Update Daftar 35 Emiten Bagi Dividen Juni 2026, Pemburu Cuan Berpacu Sebelum Cum Date Berakhir
JAKARTA – Pasar modal Indonesia memasuki periode yang selalu dinantikan investor setiap tahunnya, yakni musim pembagian dividen. Memasuki awal Juni 2026, puluhan emiten secara bergantian memasuki jadwal cum dividen, membuka peluang bagi investor untuk memperoleh pendapatan pasif dari kepemilikan saham.
Namun menariknya, euforia pembagian dividen tahun ini terjadi di tengah tekanan besar yang menghantam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada penutupan perdagangan Rabu (3/6/2026), IHSG justru anjlok tajam 4,11 persen ke level 5.941,066, menjadi salah satu koreksi harian terdalam sepanjang tahun berjalan.
Situasi tersebut menciptakan dua fenomena yang berlangsung bersamaan. Di satu sisi investor berburu saham-saham pembagi dividen, sementara di sisi lain tekanan jual masih mendominasi pasar akibat sentimen global dan aksi profit taking yang terjadi hampir di seluruh sektor.
Musim Dividen Jadi Magnet Investor
Bagi investor saham, periode cum dividen merupakan salah satu momentum penting karena menentukan siapa yang berhak menerima pembagian keuntungan perusahaan.
Investor yang membeli saham sebelum tanggal cum dividen berhak mendapatkan dividen sesuai keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Setelah melewati tanggal tersebut, hak memperoleh dividen tidak lagi melekat pada pembeli baru.
Karena itu, menjelang cum date biasanya terjadi peningkatan aktivitas transaksi pada saham-saham yang menawarkan dividen menarik.
Pada pekan pertama Juni 2026, sedikitnya 35 emiten tercatat memasuki jadwal cum dividen secara bertahap. Angka tersebut menunjukkan bahwa musim dividen tahun ini berlangsung cukup ramai dan menjadi perhatian pelaku pasar.
Menurut sejumlah analis, kondisi ini memberikan peluang tersendiri bagi investor yang mengutamakan strategi dividend investing atau investasi berbasis pendapatan dividen.
"Di tengah volatilitas pasar, dividen tetap menjadi salah satu instrumen yang memberikan nilai tambah bagi investor. Karena itu saham dengan rekam jejak pembagian dividen yang konsisten biasanya tetap diminati," ujar seorang analis pasar modal di Jakarta.
Deretan Emiten Cum Dividen Awal Juni
Pada Selasa, 2 Juni 2026, sebanyak 11 emiten tercatat memasuki masa cum dividen.
Beberapa nama yang menarik perhatian investor antara lain PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) yang membagikan dividen Rp180 per saham, PT Jasa Marga Tbk (JSMR) sebesar Rp156,22919 per saham, serta PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) sebesar Rp6,89 per saham.
Selain itu terdapat PT Indika Energy Tbk (INDY) yang membagikan dividen dalam denominasi dolar Amerika Serikat sebesar USD10,24875 serta sejumlah emiten lainnya seperti BFIN, RGAS, LFLO, GEMA, JATI, STAA, dan ASRM.
Sehari kemudian, Rabu (3/6/2026), giliran 13 emiten yang memasuki jadwal cum dividen.
Nama-nama besar yang cukup menyita perhatian pasar antara lain PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) dengan dividen Rp468 per saham, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) sebesar Rp20 per saham, PT Kino Indonesia Tbk (KINO) sebesar Rp45 per saham, serta PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) yang membagikan Rp12 per saham.
Selain itu terdapat EMTK, RMKE, MYOH, KMDS, BOBA, CRSN, SMKL, UVCR, dan PGUN yang juga masuk daftar emiten pembagi dividen.
Hari Ini 11 Emiten Masuk Cum Date
Memasuki Kamis (4/6/2026), sedikitnya terdapat 11 emiten yang memasuki jadwal cum date.
Salah satu yang paling menarik perhatian adalah PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) yang mengumumkan total pembagian dividen mencapai USD200 juta.
Selain AADI, sejumlah emiten lain yang masuk jadwal cum dividen adalah:
-
TAPG dengan dividen Rp91 per saham
-
SMCB sebesar Rp36,518 per saham
-
SMAR sebesar Rp270 per saham
-
PSGO sebesar Rp6 per saham
-
PGAS sebesar Rp125,607435 per saham
-
NRCA sebesar Rp40 per saham
-
MAHA sebesar Rp12 per saham
-
INCI sebesar Rp20 per saham
-
GJTL sebesar Rp80 per saham
-
BISI sebesar Rp26 per saham
Besarnya nominal dividen yang dibagikan beberapa emiten tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi investor yang mencari potensi imbal hasil tambahan di tengah kondisi pasar yang bergejolak.
IHSG Justru Terkapar
Ironisnya, musim dividen yang biasanya menjadi katalis positif pasar kali ini belum mampu menahan tekanan besar terhadap IHSG.
Pada perdagangan Rabu (3/6/2026), indeks utama Bursa Efek Indonesia ditutup merosot 4,11 persen ke posisi 5.941,066.
Pelemahan tersebut menunjukkan bahwa sentimen negatif masih mendominasi perdagangan.
Data perdagangan menunjukkan aktivitas pasar berlangsung sangat tinggi. Lebih dari 2,7 juta transaksi terjadi sepanjang sesi perdagangan dengan volume mencapai sekitar 40 miliar lembar saham dan nilai transaksi menyentuh Rp25,2 triliun.
Meski sempat dibuka menguat di level 6.207,102, tekanan jual terus meningkat hingga membuat indeks terperosok ke zona merah.
Dari seluruh saham yang diperdagangkan, hanya 69 saham yang berhasil mencatat kenaikan. Sebaliknya, sebanyak 692 saham mengalami penurunan dan 54 saham bergerak stagnan.
Komposisi tersebut menggambarkan dominasi aksi jual yang terjadi hampir di seluruh sektor.
Mengapa Investor Tetap Memburu Dividen?
Dalam kondisi pasar yang sedang terkoreksi, saham pembagi dividen sering dianggap lebih defensif dibanding saham yang hanya mengandalkan pertumbuhan harga.
Dividen memberikan kepastian pendapatan tunai kepada investor sehingga dapat membantu mengurangi risiko ketika harga saham berfluktuasi.
Selain itu, perusahaan yang rutin membagikan dividen umumnya memiliki kondisi keuangan yang relatif sehat dan menghasilkan arus kas yang stabil.
Karena alasan itulah saham-saham seperti PGAS, KLBF, CPIN, JSMR, hingga INTP sering menjadi incaran investor jangka panjang.
Namun para analis mengingatkan bahwa investor tidak seharusnya hanya melihat besarnya dividen semata.
Fundamental perusahaan, prospek bisnis, kondisi industri, dan valuasi saham tetap harus menjadi pertimbangan utama sebelum mengambil keputusan investasi.
Strategi Investor di Tengah Volatilitas
Kondisi pasar saat ini membuat investor perlu lebih selektif dalam memilih saham.
Investor jangka panjang biasanya memanfaatkan koreksi harga untuk melakukan akumulasi bertahap pada saham-saham berkualitas yang memiliki fundamental kuat dan rekam jejak dividen yang konsisten.
Sementara itu, investor jangka pendek cenderung memanfaatkan momentum cum dividen untuk memperoleh keuntungan dari pergerakan harga menjelang tanggal pencatatan pemegang saham.
Meski demikian, strategi tersebut juga memiliki risiko karena harga saham sering mengalami penyesuaian setelah memasuki ex-dividend date.
Karena itu, keputusan investasi sebaiknya tetap disesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor.
Peluang Masih Terbuka
Meski IHSG sedang berada dalam tekanan, musim dividen tetap menjadi salah satu faktor yang mampu menjaga minat investor terhadap pasar saham Indonesia.
Puluhan emiten yang membagikan dividen menunjukkan bahwa banyak perusahaan masih mampu membukukan kinerja positif dan menghasilkan laba yang cukup untuk dibagikan kepada pemegang saham.
Dalam jangka panjang, kombinasi antara potensi capital gain dan pendapatan dividen tetap menjadi daya tarik utama investasi saham.
Karena itu, periode cum dividen awal Juni 2026 menjadi momentum penting yang terus dipantau pelaku pasar. Di tengah indeks yang terkoreksi tajam, investor kini menghadapi pilihan menarik: memanfaatkan harga saham yang turun atau memburu emiten dengan dividen besar sebelum kesempatan tersebut berakhir.
Baca Juga
Komentar