Update Diam-Diam JPMorgan hingga Invesco Borong Saham ANTM, Investor Asing Mulai Percaya Emas dan Nikel
JAKARTA — Di tengah tekanan hebat yang mengguncang pasar modal Indonesia sepanjang Mei 2026, sebuah fenomena menarik justru terjadi pada saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Saat sebagian investor asing ramai melepas aset dari Bursa Efek Indonesia akibat gejolak global dan pelemahan rupiah, sejumlah institusi keuangan raksasa dunia malah diam-diam mengoleksi saham emiten tambang pelat merah tersebut dalam jumlah besar.
Nama-nama besar seperti JPMorgan, Manulife Investment Management, hingga Invesco tercatat aktif menambah kepemilikan saham ANTM di tengah situasi pasar yang sedang tidak kondusif. Langkah agresif investor institusi global ini langsung memicu perhatian pelaku pasar karena dianggap sebagai sinyal kuat bahwa saham Antam masih dipandang memiliki prospek cerah untuk jangka panjang.
Berdasarkan data Bloomberg yang dikutip Kontan, setidaknya terdapat sekitar 11 institusi asing yang melakukan akumulasi saham ANTM selama Mei 2026 dengan total volume mencapai 99,29 juta saham.
Fenomena tersebut terjadi di saat IHSG justru mengalami tekanan cukup berat akibat kombinasi sentimen global, kenaikan suku bunga, serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Banyak analis menilai langkah investor institusi global itu bukan kebetulan. Mereka diyakini melihat peluang besar dari kombinasi bisnis emas dan nikel yang dimiliki Antam, terutama di tengah lonjakan permintaan logam strategis dunia.
Saham ANTM sendiri selama beberapa tahun terakhir memang menjadi salah satu emiten tambang paling diperhatikan investor asing. Selain bergerak di sektor emas, Antam juga memiliki eksposur besar terhadap bisnis nikel yang kini menjadi komoditas penting dalam rantai industri kendaraan listrik global.
JP Morgan bahkan sebelumnya memasukkan ANTM ke dalam daftar saham unggulan ASEAN untuk 2026. Bank investasi asal Amerika Serikat itu memberikan rekomendasi overweight terhadap saham ANTM dengan target harga mencapai Rp4.210 per saham. (Ajaib)
Dalam analisanya, JP Morgan menyebut terdapat dua katalis utama yang membuat saham Antam menarik bagi investor global.
Pertama adalah tren kenaikan harga emas dunia yang terus terjadi akibat ketidakpastian ekonomi global dan tensi geopolitik internasional.
Kedua adalah prospek membaiknya harga nikel seiring kebijakan pemerintah Indonesia yang mulai mengetatkan pasokan bijih nikel untuk menjaga keseimbangan pasar global.
Kombinasi dua faktor itu membuat ANTM dinilai memiliki fondasi bisnis yang relatif kuat dibanding banyak emiten komoditas lainnya.
Selain itu, posisi Antam sebagai perusahaan BUMN juga dianggap memberikan tingkat keamanan tertentu bagi investor institusi besar.
Di sisi lain, kenaikan harga emas global selama 2026 ikut memberikan sentimen positif terhadap emiten-emiten berbasis logam mulia.
Harga emas dunia terus mencetak level tinggi akibat kekhawatiran perlambatan ekonomi global, konflik geopolitik, hingga ketidakpastian arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
Kondisi tersebut membuat saham perusahaan tambang emas kembali menjadi incaran investor sebagai aset lindung nilai atau safe haven.
Tidak hanya emas, sektor nikel juga menjadi magnet tersendiri bagi investor global.
Indonesia saat ini merupakan salah satu pemain utama rantai pasok baterai kendaraan listrik dunia. Cadangan nikel nasional yang besar membuat perusahaan-perusahaan tambang berbasis nikel memiliki prospek bisnis jangka panjang yang sangat diperhitungkan pasar internasional.
Antam menjadi salah satu emiten yang paling diuntungkan dari tren tersebut.
Perseroan memiliki tambang nikel besar serta menjadi bagian penting dalam strategi hilirisasi mineral pemerintah Indonesia.
Kebijakan hilirisasi yang terus diperkuat pemerintah dinilai akan memperbesar potensi keuntungan emiten berbasis mineral seperti ANTM dalam beberapa tahun mendatang.
Namun di balik aksi borong investor asing tersebut, pasar tetap menyimpan sejumlah risiko.
Beberapa analis mengingatkan bahwa pergerakan investor institusi global sangat dipengaruhi situasi makroekonomi internasional.
Jika terjadi perubahan sentimen global atau penurunan harga komoditas, investor asing bisa sewaktu-waktu melakukan aksi ambil untung dalam jumlah besar.
Karena itu, investor ritel diminta tetap berhati-hati dan tidak hanya mengikuti euforia pasar semata.
Meski begitu, masuknya institusi besar dunia seperti JPMorgan, Manulife, dan Invesco tetap dianggap sebagai indikator penting bahwa saham ANTM masih memiliki daya tarik tinggi di mata pasar internasional.
Bagi investor domestik, fenomena ini juga menjadi sinyal bahwa sektor komoditas Indonesia masih dipandang strategis oleh pelaku keuangan global.
Menariknya, akumulasi saham ANTM terjadi saat kondisi pasar domestik justru sedang dibayangi arus keluar dana asing.
Dalam beberapa pekan terakhir, investor asing tercatat banyak melakukan aksi jual bersih di sejumlah saham big caps Indonesia akibat kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi domestik dan pelemahan rupiah.
Namun saham Antam justru mampu menarik perhatian tersendiri.
Hal ini memperlihatkan bahwa investor global masih membedakan emiten yang memiliki fundamental berbasis komoditas kuat dengan saham-saham lain yang lebih sensitif terhadap tekanan ekonomi domestik.
Selain faktor emas dan nikel, pasar juga menyoroti posisi Antam sebagai perusahaan yang diuntungkan dari transisi energi dunia.
Permintaan bahan baku kendaraan listrik diprediksi akan terus meningkat dalam jangka panjang, terutama dari negara-negara maju yang sedang mempercepat pengurangan penggunaan energi fosil.
Indonesia sebagai pemilik cadangan nikel besar otomatis menjadi salah satu negara yang paling diperhatikan dalam rantai pasok global tersebut.
Antam pun berada di posisi strategis karena terlibat langsung dalam ekosistem hilirisasi mineral nasional.
Tidak sedikit pelaku pasar memprediksi saham ANTM masih berpotensi mengalami penguatan apabila harga emas dan nikel tetap bertahan di level tinggi sepanjang tahun ini.
Apalagi, tren diversifikasi investasi global ke aset berbasis komoditas diperkirakan masih akan terus berlangsung di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.
Meski demikian, volatilitas pasar tetap menjadi faktor yang harus diwaspadai investor.
Pergerakan harga saham berbasis komoditas sangat dipengaruhi dinamika global mulai dari kebijakan The Fed, konflik geopolitik, hingga permintaan industri dunia.
Karena itu, investor disarankan tetap memperhatikan risiko dan melakukan diversifikasi portofolio sebelum mengambil keputusan investasi.
Fenomena diam-diamnya institusi besar dunia mengoleksi saham Antam kini menjadi perbincangan hangat di pasar modal Indonesia.
Di saat banyak investor panik menghadapi tekanan pasar, langkah para raksasa investasi global justru memperlihatkan keyakinan bahwa sektor emas dan nikel Indonesia masih menyimpan potensi besar untuk jangka panjang.
Baca Juga
Komentar