Diam-Diam Borong! Lo Kheng Hong Tambah Saham di 13 Emiten, Portofolio Tembus Rp1,83 Triliun
JAKARTA — Pergerakan investor kawakan Lo Kheng Hong kembali menjadi sorotan pasar modal. Berdasarkan data terbaru yang dirilis Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 31 Maret 2026, pria yang dijuluki “Warren Buffett-nya Indonesia” itu tercatat melakukan penambahan kepemilikan saham di sejumlah emiten strategis.
Nilai total portofolio sahamnya kini diperkirakan mencapai sekitar Rp1,83 triliun, mengacu pada harga penutupan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 10 April 2026. Angka ini menunjukkan konsistensi strategi investasi jangka panjang yang selama ini menjadi ciri khas Lo Kheng Hong.
Langkah akumulasi yang dilakukan di tengah dinamika pasar global dan domestik ini pun memicu spekulasi sekaligus optimisme di kalangan pelaku pasar. Banyak yang menilai, pergerakan Lo bisa menjadi sinyal kuat arah saham-saham tertentu ke depan.
Dominasi Saham dengan Kepemilikan di Atas 5 Persen
Dalam daftar kepemilikan terbaru, Lo Kheng Hong tercatat memiliki saham di 13 emiten. Pada kelompok kepemilikan di atas 5 persen, lima saham menjadi tulang punggung portofolionya.
Saham DILD menjadi yang terbesar dengan porsi 6,79 persen atau setara 704,1 juta saham. Dengan harga sekitar Rp125 per lembar, nilai investasinya mencapai lebih dari Rp88 miliar.
Disusul BMTR dengan kepemilikan 6,44 persen atau sekitar 1,06 miliar saham senilai Rp158 miliar. Kemudian GJTL sebesar 6,26 persen dengan nilai pasar sekitar Rp246 miliar.
Tak kalah signifikan, ABMM mencatatkan kepemilikan 5,64 persen dengan nilai sekitar Rp478 miliar. Sementara SIMP menjadi yang terbesar secara nilai, yakni mencapai Rp518 miliar dengan kepemilikan 5,03 persen.
Dominasi saham-saham tersebut memperlihatkan kecenderungan Lo Kheng Hong memilih perusahaan dengan fundamental kuat namun valuasi relatif murah—strategi klasik value investing.
Diversifikasi di Saham Mid dan Small Cap
Selain saham-saham mayoritas, Lo juga mempertahankan diversifikasi pada emiten dengan kepemilikan di bawah 5 persen. Di antaranya adalah RALS sebesar 2,19 persen dengan nilai sekitar Rp67 miliar.
Kemudian CFIN sebesar 1,63 persen, BEST sebesar 1,34 persen, serta LSIP sebesar 1,31 persen dengan nilai mencapai Rp128 miliar.
Beberapa saham lain seperti ADMG, MAIN, dan PNIN juga masuk dalam daftar, meski dengan porsi yang lebih kecil.
Menariknya, Lo juga masih tercatat memiliki saham SRIL sebesar 1,02 persen, meskipun saham tersebut masih dalam kondisi suspensi. Ini menunjukkan keyakinannya terhadap potensi jangka panjang meski risiko jangka pendek masih tinggi.
Aksi Tambah Saham: Sinyal Kuat ke Pasar
Jika dibandingkan dengan posisi Februari 2026, terdapat sejumlah peningkatan kepemilikan pada beberapa saham. Di antaranya adalah DILD yang naik dari 696 juta menjadi 704 juta saham.
Hal serupa terjadi pada GJTL yang meningkat dari 209 juta menjadi 218 juta saham. Saham BEST juga mengalami kenaikan signifikan dari 111 juta menjadi 129 juta lembar.
Selain itu, ABMM dan RALS juga mencatatkan kenaikan tipis. Sementara saham lainnya cenderung stagnan, menunjukkan strategi selektif dalam melakukan akumulasi.
Kenaikan ini bukan sekadar angka. Di mata pelaku pasar, aksi beli investor besar seperti Lo Kheng Hong sering kali dianggap sebagai indikator kepercayaan terhadap prospek emiten.
“Smart money is moving” menjadi istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan fenomena ini—di mana pergerakan investor besar menjadi acuan bagi investor ritel.
Kenaikan Nilai Portofolio Seiring Penguatan Harga
Tidak hanya jumlah saham yang bertambah, nilai pasar portofolio Lo Kheng Hong juga meningkat seiring kenaikan harga saham di beberapa emiten.
Sebagai contoh, nilai investasi di GJTL naik dari sekitar Rp225 miliar menjadi Rp246 miliar. BMTR juga meningkat dari Rp140 miliar menjadi Rp158 miliar. Sementara SIMP melonjak dari Rp464 miliar menjadi Rp518 miliar.
Kondisi ini menunjukkan bahwa strategi akumulasi yang dilakukan sebelumnya mulai membuahkan hasil, terutama di tengah sentimen pasar yang mulai membaik.
Penguatan ini juga tidak lepas dari kondisi global yang relatif kondusif, termasuk meredanya ketegangan geopolitik dan stabilitas harga komoditas.
Strategi Value Investing yang Konsisten
Lo Kheng Hong dikenal sebagai penganut strategi value investing, yakni membeli saham dengan harga murah namun memiliki fundamental kuat. Strategi ini menuntut kesabaran tinggi karena keuntungan biasanya baru terlihat dalam jangka panjang.
Dalam berbagai kesempatan, Lo sering menegaskan bahwa dirinya tidak tertarik pada fluktuasi jangka pendek. Ia lebih fokus pada nilai intrinsik perusahaan dan potensi pertumbuhan di masa depan.
Pendekatan ini terbukti efektif, mengingat portofolionya terus berkembang meski pasar mengalami berbagai gejolak dalam beberapa tahun terakhir.
Apa Artinya Bagi Investor Ritel?
Pergerakan Lo Kheng Hong selalu menjadi perhatian investor ritel. Namun para analis mengingatkan bahwa meniru portofolio investor besar tidak selalu menjadi strategi yang tepat.
Setiap investor memiliki profil risiko, tujuan investasi, dan horizon waktu yang berbeda. Apa yang cocok bagi Lo Kheng Hong belum tentu sesuai bagi investor lain.
Meski demikian, ada pelajaran penting yang bisa diambil, yaitu pentingnya riset mendalam, kesabaran, dan disiplin dalam berinvestasi.
Prospek ke Depan
Dengan portofolio yang kini mencapai Rp1,83 triliun, Lo Kheng Hong kembali membuktikan dirinya sebagai salah satu investor paling konsisten di pasar modal Indonesia.
Aksi akumulasi saham yang dilakukannya di tengah kondisi pasar saat ini bisa menjadi sinyal bahwa peluang masih terbuka lebar, terutama pada saham-saham dengan valuasi menarik.
Ke depan, pergerakan portofolio Lo akan tetap menjadi acuan penting bagi pelaku pasar. Apakah strategi ini akan kembali menghasilkan keuntungan besar? Waktu yang akan menjawab.
Namun satu hal yang pasti, ketika Lo Kheng Hong bergerak, pasar selalu memperhatikan.
Baca Juga
Komentar