Grup Djarum Beber Fakta Terbaru Eksekusi 10,86 Persen Saham Bakrie Telecom (BTEL), Rp969 Miliar Masuk Lewat Konversi Obligasi
JAKARTA — Perubahan peta kepemilikan saham PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) kembali menjadi sorotan pasar. Terbaru, PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo), entitas yang berada dalam ekosistem Grup Djarum melalui PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), resmi tercatat memiliki 4.846.785.385 saham BTEL atau setara 10,86 persen.
Namun, ada fakta penting di balik transaksi tersebut. Protelindo menegaskan bahwa perolehan saham BTEL bukan berasal dari transaksi repurchase agreement atau pembelian saham biasa di pasar, melainkan merupakan pelaksanaan konversi Obligasi Wajib Konversi (OWK).
Keterangan tersebut disampaikan Protelindo untuk meluruskan mekanisme masuknya saham BTEL ke dalam portofolio perseroan. Informasi ini menjadi perhatian karena nilai saham yang dikonversi mencapai sekitar Rp969,35 miliar, dengan harga pelaksanaan Rp200 per saham. (Emiten News)
Fakta Baru di Balik Kepemilikan 10,86 Persen BTEL
Protelindo menjelaskan bahwa kepemilikan 10,86 persen saham Bakrie Telecom merupakan hasil pelaksanaan hak yang berasal dari OWK. Mekanisme tersebut memiliki sejarah panjang dan berkaitan dengan proses restrukturisasi utang BTEL.
Dasarnya adalah perjanjian perdamaian tertanggal 8 Desember 2014 antara Bakrie Telecom dengan para krediturnya, termasuk Protelindo. Perjanjian tersebut merupakan tindak lanjut dari putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat terkait proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) Sementara BTEL pada 10 November 2014.
Dengan demikian, perubahan kepemilikan yang terjadi pada Agustus 2026 bukan semata-mata aksi akuisisi saham baru oleh Grup Djarum. Ada rangkaian restrukturisasi dan kewajiban yang telah berlangsung sejak lebih dari satu dekade lalu.
Dalam keterbukaan informasi, Protelindo juga menegaskan bahwa kepemilikan tersebut tidak bersifat material terhadap kegiatan usaha maupun kondisi keuangan perseroan.
Eksekusi Terjadi pada 20 Agustus 2026
Data transaksi menunjukkan pelaksanaan konversi dilakukan pada 20 Agustus 2026 dengan harga Rp200 per saham. Dari mekanisme tersebut, Protelindo memperoleh sebanyak 4,84 miliar saham BTEL.
Jika dikalikan dengan harga pelaksanaan Rp200, nilai saham yang diperoleh mencapai sekitar Rp969,35 miliar.
Angka tersebut menjadi salah satu fakta yang paling menarik perhatian investor karena saham BTEL di Bursa Efek Indonesia (BEI) telah lama berada dalam kondisi tidak aktif diperdagangkan. Sejumlah laporan menyebut saham BTEL masih tertahan di level Rp50 dan telah mengalami penghentian perdagangan sejak 2019.
Perbedaan antara harga pelaksanaan OWK sebesar Rp200 dengan harga pasar BTEL yang berada di level Rp50 membuat transaksi ini semakin menarik untuk dicermati. Meski demikian, mekanisme tersebut harus dilihat dalam konteks pelaksanaan hak konversi berdasarkan struktur restrukturisasi utang yang telah disepakati sebelumnya, bukan sebagai pembelian saham biasa di pasar reguler.
Bukan Repurchase Agreement
Protelindo secara khusus memberikan penjelasan bahwa kepemilikan saham BTEL tersebut bukan merupakan pelaksanaan repurchase agreement.
Penegasan ini penting karena transaksi dengan nilai hampir Rp1 triliun dapat menimbulkan persepsi berbeda apabila tidak dilihat berdasarkan dokumen dan mekanisme hukum yang mendasarinya.
Wakil Direktur Utama Protelindo Anita Anwar mengatakan perseroan tetap menjalankan strategi bisnis dengan fokus pada pengembangan kegiatan usaha utama. Setiap peluang bisnis juga akan dipertimbangkan secara selektif dengan memperhatikan kepentingan jangka panjang perusahaan dan para pemangku kepentingan.
Artinya, masuknya Protelindo sebagai pemegang saham BTEL belum otomatis dapat dimaknai sebagai perubahan pengendalian perusahaan.
Data yang dilaporkan juga menunjukkan Protelindo tercatat sebagai salah satu pemegang saham, bukan sebagai pemegang saham pengendali. (Liputan6.com)
Enam Entitas Konversi OWK BTEL
Perubahan struktur saham BTEL sebenarnya tidak hanya berasal dari Protelindo. Pada pelaksanaan OWK tanggal 20 Agustus 2026, terdapat sejumlah entitas yang melakukan konversi obligasi menjadi saham.
Berdasarkan informasi yang tersedia, total saham baru hasil pelaksanaan konversi OWK mencapai sekitar 6,316 miliar saham. Sebelum pelaksanaan konversi, jumlah saham BTEL yang tercatat di BEI sekitar 38,33 miliar saham.
Selain Protelindo, beberapa entitas yang tercatat melakukan konversi antara lain PT Inti Bangun Sejahtera Tbk sebanyak sekitar 250,81 juta saham, PT Komet Infra Nusantara sekitar 47,36 juta saham, PT Solusi Tunas Pratama Tbk sekitar 888,12 juta saham, PT Sarana Inti Persada sekitar 35,51 juta saham, serta PT Reka Jasa Akses sekitar 247,50 juta saham.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perubahan struktur kepemilikan BTEL merupakan bagian dari pelaksanaan konversi OWK secara lebih luas.
Struktur Pemegang Saham BTEL Ikut Berubah
Masuknya saham baru dari konversi OWK otomatis mengubah komposisi kepemilikan pemegang saham lama. Dilusi menjadi salah satu konsekuensi utama bertambahnya jumlah saham beredar.
Data kepemilikan per akhir Juli 2026 sebelumnya menunjukkan beberapa pemegang saham BTEL, di antaranya Raiffeisen Bank sekitar 5,77 persen, Bakrie Global 6,89 persen, Huawei Tech 16,13 persen, Bioful 8,21 persen, dan Mahinda Agung 13,05 persen.
Sementara itu, kelompok pemegang saham dengan kepemilikan di bawah 5 persen tercatat sekitar 49,65 persen dan saham treasuri sekitar 0,3 persen.
Setelah adanya penerbitan saham baru hasil konversi, persentase kepemilikan sejumlah pemegang saham lama mengalami perubahan karena jumlah saham beredar meningkat.
Mengapa BTEL Kembali Menjadi Sorotan?
Nama Bakrie Telecom kembali menjadi perhatian investor setelah munculnya pemegang saham baru dari ekosistem Grup Djarum.
BTEL sebelumnya dikenal sebagai perusahaan telekomunikasi yang mengoperasikan sejumlah merek, termasuk Esia. Namun, perubahan teknologi dan tekanan pada bisnis telekomunikasi berbasis Code-Division Multiple Access (CDMA) membuat bisnis inti perseroan mengalami tekanan berat.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat perjalanan saham BTEL di BEI berbeda dibandingkan emiten telekomunikasi lainnya. Sahamnya telah lama berada dalam status suspensi dan tidak aktif diperdagangkan secara normal.
Karena itu, masuknya Protelindo dengan kepemilikan 10,86 persen menjadi perkembangan yang menarik untuk dicermati, khususnya dari sisi restrukturisasi, kepemilikan saham, serta kemungkinan arah bisnis BTEL ke depan.
Grup Djarum Masuk, tetapi Bukan Berarti Mengambil Alih BTEL
Fakta lain yang perlu diperhatikan adalah posisi Protelindo sebagai pemegang saham baru tidak serta-merta berarti Grup Djarum mengambil alih Bakrie Telecom.
Kepemilikan sebesar 10,86 persen memang menjadikan Protelindo sebagai salah satu pemegang saham signifikan. Namun, persentase tersebut masih berada jauh di bawah posisi yang secara otomatis menunjukkan pengendalian perusahaan.
Dengan demikian, fokus utama dari transaksi ini adalah pelaksanaan konversi OWK dan perubahan struktur permodalan BTEL.
Bagi pasar, perkembangan selanjutnya akan menjadi penting untuk melihat apakah masuknya entitas Grup Djarum hanya berhenti pada kepemilikan hasil konversi obligasi atau berkembang menjadi bagian dari strategi bisnis yang lebih besar.
Kronologi Singkat Transaksi BTEL
Rangkaian peristiwa ini bermula dari proses restrukturisasi utang Bakrie Telecom pada 2014. Perjanjian perdamaian antara BTEL dan para kreditur kemudian menjadi dasar berbagai kewajiban yang salah satunya berbentuk Obligasi Wajib Konversi.
Lebih dari satu dekade kemudian, pelaksanaan konversi tersebut menghasilkan saham baru BTEL.
Pada 20 Agustus 2026, OWK dikonversi menjadi saham dengan harga pelaksanaan Rp200 per saham. Protelindo menerima sebanyak 4.846.785.385 saham BTEL.
Selanjutnya, informasi kepemilikan tersebut disampaikan kepada otoritas pasar modal. Pada 24 Agustus 2026, kepemilikan Protelindo tersebut menjadi bagian dari informasi yang diperhatikan pasar.
Pada 26 Agustus 2026, penjelasan Protelindo kembali menegaskan bahwa perolehan saham tersebut merupakan hasil konversi OWK berdasarkan perjanjian perdamaian, bukan transaksi repurchase agreement.
Perubahan ini membuat struktur kepemilikan BTEL kembali menjadi perhatian di tengah pasar modal Indonesia.
Dengan nilai konversi sekitar Rp969,35 miliar, kepemilikan 10,86 persen saham BTEL menjadi salah satu perkembangan korporasi yang menarik untuk diikuti. Terutama karena transaksi tersebut mempertemukan ekosistem bisnis Grup Djarum dengan perusahaan yang selama ini dikenal sebagai bagian dari Grup Bakrie.
Perkembangan berikutnya akan sangat bergantung pada langkah Protelindo, kondisi restrukturisasi BTEL, status perdagangan saham di BEI, serta strategi perusahaan setelah perubahan struktur pemegang saham tersebut.
Baca Juga
Komentar