Lewat Edukasi Toleransi, Mahasiswa UBSI Bekasi Bantu Anak Yatim Belajar Menghargai Perbedaan
Kota Bekasi – Di tengah masyarakat yang semakin beragam, kemampuan untuk menghargai perbedaan menjadi salah satu keterampilan sosial yang penting dimiliki sejak usia dini. Berangkat dari kepedulian terhadap hal tersebut, mahasiswa Program Studi S1 Informatika Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Kaliabang menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Berbeda Itu Indah: Menjadi Juara Toleransi” di Asrama Yatim dan Dhuafa, Kota Bekasi.
Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga mendorong mahasiswa untuk berkontribusi langsung dalam menjawab berbagai persoalan sosial di lingkungan masyarakat. Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah pentingnya pendidikan karakter, khususnya terkait nilai toleransi dan empati di kalangan generasi muda.
Ketua pelaksana kegiatan, Lulu’ayatul Fatihah, menjelaskan bahwa program ini lahir dari hasil observasi yang menunjukkan masih terbatasnya pemahaman anak-anak mengenai keberagaman dan pentingnya menghargai perbedaan. Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya terjadi di lingkungan panti asuhan, tetapi juga menjadi tantangan yang dihadapi masyarakat secara umum.
“Perbedaan adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Karena itu, anak-anak perlu memahami sejak dini bahwa setiap orang memiliki latar belakang yang berbeda dan semuanya layak dihargai,” ujarnya.
Saat ini, berbagai persoalan sosial sering muncul akibat rendahnya kemampuan memahami sudut pandang orang lain. Mulai dari perundungan, konflik antarkelompok, hingga penyebaran ujaran kebencian di media sosial, sebagian besar berakar pada sikap tidak menghargai perbedaan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pendidikan toleransi bukan lagi sekadar materi tambahan, melainkan kebutuhan yang harus ditanamkan sejak usia anak-anak.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa UBSI berupaya menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan dan mudah dipahami. Materi tentang toleransi disampaikan secara interaktif dengan bahasa sederhana, sehingga peserta dapat memahami makna keberagaman tanpa merasa digurui.
Tidak hanya melalui penyampaian materi, peserta juga diajak mengikuti diskusi kelompok, permainan edukatif, serta simulasi peran yang dirancang untuk melatih kerja sama dan empati. Metode tersebut dipilih karena dinilai lebih efektif dibandingkan pembelajaran satu arah yang cenderung membuat anak cepat kehilangan fokus.
Suasana kegiatan berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Anak-anak terlihat aktif berpartisipasi dalam setiap sesi, mulai dari menjawab pertanyaan, menyampaikan pendapat, hingga mengikuti berbagai permainan yang mengandung pesan moral tentang pentingnya saling menghargai.
Dalam salah satu sesi, peserta diajak memahami bahwa setiap individu memiliki keunikan masing-masing. Perbedaan bukanlah alasan untuk saling menjauh, melainkan kesempatan untuk belajar dan mengenal satu sama lain dengan lebih baik. Pesan sederhana tersebut menjadi inti dari kegiatan yang diusung mahasiswa UBSI.
Selain memberikan edukasi, kegiatan juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial antara mahasiswa dan masyarakat. Interaksi yang terjalin selama kegiatan menunjukkan bahwa kepedulian sosial dapat diwujudkan melalui langkah-langkah sederhana yang memberikan dampak nyata bagi lingkungan sekitar.
Berdasarkan hasil observasi tim mahasiswa, salah satu tantangan yang dihadapi anak-anak di lingkungan panti asuhan adalah terbatasnya akses terhadap program pembinaan karakter yang terstruktur, khususnya terkait nilai toleransi dan keberagaman. Karena itu, kegiatan seperti ini diharapkan dapat menjadi pelengkap dalam proses pembentukan karakter mereka.
Lebih jauh, program ini juga menjadi pengingat bahwa membangun masyarakat yang harmonis tidak cukup dilakukan ketika seseorang sudah dewasa. Penanaman nilai-nilai positif harus dimulai sejak dini agar dapat menjadi bagian dari kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui pendekatan yang komunikatif, interaktif, dan berbasis pengalaman langsung, mahasiswa berharap peserta tidak hanya memahami konsep toleransi secara teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan nyata.
Kegiatan “Berbeda Itu Indah: Menjadi Juara Toleransi” menjadi bukti bahwa peran mahasiswa tidak terbatas pada ruang kelas. Sebagai agen perubahan, mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk ikut membangun masyarakat yang lebih inklusif, berempati, dan menghargai keberagaman.
Dengan semangat tersebut, mahasiswa UBSI berharap nilai-nilai toleransi yang ditanamkan dalam kegiatan ini dapat terus tumbuh dan menjadi bekal bagi anak-anak dalam menghadapi kehidupan sosial yang semakin beragam di masa depan. Sebab, di tengah berbagai perbedaan yang ada, sikap saling menghormati tetap menjadi kunci utama terciptanya kehidupan yang harmonis dan damai.
Baca Juga
Komentar