KRISIS RARE EARTH GUNCANG AS: China Cekik Pasokan Yttrium & Scandium, Industri Dirgantara–Chip Terancam Lumpuh
Jakarta - Ketergantungan Amerika Serikat terhadap logam tanah jarang kembali menjadi sorotan tajam. Di tengah meredanya tensi perang dagang Washington–Beijing, industri strategis AS justru menghadapi tekanan baru akibat terbatasnya pasokan rare earth dari China. Dua mineral krusial—yttrium dan scandium—kini menjadi simbol rapuhnya rantai pasok global yang terlalu lama bergantung pada satu negara.
Data terbaru Bea Cukai China menunjukkan ekspor yttrium ke Amerika Serikat anjlok drastis sejak pembatasan diberlakukan pada April tahun lalu. Dalam delapan bulan setelah kebijakan tersebut berjalan, ekspor hanya mencapai 17 ton. Sebagai perbandingan, pada periode yang sama sebelumnya, volume pengiriman mencapai 333 ton. Penurunan tajam ini bukan sekadar angka statistik—ia telah merambat menjadi gangguan nyata di lapangan produksi.
Industri Dirgantara Terpukul
Dua perusahaan Amerika Utara yang menggunakan yttrium untuk pelapis mesin dilaporkan terpaksa menghentikan sementara produksi. Yttrium memiliki peran vital dalam pelapis tahan panas yang melindungi mesin dan turbin dari suhu ekstrem. Tanpa material tersebut, mesin tidak dapat beroperasi dengan aman dan efisien.
Dalam industri dirgantara, pelapis berbasis yttrium menjadi komponen tak tergantikan. Mesin pesawat komersial maupun militer memerlukan perlindungan terhadap suhu ribuan derajat Celsius. Ketika pasokan tersendat, konsekuensinya bukan hanya keterlambatan produksi, tetapi juga risiko keamanan dan kontrak bernilai miliaran dolar.
Salah satu perusahaan bahkan mulai menolak pelanggan kecil demi mengamankan suplai bagi klien utama, termasuk produsen mesin pesawat besar. Keputusan ini mencerminkan kondisi darurat pasokan yang memaksa perusahaan memprioritaskan kontrak strategis dibanding ekspansi pasar.
Harga Melejit Tak Terkendali
Kelangkaan ini langsung memicu lonjakan harga. Sejak November, harga yttrium dilaporkan naik 60 persen dan kini mencapai sekitar 69 kali lipat dibandingkan tahun lalu. Kenaikan yang ekstrem ini membuat sejumlah produsen mulai membatasi penggunaan bahan tersebut atau mencari alternatif yang belum tentu memiliki kualitas setara.
Fenomena ini menegaskan satu hal: dominasi China bukan sekadar isu geopolitik, melainkan realitas ekonomi yang berdampak langsung pada industri strategis dunia.
Produsen Chip Ikut Terseret
Tak hanya sektor dirgantara, industri semikonduktor Amerika juga menghadapi tantangan serupa akibat kekurangan scandium. Mineral ini menjadi komponen penting dalam pengembangan chip generasi baru dan perangkat 5G. Di era transformasi digital, keterlambatan produksi chip berarti perlambatan inovasi teknologi, termasuk kecerdasan buatan, komputasi awan, dan sistem pertahanan canggih.
Produsen semikonduktor dilaporkan mengalami keterlambatan dalam memperoleh lisensi ekspor dari China. Beberapa di antaranya bahkan mulai meminta dukungan pemerintah AS untuk mengamankan pasokan.
Kevin Michaels, Managing Director AeroDynamic Advisory, menyebut situasi ini sebagai contoh nyata bagaimana China menggunakan kekuatan rare earth sebagai alat tekanan geopolitik. “Ini adalah hal yang harus diawasi dan contoh nyata bagaimana China menggunakan kekuatan rare earth-nya,” ujarnya.
Ketergantungan yang Terlambat Disadari
Fakta mencengangkan lainnya adalah bahwa Amerika Serikat saat ini tidak memiliki produksi scandium domestik yang signifikan maupun sumber alternatif yang siap beroperasi. Cadangan yang ada diperkirakan hanya cukup untuk beberapa bulan.
Sementara itu, sekitar 90 persen logam rare earth dunia diproses di China. Dominasi ini bukan hanya pada tahap penambangan, tetapi terutama pada proses pemisahan, pemurnian, hingga produksi logam dan magnet. CEO REalloys, Lipi Sternheim, menegaskan bahwa keunggulan Beijing terletak pada sistem terintegrasi yang telah dibangun selama puluhan tahun.
“China tidak memenangkan ini dengan penambangan. Mereka menang dengan membangun seluruh sistem—pemisahan, pemurnian, logam, magnet—semuanya terhubung,” ujarnya.
Amerika Serikat memang telah mengalokasikan dana hingga 8,5 miliar dolar AS untuk membangun kembali rantai pasok mineral kritis. Namun industri menyadari bahwa membangun fasilitas pemrosesan bukanlah proyek instan. Pabrik tidak dapat beroperasi hanya dengan batu mentah; dibutuhkan teknologi, infrastruktur, dan keahlian yang selama ini terkonsentrasi di satu negara.
Dampak pada Industri Pertahanan
Dari perspektif militer, risiko ini jauh lebih serius. Sebuah jet tempur F-35 membutuhkan sekitar 435 kilogram logam tanah jarang. Kapal perusak generasi terbaru memerlukan 4,5 ton, sementara kapal selam nuklir membutuhkan 1,5 ton. Bahkan drone tempur modern bergantung pada magnet yang sebagian besar diproduksi di China.
Tanpa pasokan stabil, produksi sistem pertahanan Barat dapat terganggu. Ini bukan lagi soal ekonomi, melainkan keamanan nasional.
Pentagon telah merespons dengan kebijakan tegas: mulai 1 Januari 2027, logam tanah jarang yang bersumber dari China akan dilarang dalam seluruh rantai pasokan pertahanan AS, mulai dari tambang hingga produk jadi. Kebijakan ini memaksa kontraktor pertahanan mencari sumber alternatif non-China dalam waktu relatif singkat.
Namun tantangan terbesarnya adalah ketersediaan pasokan global yang terbatas dan kesiapan infrastruktur baru yang belum matang.
Pelajaran dari Jepang
Berbeda dengan AS, Jepang telah membangun cadangan strategis rare earth sejak beberapa dekade lalu, cukup untuk konsumsi dua hingga tiga tahun. Langkah itu diambil setelah pengalaman pahit menghadapi pembatasan ekspor China di masa lalu.
Amerika Serikat dan Eropa tidak memiliki cadangan sekuat itu. Ketika China sempat membatasi ekspor tahun lalu, sebuah pabrik Ford dilaporkan terpaksa tutup hampir seketika. Situasi tersebut memperlihatkan betapa cepatnya dampak pembatasan terasa di sektor industri.
Menuju Diversifikasi atau Ketergantungan Baru?
Pemerintah AS menyatakan akan memastikan akses terhadap mineral penting melalui negosiasi dengan China sekaligus pengembangan rantai pasok alternatif. Namun proses diversifikasi ini membutuhkan waktu, investasi besar, dan kerja sama internasional yang kompleks.
Di tengah rivalitas geopolitik yang terus memanas, rare earth kini menjelma menjadi “senjata sunyi” dalam persaingan global. Kelangkaan yttrium dan scandium hanyalah puncak gunung es dari persoalan yang lebih besar: siapa yang mengendalikan bahan baku, mengendalikan masa depan industri strategis dunia.
Bagi Amerika Serikat, krisis ini menjadi alarm keras bahwa kedaulatan industri tidak dapat dibangun hanya dengan kebijakan perdagangan atau tarif. Dibutuhkan fondasi produksi yang kokoh dari hulu hingga hilir.
Jika tidak, setiap pembatasan ekspor akan terus menjadi ancaman laten yang siap mengguncang dirgantara, semikonduktor, hingga pertahanan nasional.
Baca Juga
Komentar