Perusahaan Tiongkok Kuasai Tender Proyek Sampah Jadi Listrik di Indonesia, 40 Kota Jadi Sasaran
JAKARTA — Perusahaan-perusahaan asal Tiongkok menjadi pemain dominan dalam pengembangan proyek pengolahan sampah menjadi energi atau waste-to-energy (WtE) di Indonesia. Tingginya partisipasi investor dan penyedia teknologi asal Tiongkok terlihat dalam dua putaran tender yang digelar pemerintah untuk mempercepat penanganan persoalan sampah nasional.
CEO PT Daya Energi Bersih Nusantara, Fadli Rahman, mengatakan perusahaan asal Tiongkok menunjukkan minat yang sangat besar terhadap proyek pengolahan sampah menjadi energi di Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Fadli dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (7/9/2026).
“Perusahaan-perusahaan Tiongkok sangat aktif,” ujar Fadli.
21 Proposal pada Tender Pertama
Berdasarkan laporan kantor berita Xinhua, pemerintah Indonesia telah menggelar dua putaran tender sejak akhir 2025.
Pada putaran pertama, terdapat 21 proposal yang masuk untuk tiga proyek pengolahan sampah menjadi energi. Seluruh proposal tersebut berasal dari perusahaan asal Tiongkok.
Sementara pada putaran kedua, jumlah proposal meningkat signifikan. Dari total 68 proposal untuk delapan proyek, sekitar 60% di antaranya berasal dari perusahaan Tiongkok.
Besarnya partisipasi tersebut menunjukkan kuatnya posisi perusahaan Tiongkok dalam ekosistem pengembangan infrastruktur waste-to-energy di Indonesia.
Namun, keterlibatan perusahaan asing tidak selalu dilakukan secara mandiri. Fadli menyebut sejumlah perusahaan Tiongkok juga menggandeng perusahaan Indonesia untuk membentuk kemitraan yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap proyek dan karakteristik wilayah.
Proyek Sampah Jadi Listrik Menyasar 40 Kota
Program waste-to-energy pemerintah diarahkan ke 40 kota di Indonesia yang menghadapi persoalan sampah.
Pembangunan dilakukan secara bertahap dengan target penyelesaian pada 2027 hingga 2028.
Sejumlah proyek bahkan telah memasuki tahap pembangunan, antara lain berada di Bali, Kota Bekasi, dan Legok Nangka, Jawa Barat.
Program tersebut diharapkan tidak hanya mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir, tetapi juga menghasilkan energi yang dapat dimanfaatkan.
Konsep ini menjadi salah satu pendekatan pemerintah dalam mengatasi persoalan sampah sekaligus meningkatkan pemanfaatan sumber energi alternatif.
Pemerintah Dorong Pengelolaan Sampah dari Hulu
Direktur Pengelolaan Limbah Kementerian Lingkungan Hidup, Melda Mardalina, mengatakan program pengelolaan sampah tidak hanya berfokus pada teknologi pembangkit listrik dari sampah.
Menurutnya, strategi nasional juga mencakup pengelolaan sampah sejak dari sumbernya.
Tahap tersebut meliputi pemisahan sampah dari sumber, pengolahan limbah organik, pemanfaatan bahan bakar turunan sampah atau refuse-derived fuel (RDF), biogas, hingga pengomposan.
Dengan pendekatan tersebut, sampah yang masuk ke fasilitas pengolahan dapat dikurangi sekaligus meningkatkan nilai guna limbah.
Indonesia Hasilkan 144.000 Ton Sampah per Hari
Percepatan program pengelolaan sampah dinilai penting karena volume sampah Indonesia sangat besar.
Data Kementerian Lingkungan Hidup yang disampaikan dalam paparan tersebut menunjukkan Indonesia menghasilkan sekitar 144.000 ton sampah setiap hari.
Namun, baru sekitar 25% sampah yang disebut telah terkelola dengan baik.
Artinya, masih terdapat volume sampah yang sangat besar yang membutuhkan sistem pengelolaan lebih efektif, mulai dari pengurangan di tingkat rumah tangga hingga pemrosesan akhir.
Pemerintah menargetkan seluruh sampah di Indonesia dapat dikelola pada 2029. Target tersebut juga diarahkan agar tidak ada lagi sampah yang dibuang secara langsung ke lingkungan.
Teknologi Jadi Kunci Pengembangan Waste-to-Energy
Besarnya partisipasi perusahaan Tiongkok dalam tender proyek WtE memperlihatkan bahwa teknologi dan pengalaman pengolahan sampah menjadi energi menjadi salah satu faktor penting dalam proyek tersebut.
Bagi Indonesia, masuknya investor dan teknologi asing dapat membantu mempercepat pembangunan fasilitas pengolahan sampah. Di sisi lain, pola kemitraan dengan perusahaan dalam negeri juga membuka peluang transfer teknologi dan penguatan kapasitas industri nasional.
Pemerintah kini menghadapi tantangan untuk memastikan pembangunan fasilitas WtE berjalan sesuai target, sekaligus memastikan pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir tetap menjadi bagian dari sistem nasional.
Dengan sasaran 40 kota dan target penyelesaian bertahap pada 2027–2028, proyek pengolahan sampah menjadi energi diperkirakan menjadi salah satu program strategis Indonesia dalam menghadapi krisis sampah sekaligus mencari sumber energi alternatif.
Dominasi perusahaan Tiongkok dalam proses tender menjadi salah satu perkembangan penting yang akan menentukan arah investasi dan teknologi waste-to-energy di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.
Baca Juga
Komentar