Fitch Ungkap Fakta Mengejutkan: Penerbitan Sukuk Indonesia Anjlok 36 Persen, Namun Instrumen Jangka Pendek Diprediksi Tetap Perkasa
JAKARTA – Pasar keuangan syariah global memasuki fase penuh tantangan pada semester pertama 2026. Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings melaporkan bahwa penerbitan sukuk di Indonesia dan sejumlah negara utama mengalami penurunan tajam akibat volatilitas pasar dan kenaikan imbal hasil (yield).
Dalam laporan yang dirilis Rabu, 8 Juli 2026, Fitch menyebut total penerbitan sukuk global turun 36 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi sekitar USD125 miliar. Penurunan tersebut terjadi tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di negara-negara Gulf Cooperation Council (GCC), Malaysia, Turki, dan Pakistan.
Meski demikian, Fitch memberikan catatan positif bagi Indonesia. Lembaga tersebut memperkirakan penerbitan sukuk jangka pendek Indonesia akan tetap tangguh pada semester kedua 2026, didorong oleh kebutuhan pendanaan pemerintah yang terus berlanjut.
Aktivitas Pasar Mulai Pulih Setelah Perlambatan
Fitch menjelaskan bahwa aktivitas pasar sempat melambat pada Maret dan April 2026. Banyak penerbit memilih menunggu karena kondisi pasar yang tidak menentu dan biaya pendanaan yang meningkat.
Namun memasuki pertengahan tahun, penerbit dari kategori investment grade maupun speculative grade mulai kembali memasuki pasar secara bertahap.
Ringkasan pasar sukuk global semester I 2026:
| Indikator | Nilai |
|---|---|
| Total penerbitan sukuk global | USD125 miliar |
| Perubahan yoy | -36% |
| Sukuk yang beredar | USD1,1 triliun |
| Pertumbuhan sukuk beredar | +11% |
| Porsi sukuk pada utang dolar AS negara berkembang* | 9% |
*Tidak termasuk Tiongkok.
Data tersebut menunjukkan bahwa meskipun penerbitan baru menurun tajam, nilai sukuk yang masih beredar justru terus meningkat dan mencapai sekitar USD1,1 triliun.
Kenaikan Yield Menekan Penerbitan
Menurut Fitch, faktor utama yang menekan pasar sukuk adalah kenaikan imbal hasil (yield) dan meningkatnya volatilitas pasar keuangan global. Ketika yield naik, biaya pendanaan menjadi lebih mahal sehingga banyak perusahaan dan pemerintah memilih menunda penerbitan surat utang.
Menariknya, penurunan pada pasar sukuk jauh lebih besar dibandingkan pasar obligasi konvensional. Fitch mencatat penerbitan obligasi global hanya turun sekitar 0,8 persen, termasuk penerbitan oleh lembaga multilateral.
Hal ini menunjukkan bahwa pasar sukuk lebih sensitif terhadap perubahan kondisi pendanaan global selama semester pertama tahun ini.
Indonesia Tetap Jadi Pilar Keuangan Syariah
Indonesia masih menjadi salah satu pasar sukuk terbesar di dunia. Pemerintah secara konsisten menerbitkan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) untuk membiayai APBN, proyek infrastruktur, dan berbagai program pembangunan.
Fitch menilai terdapat beberapa faktor yang membuat pasar sukuk Indonesia relatif tahan terhadap tekanan global.
Faktor penopang pasar sukuk Indonesia:
| Faktor | Dampak |
|---|---|
| Kebutuhan pembiayaan APBN | Menjaga aktivitas penerbitan |
| Basis investor domestik besar | Mendukung penyerapan sukuk |
| Pertumbuhan perbankan syariah | Meningkatkan likuiditas pasar |
| Rekam jejak penerbitan pemerintah | Meningkatkan kepercayaan investor |
Dengan dukungan tersebut, Fitch memperkirakan penerbitan sukuk tenor pendek masih akan tetap aktif hingga akhir tahun.
Mengapa Sukuk Jangka Pendek Dinilai Tangguh?
Sukuk jangka pendek memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan instrumen tenor panjang. Risiko perubahan suku bunga relatif lebih rendah dan instrumen ini sering digunakan untuk pengelolaan kas pemerintah.
Fitch menilai ketahanan sukuk jangka pendek Indonesia didorong oleh beberapa hal:
-
Kebutuhan pendanaan pemerintah yang berkelanjutan.
-
Permintaan stabil dari perbankan syariah dan investor institusi.
-
Likuiditas pasar domestik yang cukup kuat.
-
Kepercayaan investor terhadap SBSN yang tetap tinggi.
Kondisi ini membuat sukuk jangka pendek diperkirakan tetap menjadi salah satu instrumen utama pembiayaan pemerintah pada semester kedua 2026.
Sukuk Kian Besar di Negara Berkembang
Laporan Fitch juga menunjukkan bahwa sukuk semakin memainkan peran penting di pasar negara berkembang. Pada semester pertama 2026, sukuk menyumbang sekitar 9 persen dari total utang dolar AS yang diterbitkan di negara berkembang, tidak termasuk Tiongkok.
Di negara-negara GCC, sukuk berperingkat investment grade bahkan memiliki imbal hasil lebih rendah dibandingkan obligasi konvensional dengan profil serupa. Hal ini mencerminkan tingginya minat investor terhadap instrumen syariah berkualitas tinggi.
Geopolitik Jadi Penentu Arah Pasar
Fitch menegaskan bahwa prospek pasar sukuk global akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik, terutama apakah gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran dapat bertahan dan berkembang menjadi stabilitas regional yang lebih permanen.
Jika stabilitas meningkat, lingkungan pendanaan dapat menjadi lebih kondusif. Sebaliknya, eskalasi konflik berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan biaya pendanaan.
Lembaga tersebut memperkirakan dinamika pasar akan terlihat lebih jelas setelah musim liburan di pasar-pasar sukuk utama berakhir, ketika penerbit mulai menjalankan kembali rencana pendanaan dan investor menyusun strategi alokasi aset.
Bashar Al Natoor: Fundamental Kredit Tetap Kuat
Kepala Global Islamic Finance Fitch Ratings, Bashar Al Natoor, memperkirakan penerbitan sukuk global sepanjang 2026 masih akan berada di bawah level tahun 2025.
“Fundamental kredit tetap kuat, tanpa gagal bayar sukuk sejak 2021 dan lebih dari 80 persen sukuk berperingkat Fitch berada dalam kategori investment grade, meskipun porsi penerbit dengan Prospek Stabil menurun menjadi sekitar 80 persen pada semester pertama 2026.”
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pelemahan penerbitan saat ini lebih banyak dipicu oleh kondisi pasar dan ketidakpastian global, bukan oleh memburuknya kualitas kredit secara menyeluruh.
Tidak Ada Gagal Bayar Sejak 2021
Fitch menyoroti sejumlah fakta penting yang menjadi penopang kepercayaan investor:
-
Tidak ada gagal bayar sukuk sejak 2021.
-
Lebih dari 80 persen sukuk berperingkat Fitch termasuk kategori investment grade.
-
Fundamental kredit penerbit secara umum masih kuat.
-
Risiko utama saat ini berasal dari volatilitas pasar dan geopolitik.
Catatan tersebut menjadi kabar positif bagi investor yang masih mencari instrumen pendapatan tetap berbasis syariah dengan kualitas kredit yang baik.
Apa Dampaknya bagi Investor Indonesia?
Bagi investor domestik, laporan Fitch membawa dua pesan penting. Pertama, pasar sukuk Indonesia tetap dipengaruhi oleh perubahan suku bunga global, pergerakan yield, dan kondisi geopolitik internasional.
Kedua, Indonesia memiliki keunggulan berupa basis investor domestik yang besar dan dukungan kuat dari pemerintah. Faktor ini membuat pasar sukuk nasional relatif lebih tahan terhadap guncangan dibandingkan beberapa negara lain.
Sukuk negara masih dipandang sebagai salah satu instrumen penting bagi investor yang menginginkan investasi pendapatan tetap sesuai prinsip syariah dengan tingkat likuiditas yang baik.
Menanti Semester Kedua 2026
Paruh kedua tahun ini akan menjadi periode penentu bagi pasar sukuk global. Pelaku pasar akan mencermati perkembangan suku bunga internasional, stabilitas geopolitik Timur Tengah, strategi pendanaan pemerintah dan korporasi, serta arah alokasi dana investor global.
Jika ketegangan geopolitik mereda dan volatilitas pasar menurun, penerbitan sukuk berpotensi pulih secara bertahap. Namun apabila ketidakpastian kembali meningkat, aktivitas pasar kemungkinan masih akan menghadapi tekanan.
Bagi Indonesia, prospeknya relatif lebih positif. Kebutuhan pembiayaan negara yang terus berjalan diperkirakan akan menjaga aktivitas penerbitan sukuk jangka pendek tetap kuat hingga akhir tahun.
Dengan demikian, penurunan penerbitan sukuk sebesar 36 persen pada semester pertama 2026 memang menjadi sinyal bahwa pasar sedang menghadapi tantangan besar. Namun fundamental kredit yang tetap kuat, tidak adanya gagal bayar sejak 2021, serta kebutuhan pendanaan pemerintah yang berkelanjutan memberikan harapan bahwa pasar sukuk Indonesia masih memiliki daya tahan untuk menghadapi gejolak global dan kembali tumbuh ketika kondisi membaik.
Baca Juga
Komentar