Happy Hapsoro Serok Saham RAJA Rp34,9 Miliar, Update Harga Ambles 45 Persen Saat Bersiap Stock Split 1:5
Jakarta – Langkah agresif kembali dilakukan pengusaha nasional Hapsoro Sukmonohadi alias Happy Hapsoro di pasar modal Indonesia. Menantu Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri itu tercatat menambah kepemilikan saham PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) di tengah tekanan harga saham yang masih bergerak fluktuatif sepanjang tahun 2026.
Melalui entitas Sentosa Bersama Mitra, Happy Hapsoro memborong sebanyak 12,04 juta lembar saham RAJA dalam dua tahap transaksi pada 20 hingga 21 Mei 2026. Nilai transaksi tersebut mencapai sekitar Rp34,93 miliar dan langsung menjadi perhatian pelaku pasar karena dilakukan ketika saham RAJA masih berada dalam tren pelemahan tajam.
Aksi korporasi ini memunculkan spekulasi baru di kalangan investor terkait prospek bisnis perseroan, terlebih RAJA saat ini juga tengah mempersiapkan aksi stock split dengan rasio 1:5 guna meningkatkan likuiditas perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Berdasarkan keterbukaan informasi pasar modal, pembelian tahap pertama dilakukan pada 20 Mei 2026 dengan nilai transaksi mencapai Rp34,46 miliar. Dalam transaksi itu, Happy Hapsoro membeli sebanyak 11,85 juta saham di harga Rp2.900 per lembar.
Kemudian pada tahap kedua yang berlangsung sehari setelahnya, ia kembali mengoleksi 190 ribu saham RAJA di harga Rp3.010 per lembar dengan nilai transaksi sekitar Rp571,9 juta.
Dengan tambahan tersebut, total kepemilikan saham RAJA milik Happy Hapsoro kini meningkat menjadi sekitar 1,51 miliar saham atau setara dengan 35,73 persen dari total saham beredar perseroan.
Jumlah tersebut naik dibanding posisi sebelumnya yang berada di angka 1,49 miliar saham atau sekitar 35,45 persen.
Langkah pembelian ini dianggap sebagai sinyal kepercayaan pemegang saham utama terhadap prospek jangka panjang perusahaan, meskipun kondisi pasar saham energi dan infrastruktur saat ini masih menghadapi tekanan cukup besar.
Saham RAJA Masih Tertekan Sepanjang 2026
Di tengah aksi akumulasi saham tersebut, pergerakan saham RAJA sendiri masih berada dalam tekanan.
Pada perdagangan Jumat, 22 Mei 2026, saham RAJA ditutup di level Rp3.420 per lembar setelah turun 410 poin atau melemah sekitar 13,62 persen dibanding hari sebelumnya.
Jika dihitung sejak awal tahun atau year to date (YTD), saham RAJA bahkan telah terkoreksi sekitar 45,71 persen dari posisi Rp6.300 pada 2 Januari 2026.
Penurunan tajam itu menjadikan saham RAJA salah satu emiten yang paling disorot investor dalam beberapa bulan terakhir.
Padahal dalam periode 52 minggu terakhir, saham RAJA sempat mencetak harga tertinggi di level Rp8.475 per lembar sebelum akhirnya mengalami koreksi besar-besaran akibat tekanan pasar dan aksi profit taking.
Sementara titik terendah saham perseroan dalam setahun terakhir tercatat berada di level Rp2.190 per saham.
Meski mengalami tekanan harga, kapitalisasi pasar RAJA masih tergolong besar dengan nilai sekitar Rp14,46 triliun. Perseroan juga mencatat price to earning ratio (P/E ratio) sebesar 28,09 kali.
Sejumlah analis menilai aksi pembelian yang dilakukan Happy Hapsoro berpotensi menjadi sentimen positif psikologis bagi pasar karena menunjukkan adanya keyakinan internal terhadap fundamental perusahaan.
RAJA Siapkan Stock Split 1:5
Di tengah gejolak harga saham tersebut, manajemen RAJA juga tengah mematangkan rencana pemecahan nilai nominal saham atau stock split dengan rasio 1:5.
Artinya, setiap satu saham lama nantinya akan dipecah menjadi lima saham baru.
Jika aksi korporasi ini disetujui pemegang saham, maka nilai nominal saham RAJA akan berubah dari Rp25 per saham menjadi Rp5 per saham.
Perseroan menyebut langkah stock split dilakukan untuk meningkatkan kualitas perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia sekaligus memperluas partisipasi investor ritel.
Manajemen menilai harga saham RAJA yang sempat berada di kisaran Rp4.170 per lembar dianggap relatif tinggi bagi sebagian investor, terutama pemodal ritel yang memiliki modal terbatas.
Dengan stock split, harga saham secara teoritis akan menjadi lebih murah sehingga dinilai lebih terjangkau dan dapat meningkatkan daya tarik perdagangan.
Selain itu, peningkatan jumlah saham beredar diharapkan mampu mendongkrak frekuensi transaksi harian saham RAJA.
Perseroan juga berharap aksi korporasi tersebut dapat membantu menciptakan perdagangan saham yang lebih likuid, teratur, dan efisien sesuai ketentuan pasar modal.
Bidik Investor Ritel Lebih Luas
Stock split kerap menjadi strategi emiten untuk memperluas basis investor.
Dalam penjelasannya kepada publik, RAJA menyebut harga saham yang lebih rendah berpotensi meningkatkan minat investor baru untuk masuk ke saham perseroan.
Dengan semakin banyak investor yang dapat membeli saham RAJA, maka likuiditas perdagangan diharapkan meningkat signifikan.
Tak hanya itu, perseroan juga berharap persepsi pasar terhadap saham RAJA dapat menjadi lebih positif dalam jangka panjang.
Manajemen menilai peningkatan likuiditas dan jumlah pemegang saham dapat memberikan nilai tambah bagi seluruh investor.
Rencana stock split tersebut akan dimintakan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang dijadwalkan berlangsung pada 23 Juni 2026.
Sementara pemegang saham yang berhak hadir dalam rapat harus tercatat pada recording date 26 Mei 2026.
Jika seluruh proses berjalan lancar, jadwal pelaksanaan stock split akan dimulai pada pertengahan Juli 2026.
Berdasarkan jadwal yang telah diumumkan, tanggal terakhir perdagangan saham dengan nominal lama di pasar reguler dan negosiasi jatuh pada 13 Juli 2026.
Sedangkan transaksi saham dengan nominal lama di pasar tunai berakhir pada 15 Juli 2026.
Distribusi saham baru hasil stock split dijadwalkan berlangsung pada 16 Juli 2026 sekaligus menjadi awal perdagangan saham dengan nominal baru di seluruh pasar.
Investor Pantau Arah Bisnis Energi
Sebagai perusahaan yang bergerak di sektor energi dan infrastruktur gas, RAJA selama ini dikenal memiliki sejumlah lini bisnis strategis di Indonesia.
Pergerakan saham perseroan juga cukup sensitif terhadap sentimen harga energi global, proyek infrastruktur nasional, hingga dinamika ekonomi makro domestik.
Karena itu, aksi pembelian saham oleh Happy Hapsoro dianggap memiliki arti penting di tengah kondisi pasar yang belum stabil.
Beberapa pelaku pasar melihat langkah tersebut sebagai bentuk optimisme terhadap prospek jangka panjang perusahaan, terutama setelah koreksi harga saham yang cukup dalam sepanjang 2026.
Namun demikian, investor tetap diminta mencermati kondisi fundamental dan volatilitas pasar sebelum mengambil keputusan investasi.
Analis pasar modal menilai saham-saham yang mengalami koreksi besar memang sering menjadi incaran investor jangka panjang, terutama jika didukung aksi akumulasi dari pemegang saham utama.
Di sisi lain, sentimen stock split juga berpotensi meningkatkan perhatian pasar terhadap saham RAJA dalam beberapa pekan mendatang.
Apalagi, secara historis, aksi stock split kerap memicu peningkatan volume transaksi karena harga saham menjadi lebih terjangkau bagi investor ritel.
Kini, pasar menunggu apakah kombinasi aksi borong saham dan stock split tersebut mampu menjadi katalis kebangkitan saham RAJA setelah mengalami tekanan panjang sepanjang tahun ini.
Baca Juga
Komentar