Deforestasi Global, Krisis Hutan Primer, 1.009 Sekolah Rusak Imbas Bencana di Sumatera
Jakarta – Deforestasi Dunia Meningkat, Indonesia Masih Jadi Sorotan Meski Tren Mulai Menurun
Laporan terbaru World Wildlife Fund (WWF) mengungkap fakta mencemaskan tentang kondisi hutan dunia. Setiap tahun, sekitar 15 miliar pohon hilang, sebagian besar akibat aktivitas manusia yang terus menekan keberlangsungan hutan primer.
Data yang dirilis Statista pada 2022 menunjukkan Brasil berada di posisi teratas negara dengan kehilangan hutan tropis primer terbesar. Total yang hilang mencapai 1,7 juta hektare dalam satu tahun. Angka tersebut jauh melampaui negara lain.
Di bawahnya, Republik Demokratik Kongo (DR Kongo) mencatat kehilangan 512 ribu hektare, disusul Bolivia dengan 385,6 ribu hektare. Indonesia berada di urutan berikutnya dengan kehilangan mencapai 230 ribu hektare.
WWF menegaskan bahwa penyebab utama deforestasi adalah alih fungsi lahan. Kebutuhan global terhadap daging, pakan ternak, hingga minyak sawit masih menjadi pendorong utama. “Kerusakan hutan ini berlangsung karena permintaan manusia terus meningkat,” tulis WWF dalam laporannya.
Hutan disebut sangat penting dalam menyerap karbon. Menurut Earth.org, hutan dunia mampu menyerap sekitar 16 miliar metrik ton CO₂ per tahun. Cabang, daun, akar, dan tanah hutan global bahkan menyimpan 861 gigaton karbon.
Selain penyerap karbon, hutan memainkan peran besar dalam siklus air. Ketika tutupan hutan hilang, tanah menjadi lebih rentan terhadap erosi. Akibatnya, risiko banjir dan longsor meningkat tajam di banyak kawasan.
WWF mencatat bahwa hampir setengah lapisan tanah atas dunia telah hilang. Hal ini terjadi seiring hilangnya hampir 4 juta mil persegi hutan sejak awal abad ke-20.
Di Indonesia, penyebab deforestasi tidak hanya berasal dari perkebunan. Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal PNAS pada 12 September 2022 menemukan bahwa 58,2% deforestasi hutan tropis Indonesia terkait aktivitas pertambangan industri.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa sepanjang 2000–2019, kawasan seluas 3.264 km² hutan tropis dibuka untuk pertambangan. Temuan ini didasarkan pada analisis citra satelit di 26 negara.
Selain tambang, perkebunan sawit juga menjadi faktor signifikan. Riset yang terbit di IOP Science tahun 2019 mengungkap bahwa periode 2001–2016, perkebunan sawit menyumbang 23% deforestasi nasional, dengan Sumatera dan Kalimantan menjadi kawasan paling terdampak.
Dalam laporannya, para peneliti menyebut, “Deforestasi yang terus meningkat berpotensi menimbulkan emisi gas rumah kaca dalam jumlah besar dan mengancam fungsi ekosistem yang penting.”
Penelitian lain dari Harvard University juga menemukan penurunan kemampuan pepohonan di Kalimantan dalam menyimpan karbon, terutama pada hutan yang berbatasan dengan perkebunan sawit. Peneliti menyebut permintaan minyak sawit global sebagai faktor penekan utama.
Meski demikian, laporan World Resources Institute (WRI) menunjukkan kabar baik. Dalam satu dekade terakhir, Indonesia mencatat penurunan deforestasi hingga 65%, menjadi yang terendah dalam beberapa tahun terakhir.
Deforestasi bukan hanya persoalan lingkungan. Dampaknya merembet hingga ke kehidupan masyarakat adat, hewan, dan tumbuhan. Lebih dari 80% spesies darat hidup di hutan. Ketika hutan rusak, hilang pula rumah bagi ribuan jenis satwa.
Earth.org menyebut setiap individu dapat berperan dalam mengurangi tekanan lingkungan, mulai dari mengurangi konsumsi daging hingga memilih produk yang tidak mengandung minyak sawit.
Sementara itu, banjir yang melanda sebagian wilayah Sumatera baru-baru ini menunjukkan betapa rentannya kawasan tanpa tutupan hutan. Menurut data Kemendikdasmen, 1.009 sekolah rusak akibat bencana pada akhir November.
Provinsi Aceh mencatat kerusakan 310 sekolah, Sumatera Utara 385 sekolah, dan Sumatera Barat 314 sekolah. Mendikdasmen Abdul Mu’ti memastikan proses belajar tetap berjalan. “Kami sudah melakukan mitigasi dan pemetaan,” ujarnya.
Kemendikdasmen juga telah mendirikan 126 tenda kelas darurat, menyalurkan lebih dari 10 ribu paket perlengkapan sekolah, serta menyediakan dana tanggap darurat tahap awal sebesar Rp 4 miliar.
Bantuan lain berupa buku, dukungan psikososial, hingga revitalisasi sekolah juga tengah disiapkan. Tahun 2026, pemerintah memprioritaskan pemulihan sekolah terdampak bencana.
Di sisi lain, BNPB mengerahkan distribusi logistik melalui jalur darat, laut, dan udara menuju sejumlah daerah di Aceh. Jalur darat yang terputus dialihkan melalui kapal, sementara wilayah terpencil mendapat suplai melalui pesawat dan helikopter.
Bantuan yang dikirim meliputi sembako, makanan siap saji, hygiene kit, matras, kasur lipat, hingga peralatan seperti genset dan perahu LCR. Beberapa daerah juga mendapatkan akses internet darurat melalui perangkat Starlink.
Upaya bersama pemerintah, lembaga dunia, dan masyarakat dinilai sangat penting untuk menekan laju deforestasi. Tanpa langkah konkret, kerusakan hutan akan terus memperburuk perubahan iklim dan meningkatkan risiko bencana di masa depan.
Baca Juga
Komentar