Telkom Hari Ini Bidik Kontribusi Bisnis Enterprise 40%, Caplok 100% Digiserve dan Buka Suara soal Saham GOTO
JAKARTA — PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menargetkan kontribusi bisnis enterprise atau segmen korporasi terhadap total pendapatan perusahaan meningkat hingga kisaran 20%-40%. Untuk mengejar target tersebut, Telkom mengambil langkah strategis dengan mengakuisisi 100% saham PT Digital Aplikasi Solusi (Digiserve).
Direktur Enterprise & Business Service Telkom, Veranita Yosephine, mengatakan kontribusi bisnis enterprise terhadap pendapatan Telkom saat ini masih berada di bawah 15%. Menurutnya, posisi tersebut masih memberikan ruang yang cukup besar bagi perseroan untuk meningkatkan skala bisnis B2B ICT.
"Saat ini bisnis enterprise berkontribusi sekitar kurang dari 15% terhadap pendapatan Telkom. Kami melihat level ini masih sub-optimal dan memiliki ruang pertumbuhan yang masih besar seiring dengan demand dari pasar yang terus meningkat," ujar Veranita dalam konferensi pers usai Public Expose Live 2026, Senin (7/9/2026).
Menurut Veranita, Telkom melihat perusahaan telekomunikasi global sebagai salah satu acuan dalam mengembangkan bisnis enterprise. Di sejumlah perusahaan telekomunikasi global, kontribusi segmen tersebut telah mencapai 20%-40% terhadap total pendapatan grup.
"Di sejumlah perusahaan telekomunikasi global, kontribusi bisnis enterprise telah mencapai 20%-40% terhadap pendapatan total grup. Ini menjadi benchmark dan menunjukkan peluang bagi Telkom untuk terus meningkatkan skala B2B ICT secara bertahap sebagai salah satu sumber pertumbuhan revenue ke depannya," jelasnya.
Telkom Integrasikan Digiserve
Untuk memperkuat bisnis B2B ICT, Telkom akan mengintegrasikan Digiserve secara langsung ke dalam ekosistem bisnis perseroan. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat sinergi sekaligus memperluas kemampuan Telkom dalam menyediakan layanan teknologi informasi dan komunikasi bagi segmen korporasi.
"Digiserve akan menjadi bagian dari segmen B2B ICT Telkom, sehingga pengendalian langsung ini diharapkan dapat memperkuat sinergi dan menghadirkan solusi ICT end-to-end yang lebih terintegrasi," kata Veranita.
Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya Telkom memperbesar kontribusi bisnis non-konsumer. Dengan pengendalian langsung terhadap Digiserve, Telkom diharapkan dapat mengoptimalkan portofolio layanan ICT serta menangkap pertumbuhan kebutuhan transformasi digital di kalangan perusahaan dan institusi.
Telkomsel Buka Suara soal Saham GOTO
Di sisi lain, Telkom juga memberikan penjelasan mengenai investasi PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) di PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang hingga kini masih mencatatkan floating loss sekitar Rp5,22 triliun.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkomsel, Daru Mulyawan, mengatakan investasi Telkomsel di GOTO merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan. Ia menegaskan bahwa pergerakan harga saham GOTO tidak menjadi satu-satunya ukuran untuk melihat manfaat strategis dari investasi tersebut.
"Kami sampaikan bahwa investasi Telkomsel di GOTO merupakan bagian dari keputusan strategis jangka panjang yang berfokus pada optimalisasi potensi sinergis dan penciptaan nilai bagi Telkomsel. Pergerakan saham GOTO mencerminkan dinamika pasar dan tidak merepresentasikan manfaat strategis dari kemitraan tersebut," ujar Daru.
Telkomsel, lanjut Daru, akan terus melakukan evaluasi terhadap kinerja investasi dan realisasi sinergi dengan GOTO. Setiap keputusan terkait investasi akan dilakukan secara hati-hati berdasarkan kajian yang komprehensif serta mengikuti tata kelola dan mekanisme persetujuan yang berlaku.
"Ke depan, Telkomsel akan terus melakukan evaluasi secara disiplin terhadap kinerja investasi dan realisasi sinergi. Setiap keputusan terkait investasi akan diambil secara prudent berdasarkan kajian yang komprehensif serta mengikuti prinsip tata kelola dan mekanisme persetujuan yang berlaku," tuturnya.
Saham GOTO Bertahan di Rp50
Pada perdagangan Senin (7/9/2026) siang, saham GOTO masih berada di level Rp50 per saham. Harga tersebut telah bertahan di level Rp50 sejak 4 Mei 2026.
Berdasarkan data kepemilikan yang disampaikan, Telkomsel menggenggam sekitar 23,72 miliar saham GOTO, atau setara sekitar 1,99% kepemilikan, dengan harga perolehan Rp270 per saham.
Dengan harga pasar GOTO yang berada di Rp50, terdapat selisih sekitar Rp220 per saham dibandingkan harga perolehan. Jika dihitung berdasarkan jumlah saham tersebut, nilai floating loss Telkomsel mencapai sekitar Rp5,22 triliun.
Meski demikian, manajemen Telkom menilai investasi tersebut perlu dilihat secara menyeluruh, termasuk potensi sinergi dan penciptaan nilai bagi Telkomsel. Evaluasi investasi akan tetap dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi pasar serta perkembangan fundamental dan sinergi bisnis.
Baca Juga
Komentar