Harga Emas Dunia Ambruk Usai Cetak Rekor Tertinggi, Profit Taking Masif Tekan Pasar
Penainsight.com Bekasi - Harga emas dunia mengalami penurunan tajam pada perdagangan Senin (29/12/2025), menyusul aksi ambil untung besar-besaran oleh pelaku pasar setelah logam mulia tersebut mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada akhir pekan lalu.
Tekanan jual terjadi secara cepat dan meluas, menandai perubahan sentimen pasar dari fase reli menuju koreksi dalam waktu singkat.
Berdasarkan data perdagangan, harga emas spot anjlok 4,33% ke level US$ 4.330,12 per ons troi saat berita ini ditulis. Padahal, pada Jumat (27/12/2025), emas sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di posisi US$ 4.549,71 per ons troi.
Pelemahan juga terjadi pada kontrak emas berjangka Amerika Serikat. Harga emas berjangka untuk pengiriman Februari ditutup turun 4,5% ke level US$ 4.348,75 per ons troi.
Analis menilai koreksi tajam ini dipicu oleh aksi profit taking setelah lonjakan harga yang dinilai terlalu cepat dan terlalu tinggi dalam waktu singkat.
Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures David Meger mengatakan, seluruh logam mulia sebelumnya telah bergerak naik hingga mencapai level tertinggi, baik secara jangka pendek maupun sepanjang masa.
“Kini pasar melihat aksi profit taking dari level yang sangat tinggi tersebut,” ujar Meger dalam keterangannya.
Tekanan jual tidak hanya menghantam emas, tetapi juga merembet ke logam mulia lainnya yang sebelumnya mencatatkan kenaikan signifikan.
Harga platinum ambles 14,08% ke level US$ 2.112,53 per ons, setelah sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di posisi US$ 2.478,50 per ons dalam sesi yang sama.
Perak turut mengalami koreksi tajam dengan penurunan 8,51% ke level US$ 72,54 per ons, dari sebelumnya mencetak rekor tertinggi di posisi US$ 83,62 per ons.
Sementara itu, palladium mencatatkan penurunan terdalam di antara logam mulia lainnya. Harganya terjun 14,96% ke level US$ 1.651,11 per ons.
Meski mengalami koreksi harian yang signifikan, kinerja tahunan sejumlah logam mulia masih menunjukkan penguatan yang solid sepanjang 2025.
Perak tercatat sebagai logam dengan kinerja terbaik tahun ini, mencatat lonjakan sekitar 147% sepanjang 2025. Kenaikan tersebut didorong oleh statusnya sebagai mineral kritis, keterbatasan pasokan global, serta meningkatnya permintaan dari sektor industri dan investor.
Meger menilai, prospek perak tetap positif dalam jangka menengah hingga panjang, meskipun volatilitas masih berpotensi berlanjut.
“Faktor fundamental berupa keterbatasan pasokan perak masih kuat dan tetap menjadi penopang pasar. Prospeknya masih positif memasuki 2026,” kata Meger.
Dari sisi geopolitik, ketegangan global kembali meningkat setelah Presiden Rusia Vladimir Putin menyampaikan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa Moskow akan meninjau ulang posisinya dalam perundingan damai.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul serangan drone Ukraina ke wilayah yang disebut sebagai kediaman presiden Rusia, sebagaimana diungkapkan dalam pernyataan resmi Kremlin.
Secara historis, emas kerap diuntungkan dalam kondisi ketidakpastian ekonomi dan geopolitik. Namun, tekanan kali ini menunjukkan bahwa faktor teknikal dan likuiditas pasar turut berperan besar.
Analis komoditas TD Securities Daniel Ghali menilai, pelemahan harga emas diperparah oleh keterbatasan likuiditas pasar menjelang libur akhir tahun, serta tenggat waktu Presiden AS dalam memberikan rekomendasi terkait investigasi mineral kritis.
Menurutnya, kombinasi antara koreksi teknikal, likuiditas tipis, dan aksi ambil untung membuat pasar emas rentan terhadap tekanan dalam jangka pendek.
Baca Juga
Komentar