UMK Naik, Pengangguran Bertambah? Ini Strategi Wali Kota Bekasi Jaga Daya Beli dan Lapangan Kerja
Kota Bekasi - Kenaikan Upah Minimum Kota (UMK) kembali menjadi sorotan publik di Kota Bekasi. Di tengah kebijakan kenaikan UMK sebesar 4–7 persen, muncul kekhawatiran soal meningkatnya angka pengangguran dan naiknya harga pangan yang dapat menekan daya beli masyarakat.
Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, merespons langsung pertanyaan tersebut saat ditemui awak media Jum'at pagi di Pemkot Bekasi (19/12/2025). Ia menegaskan bahwa kebijakan UMK bukan ditetapkan secara sepihak oleh pemerintah daerah, melainkan mengacu penuh pada ketentuan pemerintah pusat.
“Untuk UMK, tentu kita mengacu pada regulasi dan koridor yang sudah ditetapkan pemerintah pusat,” ujar Tri Adhianto. Menurutnya, seluruh asumsi dan formulasi kenaikan upah sudah melalui perhitungan yang matang di tingkat nasional.
Tri tidak menampik bahwa kenaikan UMK berpotensi menimbulkan penyesuaian di sektor usaha. Namun, ia menekankan bahwa tugas pemerintah daerah adalah memastikan agar dampak tersebut tidak menghambat pertumbuhan ekonomi lokal.
“Tugas kita adalah bagaimana daya beli masyarakat tetap terjaga dan aktivitas ekonomi di Kota Bekasi terus tumbuh,” katanya.
Data ketenagakerjaan menunjukkan adanya peningkatan angka pengangguran sekitar 200.000 orang dalam satu tahun terakhir. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi Pemkot Bekasi dalam menjaga keseimbangan antara kesejahteraan pekerja dan daya serap tenaga kerja.
Sebagai langkah konkret, Pemkot Bekasi mengoptimalkan berbagai aktivitas ekonomi agar perputaran uang di masyarakat tetap berjalan. Salah satunya melalui pembukaan gerai UMKM di kawasan Kilometer 06.
“Ini upaya agar produk-produk masyarakat Kota Bekasi, khususnya UMKM, bisa terus tumbuh dan mendapat pasar,” jelas Tri.
Selain itu, Pemkot juga memperbanyak agenda event berskala lokal hingga nasional. Menurut Tri, event menjadi magnet untuk menarik kunjungan masyarakat luar daerah sekaligus menggerakkan sektor perdagangan dan jasa.
Di sektor infrastruktur olahraga, pembangunan stadion terus dikebut. Saat ini, pembangunan stadion telah mencapai enam lantai dan telah digunakan untuk sejumlah cabang olahraga, termasuk bola voli.
Tri berharap ke depan stadion tersebut dapat menjadi tuan rumah liga nasional. Dengan standar nasional dan internasional yang dimiliki, Bekasi berpeluang menjadi pusat berbagai pertandingan besar.
“Kalau ada liga nasional main di Bekasi, efeknya besar. Atlet datang, pertandingan ramai, hotel tumbuh, restoran hidup, rumah makan dan UMKM ikut bergerak,” paparnya.
Tak hanya itu, Pemkot Bekasi juga tengah melakukan peningkatan kawasan wisata Kalimalang. Revitalisasi ini ditujukan untuk menarik wisatawan agar datang, berbelanja, dan tinggal lebih lama di Kota Bekasi.
“Wisata Kalimalang ini salah satu upaya mendatangkan orang ke Bekasi, supaya belanja di sini dan ekonominya berputar,” kata Tri.
Menurutnya, pariwisata perkotaan menjadi salah satu kunci menjaga stabilitas daya beli di tengah tekanan harga kebutuhan pokok.
Dengan meningkatnya aktivitas ekonomi, Tri optimistis akan muncul lapangan pekerjaan baru yang dapat menyerap tenaga kerja lokal.
“Ekonomi yang terus berkembang pasti akan menciptakan peluang kerja baru bagi warga Kota Bekasi,” ujarnya.
Ia menegaskan, Pemkot Bekasi akan terus mengorganisir dan mengoptimalkan seluruh potensi ekonomi yang ada agar kebijakan kenaikan UMK tidak berbanding terbalik dengan kondisi ketenagakerjaan.
“Keseimbangan antara kesejahteraan pekerja, keberlangsungan usaha, dan daya beli masyarakat menjadi fokus utama kami,” tutup Tri Adhianto.
Baca Juga
Komentar