Ramadan–Idul Fitri 1447 H Diprediksi Picu Lonjakan Energi, Pertamina NRE Aktifkan Satgas Khusus Jaga Pasokan Listrik Nasional
Jakarta—Kebutuhan energi nasional diperkirakan meningkat tajam selama periode Ramadan hingga menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Lonjakan aktivitas masyarakat, mulai dari peningkatan mobilitas, aktivitas industri makanan, hingga konsumsi listrik rumah tangga saat sahur dan berbuka, membuat sektor energi harus berada dalam kondisi siaga penuh.
Mengantisipasi kondisi tersebut, Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) resmi mengaktifkan Satuan Tugas Ramadan dan Idul Fitri (Satgas RAFI) 2026. Langkah ini diambil untuk memastikan stabilitas serta keandalan pasokan energi bersih tetap terjaga sepanjang periode Ramadan hingga masa mudik Lebaran.
Penjabat Sementara Corporate Secretary Pertamina NRE, Rika Gresia Wahyudi, menjelaskan bahwa pembentukan Satgas RAFI merupakan bentuk komitmen perusahaan dalam menjaga operasional pembangkit energi terbarukan tetap optimal ketika permintaan energi meningkat.
Menurutnya, periode Ramadan dan Idul Fitri selalu menjadi momen dengan intensitas konsumsi energi yang lebih tinggi dibandingkan hari biasa. Karena itu, kesiapan operasional seluruh fasilitas energi bersih menjadi faktor krusial.
“Pengaktifan Satgas RAFI sangat vital guna memastikan seluruh aset dan operasional energi bersih yang dikelola Pertamina NRE tetap berjalan andal dan aman, sehingga dapat terus mendukung pasokan listrik nasional selama Ramadan hingga Idul Fitri,” ujar Rika dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (7/3/2026).
Pemantauan Operasi 24 Jam
Dalam operasionalnya, Satgas RAFI akan melakukan pemantauan intensif terhadap seluruh portofolio pembangkit energi bersih yang dikelola Pertamina NRE. Pengawasan ini mencakup berbagai jenis pembangkit, mulai dari tenaga panas bumi, tenaga surya, hingga fasilitas energi rendah karbon lainnya.
Tim operasional yang tergabung dalam Satgas RAFI akan bekerja selama 24 jam secara bergantian. Mereka ditempatkan di berbagai wilayah kerja pembangkit sekaligus terhubung dengan pusat kendali di kantor pusat perusahaan.
Pemantauan tersebut dilakukan tidak hanya secara manual di lapangan, tetapi juga melalui sistem digital terpadu yang memungkinkan pengawasan operasional secara real-time.
Pertamina NRE memanfaatkan teknologi New Renewable Energy Optimization and Visualization (NOVA), sebuah sistem pemantauan aset operasi berbasis digital yang mampu menampilkan data operasional pembangkit secara langsung.
Melalui sistem ini, kondisi pembangkit dapat dipantau secara terintegrasi dari kantor pusat di Jakarta. Teknologi tersebut memungkinkan perusahaan melakukan deteksi dini apabila terjadi gangguan operasional sehingga langkah penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
Selain itu, sistem NOVA juga memberikan gambaran performa pembangkit secara menyeluruh, mulai dari kapasitas produksi energi hingga efisiensi operasional.
Penguatan Kesiapan Personel
Selain teknologi pemantauan, Pertamina NRE juga menaruh perhatian besar pada kesiapan sumber daya manusia yang terlibat dalam operasional pembangkit selama periode RAFI.
Perusahaan memastikan ketersediaan operator dan teknisi di setiap fasilitas pembangkit energi terbarukan. Penjadwalan kerja pun disusun sedemikian rupa agar seluruh fasilitas tetap berada dalam kondisi siaga penuh selama periode Ramadan hingga Idul Fitri.
Langkah lain yang disiapkan adalah penerapan sistem emergency response yang memungkinkan koordinasi cepat dengan berbagai pihak terkait apabila terjadi situasi darurat.
Dengan adanya mekanisme ini, potensi gangguan operasional dapat ditangani dengan cepat sehingga tidak berdampak pada pasokan energi bagi masyarakat.
Kapasitas Energi Bersih 2,5 Gigawatt
Saat ini Pertamina NRE mengelola portofolio energi bersih dengan total kapasitas terpasang mencapai 2,551 gigawatt (GW). Kapasitas tersebut berasal dari berbagai sumber energi terbarukan dan rendah karbon yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia.
Salah satu kontribusi penting berasal dari sektor tenaga surya. Pertamina NRE mengoperasikan 261 unit Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas total mencapai 55,69 megawatt (MW).
PLTS tersebut tersebar di berbagai wilayah operasional dan menjadi bagian dari upaya transisi energi menuju sumber energi yang lebih ramah lingkungan.
Selain tenaga surya, perusahaan juga memiliki kontribusi signifikan melalui pembangkit berbasis gas. Melalui afiliasi PT Jawa Satu Power (JSP), Pertamina NRE turut mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) dengan kapasitas mencapai 1.760 MW.
Pembangkit ini menjadi salah satu tulang punggung sistem kelistrikan nasional karena mampu menghasilkan listrik dalam skala besar dengan tingkat efisiensi tinggi.
Peran Strategis Energi Panas Bumi
Di sektor energi panas bumi, Pertamina NRE berperan melalui anak usaha PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE). Perusahaan ini mengelola enam wilayah kerja panas bumi dengan total kapasitas mencapai 727,5 MW.
Enam wilayah kerja tersebut berada di berbagai daerah strategis, antara lain:
-
Kamojang dan Karaha di Jawa Barat
-
Ulubelu di Lampung
-
Lahendong di Sulawesi Utara
-
Lumut Balai di Sumatera Selatan
-
Sibayak di Sumatera Utara
Panas bumi merupakan salah satu sumber energi terbarukan yang memiliki potensi besar di Indonesia karena ketersediaannya yang stabil dan tidak bergantung pada kondisi cuaca.
Selain itu, Pertamina NRE juga mengembangkan sektor bioenergi melalui pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) dengan kapasitas terpasang 2,4 MW.
Meskipun kapasitasnya relatif kecil dibanding pembangkit lainnya, bioenergi tetap menjadi bagian penting dalam diversifikasi energi bersih di Indonesia.
Mendukung Ketahanan Energi Nasional
Melalui pengaktifan Satgas RAFI 2026, Pertamina NRE menegaskan komitmennya untuk mendukung ketahanan energi nasional, khususnya pada periode Ramadan dan Idul Fitri yang identik dengan peningkatan konsumsi energi.
Pada masa ini, aktivitas masyarakat meningkat signifikan, baik di sektor rumah tangga maupun industri. Konsumsi listrik untuk kegiatan sahur, berbuka puasa, hingga aktivitas ekonomi menjelang Lebaran biasanya mengalami lonjakan.
Dengan kesiapan operasional pembangkit energi bersih serta dukungan sistem pemantauan digital, Pertamina NRE berharap dapat memastikan pasokan energi tetap stabil bagi masyarakat.
Langkah ini juga menunjukkan peran penting perusahaan dalam mendukung program transisi energi nasional menuju sumber energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
“Melalui Satgas RAFI, Pertamina NRE ingin memastikan bahwa seluruh fasilitas energi bersih yang kami kelola mampu beroperasi secara optimal, sehingga masyarakat dapat menjalani Ramadan dan merayakan Idul Fitri dengan nyaman tanpa gangguan pasokan energi,” ujar Rika.
Dengan kesiapan tersebut, Pertamina NRE menegaskan posisinya sebagai salah satu pilar penting dalam pengembangan energi terbarukan di Indonesia sekaligus menjaga keberlanjutan pasokan energi nasional di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat.
Baca Juga
Komentar