Bahana Sekuritas Ungkap 5 Sektor Tertekan yang Mulai Buka Peluang Investasi Terbaru
JAKARTA — Disrupsi yang menekan sejumlah industri di Indonesia dinilai mulai membuka peluang investasi baru. Tekanan berkepanjangan terhadap industri berpotensi mendorong penyesuaian struktural yang dapat memperbaiki disiplin usaha, utilisasi, hingga tingkat pengembalian perusahaan.
Analis Bahana Sekuritas Raja Abdalla, dalam riset bertajuk “Chaos is a Ladder: Identifying Opportunities Amid Disruption” yang terbit 11 September 2026, melihat peluang tersebut terutama pada industri yang valuasinya telah terkoreksi cukup dalam akibat tekanan kebijakan dan dampaknya terhadap kinerja bisnis.
Menurut Bahana Sekuritas, pasar cenderung lebih memperhatikan ketidakpastian jangka pendek. Padahal, tekanan yang berlangsung lebih lama dapat mendorong perubahan struktural di dalam industri.
Perubahan tersebut dapat terjadi melalui keluarnya pemain yang kurang efisien serta meningkatnya disiplin perusahaan yang mampu bertahan menghadapi tekanan.
Dari 10 industri yang dikaji, Bahana Sekuritas mengidentifikasi lima sektor yang menghadapi tekanan berkepanjangan terhadap tingkat pengembalian modal.
Kelima sektor tersebut adalah semen, konstruksi, nikel, kontraktor pertambangan, dan jalan tol.
Kelima industri tersebut sama-sama mencatat return on invested capital (ROIC) di bawah weighted average cost of capital (WACC). Kondisi itu menunjukkan tingkat pengembalian modal yang dihasilkan perusahaan belum mampu menutup biaya modalnya.
Tekanan paling kuat terlihat pada industri semen dan konstruksi. Kedua sektor tersebut mencatat margin EBITDA di sekitar level terendah dalam sejarah.
Namun, Bahana Sekuritas menilai mekanisme penyesuaian tidak akan berlangsung dengan cara yang sama di setiap industri. Konsolidasi perusahaan juga bukan satu-satunya jalan untuk memperbaiki struktur industri.
Pada sektor semen dan konstruksi, tingginya leverage serta lemahnya kemampuan membayar bunga dapat mendorong kontraktor BUMN dan produsen semen berukuran lebih kecil untuk mengurangi skala bisnis atau melakukan restrukturisasi.
Sementara pada industri nikel, pengurangan produksi dinilai berpotensi menghilangkan pasokan dari produsen dengan biaya marginal tinggi.
Adapun di sektor kontraktor pertambangan, peningkatan disiplin dalam penggunaan armada dan belanja modal dapat mengurangi persaingan yang terlalu agresif.
Bahana Sekuritas juga melihat intervensi pemegang saham dapat menjadi katalis tambahan dalam proses penyesuaian industri. Danantara dinilai dapat mendorong disiplin harga pada produsen semen BUMN sekaligus melakukan restrukturisasi terhadap kontraktor BUMN.
Proses restrukturisasi tersebut pada akhirnya berpotensi menciptakan peluang bagi operator jalan tol untuk melakukan akuisisi aset tertentu.
Meski demikian, Bahana mengingatkan transaksi tersebut tetap harus dilakukan dengan disiplin pendanaan mengingat sejumlah operator jalan tol telah memiliki tingkat leverage yang cukup tinggi.
Saham Pilihan Bahana Sekuritas
Untuk menangkap peluang dari perubahan struktural tersebut, Bahana Sekuritas memilih sejumlah perusahaan yang dinilai memiliki kemampuan memperoleh manfaat lebih besar ketika industri memasuki fase penyesuaian atau reset.
Kandidat yang dipilih mencakup perusahaan dengan kondisi keuangan kuat, pemain yang berpotensi merebut pangsa pasar, emiten yang sedang menjalankan proses turnaround, serta perusahaan yang memiliki peluang melakukan akuisisi aset secara selektif.
Di sektor semen, Bahana Sekuritas memilih PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP). Emiten tersebut dinilai memiliki neraca yang kuat dan berpotensi menikmati perbaikan disiplin harga.
INTP mendapatkan rekomendasi Beli dengan target harga Rp7.200 per saham, dibandingkan harga Rp5.225 ketika riset diterbitkan.
Untuk sektor konstruksi, Bahana Sekuritas merekomendasikan PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) dengan target harga Rp1.930 per saham dari harga Rp1.510.
TOTL dinilai berpeluang meningkatkan pangsa pasar ketika kontraktor dengan keterbatasan finansial mulai mengurangi aktivitas bisnisnya.
Di sektor nikel, pilihan Bahana jatuh kepada PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL). Perusahaan dinilai memiliki operasi terintegrasi dengan struktur biaya yang relatif rendah.
Kondisi tersebut dinilai memberikan peluang bagi NCKL untuk menggantikan pasokan dari produsen marginal sekaligus melakukan ekspansi kapasitas secara selektif.
NCKL mendapatkan rekomendasi Beli dengan target harga Rp1.200 per saham, dibandingkan harga Rp955 pada saat riset diterbitkan.
Sementara itu, di sektor kontraktor pertambangan, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) dipandang sebagai cerita turnaround berbasis eksekusi.
Restrukturisasi internal dan ekspansi armada dinilai dapat menopang peningkatan volume pekerjaan sekaligus profitabilitas perusahaan.
DEWA mendapatkan rekomendasi Beli dengan target harga Rp600 per saham, dibandingkan harga Rp426 saat riset diterbitkan.
Untuk sektor jalan tol, Bahana Sekuritas memilih PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) dengan target harga Rp3.500 per saham dari harga Rp2.990.
JSMR dinilai memiliki peluang untuk memperoleh manfaat dari akuisisi aset. Namun, Bahana tetap menekankan pentingnya disiplin pendanaan mengingat perusahaan masih memiliki tingkat leverage.
Dengan demikian, Bahana Sekuritas melihat tekanan yang saat ini terjadi di sejumlah industri tidak semata-mata sebagai risiko. Jika proses penyesuaian berlangsung secara disiplin, kondisi tersebut justru dapat menjadi momentum bagi perusahaan dengan neraca kuat, biaya rendah, dan kemampuan eksekusi untuk memperbesar pangsa pasar.
Baca Juga
Komentar