Harrison Ford Ungkap Kerusakan Tesso Nilo di Riau, Video 2013 Kembali Viral 2025
Jakarta - Gelombang banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera kembali menyeret perhatian publik pada kondisi hutan Indonesia. Di tengah ramainya laporan kondisi Taman Nasional Tesso Nilo yang semakin memprihatinkan, rekaman lama aktor Hollywood Harrison Ford mendadak viral kembali dan memicu diskusi luas.
Video yang direkam pada 2013 itu merupakan bagian dari dokumenter lingkungan Years of Living Dangerously. Dalam serial tersebut, Harrison Ford datang langsung ke Indonesia untuk menginvestigasi kerusakan hutan akibat ekspansi perkebunan sawit.
Salah satu momen paling kuat dalam dokumenter itu adalah ketika Ford melakukan pemantauan udara menggunakan helikopter di atas kawasan Tesso Nilo, Riau. Kawasan yang secara resmi berstatus taman nasional itu tampak berubah drastis.
Dari udara, Ford terlihat terkejut melihat hamparan hutan telah berubah menjadi lahan gundul yang didominasi perkebunan sawit ilegal. “Ini mengerikan. Lihat itu. Mereka menebangnya, menjatuhkan pohon, membakar semuanya. Wow,” ujarnya dengan raut prihatin.
Dalam dokumenter tersebut, Ford juga disebut tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya ketika mendengar bahwa hanya sekitar 18 persen hutan Tesso Nilo yang masih tersisa pada saat itu. Ia menilai kerusakan tersebut sebagai masalah serius yang membutuhkan pertanggungjawaban pihak terkait.
Ford saat itu didampingi oleh Michael Stuewe dari World Wildlife Fund (WWF). Stuewe menjelaskan bahwa dari total 86.000 hektare luas taman nasional, yang tersisa diperkirakan tinggal 18.000 hektare. Penjelasan itu semakin menambah kekesalan sang aktor.
Ford kemudian menegaskan bahwa ia ingin langsung menanyakan hal itu kepada Menteri Kehutanan. “Ini luar biasa. Aku tidak sabar untuk bertemu Menteri Kehutanan. Aku tidak sabar,” katanya tegas.
Rekaman pertemuan Ford dengan Menteri Kehutanan periode 2009–2014, Zulkifli Hasan, kini kembali beredar luas. Dalam percakapan itu, Ford menyampaikan berbagai temuan lapangannya dan menanyakan kepastian langkah pemerintah.
Ford membuka dialog dengan mengatakan bahwa ia telah beberapa minggu berada di Indonesia dan menemukan adanya hubungan kuat antara bisnis dan politik terkait eksploitasi hutan. “Dalam 15 tahun terakhir, 80 persen hutan telah dieksploitasi,” katanya kepada Zulkifli.
Zulkifli menjawab bahwa Indonesia masih berada dalam masa transisi demokrasi dan berbagai persoalan membutuhkan proses panjang. “Saya yakin suatu saat nanti akan ada titik yang seimbang,” ujarnya.
Percakapan semakin memanas saat Ford menyinggung kondisi Tesso Nilo. Ia menyebut hutan itu hanya menyisakan 18 persen dan kerusakan tampak di mana-mana. “Ini tidak lucu. Hutan ditebang, terbakar. Anda melihatnya. Apa yang sudah Anda lakukan?” tanya Ford dengan nada meninggi.
Zulkifli menanggapi bahwa perusakan tersebut tidak terjadi tiba-tiba. Ia menyebut pemerintah masih berupaya menyelesaikan persoalan dan mencari lahan pengganti bagi para peladang. “Ini bukan Amerika. Kami baru mengalami reformasi,” ujarnya.
Ford kemudian memotong pembicaraan dan mengatakan, “Anda memang ingin kalah dalam pertempuran ini. Itu yang Anda katakan kepada saya, kan?” Zulkifli yang tampak terdesak hanya menjawab, “Ya.”
Cuplikan dialog itu kembali mengemuka dan memenuhi kolom komentar kanal YouTube The Years Project. Warganet menggambarkan situasi tersebut sebagai gambaran nyata kerusakan hutan yang sudah terjadi lebih dari satu dekade.
Sementara pada 28 Oktober 2014, pemerintah mengukuhkan Taman Nasional Tesso Nilo seluas 81.793 hektare melalui SK resmi. Namun data terbaru menunjukkan bahwa kerusakan bahkan semakin parah sebelum dan sesudah penetapan tersebut.
Satelit Google Earth melalui fitur Timelapse memperlihatkan bahwa kawasan tersebut masih hijau pada 2009. Namun mulai 2012, warna coklat menguasai sebagian wilayah, dan pada 2014 kondisi itu makin meluas.
Pada tahun 2025, hasil pantauan udara Gubernur Riau Abdul Wahid bersama Bupati Pelalawan Zukri menunjukkan kenyataan yang lebih ekstrem. Dari total 81.793 hektare, sekitar 70.000 hektare kini berubah menjadi perkebunan sawit ilegal.
Kondisi itu menjadi sorotan karena bertepatan dengan meningkatnya bencana ekologis di Sumatera. Media sosial dipenuhi komentar warganet yang menyebut peringatan Harrison Ford 12 tahun lalu kini menjadi kenyataan yang tak bisa dihindari.
Video tersebut kembali menjadi pengingat keras bahwa kerusakan hutan bukan isu lama yang sudah berlalu, melainkan masalah yang masih terus berlangsung hingga hari ini.
Baca Juga
Komentar