Konflik Global Buka Peluang Ekspor RI, Kemendag Bidik Asia Tenggara dan Afrika
JAKARTA — Konflik geopolitik yang terjadi di kawasan Timur Tengah dipastikan akan berdampak pada perubahan peta perdagangan internasional. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perdagangan Republik Indonesia mulai menyiapkan strategi untuk mengantisipasi dampak berkepanjangan terhadap aktivitas ekspor dan impor.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan bahwa konflik global biasanya akan mengganggu rantai pasok perdagangan dunia sehingga membuka peluang pasar baru bagi negara lain.
Menurutnya, pemerintah akan memanfaatkan peluang tersebut dengan memperluas pasar ekspor Indonesia ke sejumlah wilayah potensial.
“Krisis geopolitik itu biasanya akan mengubah peta perdagangan global. Ketika ada negara yang ekspornya terhambat atau tidak bisa memasok barang ke suatu pasar, maka akan muncul ruang kosong yang bisa dimanfaatkan negara lain,” ujar Budi Santoso dalam keterangannya.
Sebagai langkah awal, Kementerian Perdagangan Republik Indonesia berencana merambah pasar ekspor baru di kawasan Asia Tenggara dan Afrika.
Pasar tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk menggantikan pasokan dari negara-negara yang terdampak konflik.
Meski demikian, Budi Santoso menegaskan pemerintah masih mengkaji dampak konflik terhadap sejumlah komoditas ekspor Indonesia, terutama yang bergantung pada bahan baku impor.
Pemerintah juga akan menggelar pertemuan dengan para eksportir untuk membahas berbagai kendala teknis yang terjadi di lapangan.
Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah keluhan dari asosiasi logistik terkait lonjakan biaya pengiriman yang disebut mencapai 100 persen akibat konflik yang mengganggu jalur perdagangan global.
Pemerintah berharap langkah ekspansi pasar baru ini dapat menjaga stabilitas ekspor nasional sekaligus meminimalkan dampak ekonomi dari ketegangan geopolitik global.
Baca Juga
Komentar