Harga Emas Hari Ini Meledak Kembali Tembus US$4.200, Rekor Tertinggi
Jakarta - Harga emas kembali menembus level tertinggi enam minggu, seiring meningkatnya spekulasi penurunan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed). Pergerakan ini juga diikuti oleh kenaikan harga perak yang mencapai rekor tertinggi sepanjang masa.
Pada perdagangan Selasa (2/12/2025) hingga pukul 06.33 WIB, harga emas dunia di pasar spot tercatat berada di posisi US$4.234,57 per troy ons, melemah tipis 0,05% dibandingkan posisi sebelumnya.
Sementara itu, pada perdagangan Senin (1/12/2025), harga emas dunia naik 0,05% di level US$4.232,45 per troy ons. Lonjakan ini menempatkan emas pada puncak tertinggi selama enam minggu terakhir.
Kenaikan harga emas tersebut terutama didorong oleh ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga The Fed, yang memicu pelemahan dolar AS. Sementara perak juga mencatat rekor tertinggi menjelang rilis sejumlah data ekonomi utama Amerika Serikat.
Indeks dolar AS (DXY) pada perdagangan Senin sempat turun ke level 99,009, sebelum akhirnya ditutup sedikit lebih tinggi dengan pelemahan 0,03% di level 99,41. Pelemahan dolar ini menjadi salah satu faktor pendorong kenaikan harga emas.
David Meger, Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, menuturkan bahwa ekspektasi penurunan suku bunga lebih lanjut, bersama tekanan inflasi yang masih berada di atas target The Fed, tetap menjadi penopang utama harga emas dan perak.
Menurutnya, lingkungan ekonomi saat ini menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi logam mulia, terutama emas dan perak, yang merupakan aset non-yield.
Para pelaku pasar kini meningkatkan taruhan penurunan suku bunga pada Desember menjadi 87%, seiring data ekonomi AS yang menunjukkan pertumbuhan lebih lambat dan pernyataan dovish dari pejabat The Fed, termasuk Gubernur Christopher Waller dan Presiden The Fed New York, John Williams.
“Penurunan suku bunga cenderung menguntungkan aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas,” ujar Meger, menekankan hubungan erat antara kebijakan moneter dan pergerakan harga logam.
Investor kini menanti data penting Amerika Serikat pekan ini, seperti angka ketenagakerjaan ADP untuk November pada hari Rabu, serta Indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) September yang tertunda, sebagai ukuran inflasi pilihan The Fed, yang dijadwalkan rilis Jumat.
Selain data ekonomi, perhatian pasar juga tertuju pada pernyataan Ketua The Fed, Jerome Powell, yang dijadwalkan pada Senin mendatang. Pernyataan ini diyakini akan memberikan petunjuk arah kebijakan moneter selanjutnya.
Ekspektasi bahwa ketua The Fed berikutnya akan lebih dovish daripada pendahulunya juga menjadi faktor tambahan yang mendukung harga emas dan perak.
Meger menambahkan, “Kami melihat tren sideways yang kuat pada emas dan perak, dengan potensi untuk bergerak lebih tinggi dalam beberapa minggu mendatang.”
Penasihat ekonomi Gedung Putih, Kevin Hassett, menyatakan pada hari Minggu bahwa jika terpilih, ia bersedia menjabat sebagai Ketua The Fed berikutnya. Pernyataan ini turut memicu spekulasi pasar mengenai arah kebijakan moneter di masa mendatang.
Menteri Keuangan Scott Bessent menambahkan bahwa ketua baru The Fed kemungkinan akan diumumkan sebelum Natal, yang turut memengaruhi ekspektasi pelaku pasar.
Selain faktor spekulasi suku bunga, tekanan inflasi yang masih berada di atas target juga memicu pergerakan harga emas, karena investor mencari aset yang dapat melindungi nilai kekayaan.
Harga perak juga mengalami lonjakan, mencatat rekor tertinggi, didukung ekspektasi penurunan suku bunga dan meningkatnya permintaan terhadap logam industri.
Sementara itu, analis memperingatkan investor untuk tetap waspada terhadap volatilitas pasar, meskipun tren jangka pendek menunjukkan peluang kenaikan harga emas dan perak.
Secara keseluruhan, kombinasi antara ekspektasi suku bunga rendah, pelemahan dolar, dan kondisi inflasi yang belum stabil menciptakan momentum positif bagi logam mulia pada pekan ini.
Baca Juga
Komentar