Karasa dan Buruan Sae Ubah Wajah Ketahanan Pangan Kota Bandung, Warga Kini Bisa Panen dari Halaman Rumah
BANDUNG — Ketahanan pangan di Kota Bandung kini hadir dengan wajah baru. Tidak lagi identik dengan sawah luas atau pertanian berskala besar, gerakan urban farming melalui program Buruan Sae justru tumbuh dari halaman rumah warga, gang sempit, hingga sudut-sudut permukiman padat penduduk.
Program yang digagas Pemerintah Kota Bandung tersebut berkembang menjadi gerakan kolektif masyarakat dalam membangun kemandirian pangan, memperkuat kepedulian lingkungan, sekaligus menghidupkan kembali kebersamaan sosial di tengah kehidupan perkotaan modern.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengatakan, penguatan program ketahanan pangan kini terintegrasi dalam konsep Karasa Sirkular Bandung Utama yang menggabungkan pengelolaan sampah, urban farming, dan pemenuhan gizi masyarakat.
Menurut Farhan, Karasa Sirkular merupakan program penguatan ekosistem pengelolaan sampah berbasis kewilayahan yang diintegrasikan dengan Buruan Sae serta Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat).
Dalam sistem tersebut, sampah organik rumah tangga diolah menjadi kompos dan media tanam untuk mendukung kebutuhan pertanian perkotaan. Selanjutnya, hasil panen dimanfaatkan untuk mendukung pemenuhan gizi masyarakat melalui program Dashat.
“Yang penting sekarang sistemnya jalan dulu. Ketika sirkulasinya sudah terbentuk baru nanti kita hitung skala ekonominya,” kata Farhan di Balai Kota Bandung, Rabu (20/5/2026).
Ia menjelaskan, semangat Hari Kebangkitan Nasional tahun ini dimaknai melalui penguatan kemandirian masyarakat dalam menyelesaikan berbagai persoalan kota secara bersama-sama.
“Kemandirian ini yang ingin kita dorong kepada seluruh warga Kota Bandung. Masalah di Kota Bandung harus bisa diselesaikan oleh warga Kota Bandung, tidak saling menuding dan tidak saling menyalahkan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar menuturkan bahwa Buruan Sae bukan sekadar program bercocok tanam di halaman rumah, melainkan gerakan perubahan pola pikir masyarakat terhadap pangan, lingkungan, dan hubungan sosial.
Di berbagai sudut Kota Bandung, warga kini mulai menanam cabai di polybag, kangkung di pekarangan sempit, hingga memanfaatkan kolam terpal sederhana untuk budidaya ikan lele. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi simbol bahwa pangan tetap dapat diproduksi meski di ruang yang terbatas.
“Buruan Sae bukan hanya soal menanam sayur di halaman rumah. Ada perubahan kebiasaan, perubahan rasa percaya diri dan tumbuhnya kesadaran baru tentang ketahanan pangan,” ujar Gin Gin.
Ia menjelaskan, Buruan Sae kini menjadi bagian utama dari program unggulan Pemkot Bandung melalui integrasi Kang Pisman, Buruan Sae, dan Dashat dalam konsep Karasa Sirkular Bandung Utama.
Program tersebut memungkinkan pengelolaan sampah organik dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan urban farming, sementara hasil panennya dapat membantu kebutuhan pangan keluarga hingga program gizi masyarakat.
Menurut Gin Gin, istilah “Karasa” dalam bahasa Sunda berarti “terasa”. Filosofi tersebut menggambarkan manfaat program yang benar-benar dirasakan langsung oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
“Karasa Sae bukan slogan administratif yang berhenti di baliho kegiatan. Dampaknya benar-benar terasa oleh warga,” katanya.
Melalui program ini, warga kini dapat memenuhi sebagian kebutuhan dapur secara mandiri. Cabai, kangkung, sereh, dan berbagai tanaman pangan lain yang ditanam di halaman rumah membantu masyarakat lebih hemat sekaligus mendapatkan bahan pangan sehat.
Buruan Sae juga dinilai mampu meningkatkan kesadaran lingkungan bagi generasi muda. Anak-anak mulai belajar menanam, memahami proses produksi pangan, hingga mengenal hubungan manusia dengan lingkungan sejak usia dini.
Selain itu, program tersebut turut memperkuat hubungan sosial antarwarga. Masyarakat yang sebelumnya jarang berinteraksi kini mulai saling bertukar bibit, berbagi kompos, hingga berbagi hasil panen.
“Dari halaman rumah yang kecil, tumbuh percakapan dan kebersamaan yang perlahan hilang di kehidupan kota,” ujar Gin Gin.
Seiring perkembangannya, sejumlah kelompok Buruan Sae bahkan mulai menghasilkan nilai ekonomi tambahan. Hasil panen yang sebelumnya hanya dikonsumsi keluarga kini mulai dijual maupun diolah menjadi produk pangan bernilai tambah.
Bagi Pemerintah Kota Bandung, Buruan Sae bukan hanya program pertanian perkotaan, tetapi gerakan membangun kembali hubungan manusia dengan pangan, lingkungan, dan sesama.
“Di balik tanaman yang tumbuh di halaman rumah itu, warga sesungguhnya sedang menanam sesuatu yang lebih besar seperti rasa cukup, rasa kebersamaan dan harapan tentang kota yang lebih mandiri di masa depan,” tutup Gin Gin.
Baca Juga
Komentar