Pertamina dan BGN Resmi Kolaborasi, Minyak Jelantah Diolah Jadi Bahan Bakar Pesawat Ramah Lingkungan
JAKARTA – PT Pertamina (Persero) bersama Badan Gizi Nasional (BGN) resmi menjalin kerja sama strategis dalam pengembangan ekosistem energi berkelanjutan berbasis limbah domestik. Melalui sinergi tersebut, minyak jelantah atau Used Cooking Oil (UCO) dari program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) akan diolah menjadi Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar pesawat ramah lingkungan.
Kolaborasi ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman antara Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri dan Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana di Grha Pertamina, Jakarta, Kamis (7/5/2026).
Kerja sama tersebut menjadi langkah nyata dalam mendukung ketahanan pangan dan energi nasional sekaligus mempercepat target Net Zero Emission (NZE) Indonesia melalui pemanfaatan limbah domestik berbasis ekonomi sirkular.
Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menyampaikan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar program pemenuhan kebutuhan pangan, melainkan investasi besar bagi masa depan bangsa.
“Program ini bukan hanya soal makan bergizi gratis, tetapi merupakan investasi besar untuk masa depan bangsa, membangun generasi unggul, memperkuat ekonomi rakyat, dan menciptakan Indonesia yang lebih sehat, mandiri, dan sejahtera,” ujar Dadan.
Menurutnya, dengan jutaan penerima manfaat program MBG, pengelolaan limbah minyak jelantah menjadi peluang besar yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung energi hijau nasional.
Sementara itu, Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menegaskan bahwa sinergi antara Pertamina dan BGN merupakan pertemuan dua mandat strategis bangsa, yakni sektor pangan dan energi.
“Sebagaimana tertuang dalam Misi ke-2 Asta Cita, kita didorong untuk membangun kemandirian di sektor pangan dan energi secara simultan. Hari ini, kita melihat bagaimana dua sektor tersebut tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling menguatkan dalam satu ekosistem yang terintegrasi,” kata Simon.
Ia menjelaskan, minyak jelantah yang selama ini dianggap limbah dan berpotensi mencemari lingkungan kini dapat diubah menjadi sumber energi bernilai tinggi melalui teknologi pengolahan modern.
“Dari puluhan ribu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di seluruh Indonesia, akan terbentuk ekosistem pengumpulan Used Cooking Oil yang sebelumnya dianggap limbah. Hari ini, kita jadikan limbah sebagai sumber daya. Kita jadikan masalah sebagai solusi. Inilah esensi dari circular economy,” tegasnya.
Dalam implementasinya, program pengumpulan minyak jelantah akan dijalankan oleh Pertamina Patra Niaga melalui mesin pengumpulan UCollect yang ditempatkan di berbagai titik layanan.
Minyak jelantah yang berhasil dikumpulkan nantinya akan diolah menjadi berbagai produk energi hijau seperti Sustainable Aviation Fuel (SAF), Hydrotreated Vegetable Oil (HVO), hingga biogasoline.
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, mengatakan kerja sama ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam memperkuat bisnis rendah karbon.
“Kolaborasi strategis ini menjadi langkah Pertamina dalam memperkuat portofolio bisnis rendah karbon melalui pemanfaatan limbah domestik sebagai sumber energi masa depan,” ujar Agung.
Menurutnya, Used Cooking Oil menjadi salah satu bahan baku paling efisien untuk menghasilkan SAF dan HVO karena memiliki tingkat emisi yang lebih rendah dibanding bahan bakar fosil konvensional.

“Mengapa Pertamina sangat membutuhkan UCO? Jawabannya jelas, demi keberlanjutan bisnis dan kepatuhan terhadap standar dekarbonisasi global,” jelasnya.
Pertamina sendiri menargetkan pencampuran SAF mulai dari 1 persen hingga 5 persen pada tahun 2030 sesuai amanat pemerintah melalui Kepmen ESDM Nomor 113 Tahun 2026.
Selain mendukung dekarbonisasi sektor transportasi udara, program ini juga diharapkan mampu memperkuat hilirisasi industri berbasis energi baru terbarukan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Kolaborasi tersebut dinilai menjadi model integrasi antara pengelolaan limbah, ketahanan energi, dan pembangunan berkelanjutan yang dapat memberikan dampak luas bagi masyarakat maupun lingkungan.
Turut hadir dalam penandatanganan kerja sama tersebut Komisaris Utama Pertamina Mochamad Iriawan serta Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra.
Dengan sinergi ini, pemerintah dan BUMN berharap Indonesia dapat mempercepat transisi menuju energi hijau sekaligus memperkuat posisi sebagai negara yang aktif dalam mendukung agenda global pengurangan emisi karbon.
Baca Juga
Komentar