Wali Kota Bekasi Tri Adhianto Tarling di Mustika Jaya: Gaspol Kebersihan, Pabrik Pengolahan Sampah 2028 & Layanan Ambulans!
BEKASI, 2 Maret 2026 – Suasana Ramadan di Kecamatan Mustika Jaya terasa berbeda ketika Tri Adhianto, Wali Kota Bekasi, menghadiri Tarawih Keliling (Tarling) di Masjid Al A’raaf, Minggu (1/3). Di hadapan jamaah, ia tak hanya menyampaikan pesan spiritual, tetapi juga membeberkan komitmen konkret Pemerintah Kota Bekasi terkait kebersihan, pengelolaan sampah, hingga pembenahan layanan kesehatan darurat.
Momentum Tarling yang biasanya identik dengan silaturahmi, kali ini berubah menjadi panggung penyampaian arah kebijakan strategis. Pesannya jelas: perubahan Kota Bekasi dimulai dari hal paling mendasar—kebersihan lingkungan dan pelayanan publik yang manusiawi.
Apresiasi Masjid Bersih, Cermin Kesadaran Kolektif
Dalam sambutannya, Tri Adhianto menyanjung penataan dan kebersihan Masjid Al A’raaf. Ia menyebut masjid yang rapi dan nyaman mencerminkan kedewasaan serta tanggung jawab kolektif warganya.
“Masjid ini tertata dengan rapi dan bersih. Ini mencerminkan kesadaran bersama bahwa rumah ibadah harus dijaga dengan penuh tanggung jawab,” ujarnya.
Apresiasi tersebut bukan basa-basi. Bagi Wali Kota, kebersihan rumah ibadah adalah simbol peradaban kota. Jika masjid bisa terjaga, maka sekolah, kantor, hingga lingkungan permukiman seharusnya juga bisa.
Deklarasi Sekolah Negeri Bersih Tanpa Sampah
Dalam kesempatan yang sama, Tri menegaskan bahwa Pemerintah Kota Bekasi akan mendorong seluruh sekolah negeri mendeklarasikan diri sebagai sekolah bersih dan bebas sampah. Ia ingin gerakan ini menjadi budaya, bukan sekadar program musiman.
“Kita mulai dari kebersihan. Sekolah negeri tidak ada yang kotor, kita deklarasikan bersama. Kesadaran itu harus dimulai dari diri sendiri,” tegasnya.
Langkah ini dinilai strategis. Sekolah adalah ruang pembentukan karakter. Jika sejak dini siswa dibiasakan menjaga kebersihan, dampaknya akan terasa hingga ke rumah dan lingkungan sekitar. Pemerintah ingin membangun ekosistem yang saling menguatkan antara kebijakan dan kesadaran masyarakat.
Pembangkit Listrik dari Sampah: Target Operasi 2028
Isu sampah menjadi salah satu fokus utama dalam Tarling tersebut. Tri mengungkapkan bahwa pada Senin (2/3) akan dilakukan penandatanganan kerja sama pembangunan pembangkit listrik berbasis pengolahan sampah. Proyek ini diproyeksikan menjadi solusi jangka panjang atas persoalan penumpukan sampah di Kota Bekasi.
Selama ini, pengelolaan sampah masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari deposit yang menggunung hingga pencemaran sungai. Pemerintah Kota Bekasi juga telah menggandeng pengelola pabrik pengolahan sampah lama untuk mengurai masalah secara bertahap.
“Sampah yang menumpuk menjadi perhatian serius. Secara perlahan, sungai-sungai kita, dari Kali Asem sampai sepanjang jalan tol, tidak akan lagi hitam dan berbau menyengat. Targetnya, awal tahun 2028 satu pabrik pengolahan sampah sudah beroperasi penuh,” jelasnya.
Jika terealisasi tepat waktu, proyek ini bukan hanya mengurangi beban TPA, tetapi juga menghasilkan energi listrik yang bernilai ekonomi. Transformasi sampah menjadi energi menjadi simbol perubahan paradigma: dari beban menjadi berkah.
Layanan Ambulans: Dari Pilu ke Solusi
Tak hanya soal kebersihan dan sampah, Tri juga menyinggung layanan kesehatan, khususnya ambulans dan rujukan pasien. Ia berbagi pengalaman emosional ketika masih menjabat kepala dinas. Saat itu, ambulans RSUD harus membayar hingga Rp2,5 juta untuk merujuk pasien ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.
“Sebagai kepala dinas saja saat itu saya merasa pilu, apalagi warga,” kenangnya.
Pengalaman tersebut menjadi titik balik pembenahan sistem rujukan. Ketika menjabat Wakil Wali Kota, ia mulai mendorong reformasi layanan agar masyarakat tidak lagi terbebani biaya tambahan yang mencekik di saat darurat.
Kini, ia mengimbau warga memanfaatkan kanal media sosial resmi Wali Kota sebagai jalur cepat koordinasi apabila membutuhkan ambulans dalam kondisi genting. Pendekatan digital ini diharapkan mempercepat respons dan meminimalkan birokrasi berbelit.
Tarling sebagai Media Komunikasi Publik
Kegiatan Tarawih Keliling bukan sekadar agenda rutin Ramadan. Bagi Tri Adhianto, ini adalah sarana komunikasi langsung dengan masyarakat. Ia bisa mendengar aspirasi warga sekaligus menyampaikan program prioritas tanpa sekat formalitas.
Ramadan menjadi momentum tepat untuk mengajak masyarakat memperkuat kesadaran kolektif. Nilai kebersamaan dan gotong royong yang kental dalam bulan suci diharapkan menjadi fondasi perubahan kota.
“Perubahan tidak bisa hanya dari pemerintah. Kita harus memupuk kesadaran dari diri sendiri dan menjadi contoh dalam tindakan nyata,” tutupnya.
Bekasi Menuju Kota Lebih Bersih dan Humanis
Editorial ini mencatat bahwa komitmen yang disampaikan di Masjid Al A’raaf bukan janji kosong. Ada garis besar kebijakan yang jelas: sekolah bersih, pengolahan sampah modern, serta layanan kesehatan yang lebih adil.
Tantangannya tentu tidak ringan. Persoalan sampah di kota penyangga ibu kota seperti Bekasi bersifat kompleks, dipengaruhi pertumbuhan penduduk, urbanisasi, dan aktivitas industri. Namun langkah membangun pembangkit listrik dari sampah menunjukkan keberanian mengambil solusi struktural.
Begitu pula pembenahan layanan ambulans. Akses kesehatan darurat adalah hak dasar warga. Ketika pemerintah hadir dan memastikan tak ada lagi biaya tak wajar dalam situasi genting, kepercayaan publik akan tumbuh.
Kini publik menunggu konsistensi realisasi. Target awal 2028 untuk operasional penuh pabrik pengolahan sampah menjadi milestone penting. Sementara deklarasi sekolah bersih harus diikuti pengawasan dan pembinaan berkelanjutan.
Ramadan 2026 menjadi titik awal pesan perubahan: Bekasi bersih, sungai tak lagi hitam, dan warga mendapat pelayanan kesehatan yang layak tanpa beban. Jika semangat Tarling ini terjaga hingga di luar bulan suci, bukan mustahil Kota Bekasi benar-benar bertransformasi menjadi kota yang lebih sehat, tertata, dan humanis.
Baca Juga
Komentar