menghadiri kegiatan BWA setelah sekian lama vakum dari aktivitas organisasi yang dulu sangat membesarkan namanya di dunia fashion charity internasional.
“Saya dengan BWA tidak asing lagi karena sudah bergabung sejak 1995. Setiap bulan Mei saya selalu pulang ke Indonesia untuk membuat fashion show. Kebetulan selama puluhan tahun saya cukup diandalkan di BWA,” ujar Nanang Sharna.

BWA Pernah Jadi Organisasi Amal Elite di Jakarta
Menurut Nanang, masa kejayaan BWA pernah menjadi salah satu simbol kegiatan sosial kelas internasional di Jakarta. Organisasi yang beranggotakan perempuan lintas negara tersebut dikenal aktif menggalang dana amal untuk membantu berbagai yayasan sosial di Indonesia.
BWA bukan hanya wadah berkumpul perempuan Inggris, melainkan komunitas perempuan ekspatriat dari berbagai kewarganegaraan yang tinggal di Indonesia.
Organisasi ini rutin mengadakan berbagai kegiatan sosial dan budaya seperti coffee morning, bazaar internasional, fashion show amal, turnamen golf wanita, hingga kegiatan seni dan charity tahunan.
Nanang mengenang bagaimana pada era keemasannya, acara BWA mampu menghadirkan suasana glamor dan profesional dengan dukungan para diplomat asing serta komunitas internasional yang sangat besar.
“Dulu acara BWA diadakan di Shangri-La Jakarta mulai sore sampai pagi. Fashion show dikelola profesional, makanan dan minuman sangat lengkap, dan para tamu mengikuti acara sampai subuh,” katanya.
Ia menilai kualitas penyelenggaraan BWA saat ini mengalami penurunan dibanding masa-masa sebelumnya.
Nanang Sharna Kritik Fashion Show yang Dinilai Kurang Profesional
Dalam keterangannya, Nanang tidak menutupi pandangannya mengenai kondisi BWA saat ini. Ia menilai acara fashion show yang ditampilkan dalam kegiatan terbaru masih jauh dari standar profesional seperti era sebelumnya.

“Terkait fashion show yang ditampilkan sekarang masih ala kadarnya, tidak seperti dulu yang benar-benar profesional. Mungkin karena masalah dana atau pengelolaannya berbeda,” ujarnya.
Meski demikian, Nanang tetap mengapresiasi keberlangsungan organisasi tersebut karena manfaat sosial yang diberikan masih sangat nyata untuk masyarakat Indonesia.
Ia mengatakan salah satu alasan dirinya tertarik kembali aktif di BWA karena organisasi tersebut memiliki kontribusi besar dalam kegiatan amal yang hasilnya disalurkan langsung kepada yayasan sosial lokal.
“Saya ingin kembali berkecimpung dan membantu mengembangkan lagi BWA karena dana amalnya juga untuk bangsa Indonesia. Itu yang membuat saya tertarik,” katanya.
Tema “Kuda Api” Jadi Simbol Kebangkitan Dunia
Pada acara tahun ini, BWA mengangkat tema kuda yang menurut Nanang memiliki filosofi mendalam terkait situasi dunia saat ini.
Ia mengaitkan simbol tersebut dengan Shio Kuda Api yang dipercaya merepresentasikan semangat, energi, dan kebangkitan setelah dunia menghadapi berbagai tantangan global.
“Kuda itu melambangkan semangat terus bergerak. Dunia sedang mengalami keterpurukan dan tema kuda ini menjadi simbol penerangan dan harapan,” ujarnya.
Nanang berharap semangat tersebut dapat menjadi energi positif bagi masyarakat Indonesia, terutama generasi muda di bidang seni, budaya, dan industri kreatif.
Siap Jadi Mentor untuk Generasi Baru BWA
Dalam kesempatan tersebut, Nanang juga menyampaikan keinginannya untuk kembali membantu membangkitkan kejayaan BWA seperti masa lalu.
Ia menilai organisasi tersebut perlu merangkul generasi muda agar tetap relevan dan mampu berkembang di tengah perubahan zaman.
Menurutnya, anak-anak muda memiliki kreativitas dan semangat besar yang bisa menjadi motor baru bagi kegiatan sosial internasional di Jakarta.
“BWA harus mulai merangkul generasi muda. Misalnya melibatkan mereka dalam penjualan kupon atau kegiatan kreatif lainnya,” katanya.
Nanang bahkan menyatakan kesiapannya menjadi mentor untuk membantu membangun kembali jaringan internasional BWA yang sempat melemah sejak dirinya tidak lagi aktif pada 2014.
“Saya siap menjadi mentor untuk membangkitkan BWA lagi. Saya harus mulai membagi waktu untuk menyambung koneksi internasional seperti dulu,” ungkapnya.
Pesan Kuat untuk Perempuan Indonesia
Sebagai tokoh fashion dan budaya yang telah membawa batik Indonesia ke panggung dunia, Nanang juga menyampaikan pesan khusus bagi perempuan Indonesia.
Ia mengingatkan pentingnya menjaga identitas budaya di tengah derasnya pengaruh fashion global.
“Jadilah wanita Indonesia yang tetap memiliki jati diri bangsa. Fashion dunia boleh diikuti, tapi budaya Indonesia jangan ditinggalkan,” tegasnya.
Pesan tersebut mendapat respons positif dari para tamu yang hadir, terutama komunitas perempuan muda dan pecinta budaya Nusantara.
Diplomasi Budaya Lewat Fashion dan Amal
Acara BWA tahun ini juga menjadi bukti bahwa fashion tidak hanya soal gaya hidup, tetapi juga alat diplomasi budaya dan sosial.
Kehadiran para duta besar negara sahabat di Jakarta memperlihatkan bagaimana kegiatan seni dan amal mampu menjadi jembatan hubungan internasional yang lebih hangat dan inklusif.
Fashion show, pertunjukan budaya, hingga kegiatan penggalangan dana yang digelar BWA selama ini dianggap mampu mempererat hubungan komunitas internasional dengan masyarakat Indonesia.
BWA sendiri diketahui memiliki basis kegiatan di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, dan aktif menggelar berbagai aktivitas sosial sepanjang tahun.
Selain kegiatan santai seperti coffee morning dan social night, organisasi tersebut juga rutin mengadakan bazaar internasional dan penggalangan dana untuk yayasan sosial lokal.
Harapan Kebangkitan BWA di Era Baru
Kehadiran kembali Nanang Sharna dalam kegiatan BWA disebut banyak pihak sebagai sinyal positif bagi kebangkitan organisasi tersebut.
Pengalaman panjang, jaringan internasional, dan reputasi Nanang di dunia fashion dianggap dapat membawa energi baru bagi BWA di tengah persaingan komunitas internasional yang semakin dinamis.
Di sisi lain, generasi muda dinilai menjadi kunci penting agar organisasi sosial lintas negara seperti BWA tetap hidup dan relevan di masa depan.
Dengan kombinasi diplomasi budaya, semangat amal, dan sentuhan fashion internasional, BWA diharapkan kembali menjadi salah satu organisasi perempuan ekspatriat paling berpengaruh di Jakarta seperti era kejayaannya dahulu.
Baca Juga
Komentar