Update terbaru Saham BJTM Di Borong Direksi dan Komisaris Bank Jatim
JAKARTA – Aksi serentak jajaran direksi dan komisaris PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM) membeli saham perseroan menjadi sorotan pelaku pasar modal. Di tengah dinamika pasar saham nasional, langkah para petinggi Bank Jatim memborong saham dinilai sebagai sinyal kepercayaan terhadap prospek bisnis bank milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur tersebut.
Transaksi yang dilakukan pada 14 Juli 2026 melibatkan tujuh pejabat utama Bank Jatim, mulai dari Direktur Utama hingga Komisaris. Seluruh pembelian dilakukan pada harga Rp510 per saham, yang merupakan bagian dari Program Long Term Incentive (LTI) berbasis kepemilikan saham langsung.
Aksi korporasi tersebut berlangsung bersamaan dengan kabar positif lain yang diterima Bank Jatim, yakni PEFINDO kembali menegaskan peringkat idAA- dengan prospek stabil, mencerminkan fundamental perusahaan yang masih dinilai solid.
Direksi dan Komisaris Serentak Membeli Saham
Keterbukaan informasi yang disampaikan manajemen Bank Jatim pada Rabu (15/7/2026) mengungkapkan bahwa Direktur Utama Winardi Legowo membeli 248.100 lembar saham BJTM pada harga Rp510 per saham.
Tidak hanya Winardi, sejumlah direktur lain juga melakukan aksi pembelian saham pada hari yang sama.
Berikut rinciannya:
| Nama | Jabatan | Jumlah Saham Dibeli |
|---|---|---|
| Winardi Legowo | Direktur Utama | 248.100 |
| Tonny Prasetyo | Direktur | 153.400 |
| Wiweko Probojakti | Direktur | 152.400 |
| Arif Suhirman | Direktur | 320.700 |
| Umi Rodiyah | Direktur | 296.600 |
| RM Wahyukusumo | Direktur | 149.000 |
| Adhi Karyono | Komisaris | 189.100 |
Seluruh transaksi dilakukan pada harga Rp510 per saham.
Kepemilikan Saham Para Direksi Bertambah
Setelah transaksi tersebut, kepemilikan saham masing-masing pejabat meningkat.
Adapun komposisinya sebagai berikut:
| Nama | Total Kepemilikan Setelah Pembelian |
|---|---|
| Winardi Legowo | 748.100 saham (0,005%) |
| Tonny Prasetyo | 256.400 saham (0,0017%) |
| Wiweko Probojakti | 262.400 saham (0,0017%) |
| Arif Suhirman | 5.655.700 saham (0,0377%) |
| Umi Rodiyah | 2.466.900 saham (0,0164%) |
| RM Wahyukusumo | 149.000 saham (0,001%) |
| Adhi Karyono | 438.300 saham (0,0029%) |
Meski secara persentase kepemilikan masih relatif kecil dibanding total saham beredar, aksi pembelian serentak oleh seluruh jajaran manajemen menjadi perhatian investor.
Mengapa Insider Buying Menjadi Sorotan?
Dalam dunia pasar modal, pembelian saham oleh direksi atau komisaris sering dikenal sebagai insider buying.
Aksi tersebut umumnya dipersepsikan sebagai bentuk keyakinan manajemen terhadap prospek perusahaan.
Pasalnya, pihak internal dinilai memiliki pemahaman paling mendalam mengenai kondisi bisnis, strategi perusahaan, hingga peluang pertumbuhan di masa mendatang.
Meski demikian, aksi insider buying tidak selalu menjamin harga saham akan langsung naik. Investor tetap perlu mencermati fundamental perusahaan, kinerja keuangan, kondisi industri, hingga sentimen ekonomi secara keseluruhan.
Program Long Term Incentive
Manajemen menjelaskan bahwa transaksi dilakukan dalam rangka Program Long Term Incentive (LTI).
Program ini bertujuan menyelaraskan kepentingan manajemen dengan pemegang saham melalui kepemilikan saham langsung.
Dengan memiliki saham perusahaan, direksi dan komisaris diharapkan memiliki komitmen lebih besar dalam meningkatkan nilai perusahaan dalam jangka panjang.
Program seperti ini lazim diterapkan pada perusahaan terbuka sebagai bagian dari tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance).
PEFINDO Tegaskan Rating idAA-
Di tengah aksi pembelian saham tersebut, Bank Jatim juga memperoleh kabar positif dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO).
Lembaga pemeringkat itu kembali menegaskan:
-
Peringkat Korporasi: idAA-
-
Prospek: Stabil
Peringkat tersebut juga berlaku terhadap obligasi Bank Jatim yang masih beredar.
Menurut PEFINDO, terdapat sejumlah faktor yang menjadi kekuatan utama Bank Jatim.
Faktor Pendukung Rating
-
Memiliki captive market yang kuat di Provinsi Jawa Timur.
-
Struktur permodalan sangat kuat.
-
Likuiditas yang sehat.
-
Dukungan pemerintah daerah sebagai pemegang saham pengendali.
Namun demikian, terdapat sejumlah tantangan yang masih perlu diperbaiki.
Faktor Pembatas
-
Kualitas aset masih berada pada level moderat.
-
Persaingan kredit produktif semakin ketat.
-
Tekanan industri perbankan akibat perlambatan ekonomi.
Peluang Naik Peringkat
PEFINDO menyebut terdapat peluang peningkatan rating apabila Bank Jatim mampu:
-
meningkatkan posisi bisnis secara signifikan;
-
memperbaiki kualitas aset;
-
menjaga profitabilitas secara berkelanjutan;
-
memperkuat pangsa pasar.
Sebaliknya, rating dapat mengalami penurunan apabila pangsa pasar menyusut atau indikator keuangan memburuk, khususnya pada kualitas aset dan profitabilitas.
Bank Daerah dengan Jejak Panjang
Bank Jatim merupakan salah satu bank pembangunan daerah terbesar di Indonesia.
Didirikan pada 1961, perusahaan memiliki fokus utama melayani sektor pemerintahan daerah, aparatur sipil negara (ASN), pelaku UMKM, hingga pembiayaan sektor produktif di Jawa Timur.
Sejak mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia pada 2012, Bank Jatim terus memperluas layanan digital serta meningkatkan pembiayaan bagi sektor usaha dan pembangunan daerah.
Per 31 Maret 2026, struktur pemegang saham Bank Jatim terdiri atas:
| Pemegang Saham | Kepemilikan |
|---|---|
| Pemerintah Provinsi Jawa Timur | 51,13% |
| Pemerintah Kabupaten/Kota | 28,41% |
| Publik | 20,46% |
Komposisi tersebut menjadikan pemerintah daerah tetap sebagai pemegang saham pengendali.
Respons Investor
Aksi pembelian saham oleh jajaran direksi dan komisaris biasanya mendapat perhatian positif dari investor karena menunjukkan tingkat kepercayaan internal terhadap prospek perusahaan.
Di sisi lain, keputusan PEFINDO mempertahankan rating idAA- juga memperkuat persepsi bahwa kondisi fundamental Bank Jatim masih berada pada jalur yang sehat.
Meski demikian, analis mengingatkan bahwa keputusan investasi tidak cukup hanya berdasarkan aksi insider buying. Investor tetap perlu memperhatikan kinerja keuangan triwulanan, kualitas kredit, rasio pembiayaan bermasalah (NPL), pertumbuhan laba, hingga prospek industri perbankan nasional.
Optimisme terhadap Prospek Bank Jatim
Langkah kolektif direksi dan komisaris membeli saham BJTM menjadi salah satu sinyal optimisme terhadap masa depan perusahaan. Program Long Term Incentive yang mendorong kepemilikan saham manajemen diharapkan mampu meningkatkan keselarasan kepentingan antara pengelola perusahaan dan pemegang saham.
Ditambah dengan peringkat idAA- berprospek stabil dari PEFINDO, Bank Jatim menunjukkan fondasi yang masih kuat untuk menghadapi tantangan industri perbankan. Namun, perusahaan tetap dihadapkan pada pekerjaan rumah untuk menjaga kualitas aset, memperkuat profitabilitas, dan mempertahankan pangsa pasar di tengah kompetisi yang semakin ketat.
Bagi investor, kombinasi aksi insider buying dan fundamental yang relatif solid menjadi faktor menarik untuk dicermati. Meski demikian, keputusan investasi tetap perlu mempertimbangkan analisis menyeluruh terhadap kondisi pasar dan kinerja perusahaan dalam jangka panjang.
Referensi: Keterbukaan Informasi PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (15 Juli 2026), PEFINDO, Bursa Efek Indonesia (BEI).
Baca Juga
Komentar