Wali Kota Bekasi Soroti Semangat ASN di Tengah Hujan, Hanya Sedikit yang Ambil WFH!
Bekasi, 26 Januari 2026 – Wali Kota Bekasi, Tri Ardhiyanto, memberikan apresiasi tinggi terhadap semangat para pegawai di lingkungan Pemerintah Kota Bekasi yang tetap bekerja penuh meski hujan ekstrem melanda wilayahnya. Dalam pernyataan resminya, Tri menyoroti fenomena minimnya pegawai yang memanfaatkan Work From Home (WFH) meski pemerintah memberikan kesempatan untuk tetap produktif dari rumah.
“Spirit semangatnya pegawai di lingkungan pemerintah kota Bekasi sungguh luar biasa. Kemarin saja, kita berikan kesempatan mereka untuk WFH, tapi tidak ada yang ambil, kecuali beberapa orang saja dari dua dinas,” ujar Tri, Senin (26/01/2026).
Wali Kota menjelaskan bahwa hujan yang terjadi merupakan fenomena anomali yang kerap sulit diprediksi. Biasanya prediksi untuk hujan ekstrem dilakukan lima hingga 25 tahun sekali, namun saat ini curah hujan tinggi terjadi hampir setiap tahunnya.
“Kalau orang dulu prediksi lima tahunan, 20 tahun, 25 tahun, ternyata hari ini kita tahunan juga. Hanya memang konsepnya yang berbeda,” jelas Tri. Menurutnya, kondisi ini menuntut pemerintah untuk bersikap situasional dalam mengambil kebijakan operasional.
Dalam sistem prediksi lama, tiga indikator dipakai untuk menentukan potensi banjir: kenaikan debit Kali Bekasi akibat kiriman air, kenaikan Rope (Reservoir Operasi Program), dan hujan. Namun kali ini, hanya dua indikator yang terpenuhi, yaitu hujan dan Rope.
Tri Ardhiyanto menekankan pentingnya kerja sama lintas daerah, khususnya dengan pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Jawa Barat, dalam menanggulangi risiko banjir dan longsor akibat hujan ekstrem.
“Kita sudah sampaikan terima kasih kepada Pak Gubernur Jakarta karena beliau memodifikasi beberapa strategi terkait cuaca. Dari BNPB sendiri, mereka memiliki keterbatasan anggaran sehingga harus mencakup seluruh Indonesia,” jelasnya. Tri menambahkan bahwa keterbatasan sarana, termasuk pesawat, membuat penanganan rekayasa sungai di wilayah Jabodetabek sedikit terlambat.
Di sisi lain, pemerintah Provinsi Jawa Barat juga telah melakukan rekayasa di Bendung Barat untuk mengantisipasi longsor susulan. Langkah ini dilakukan sebagai upaya preventif agar bencana tidak meluas dan meminimalkan risiko bagi warga.
Kebijakan WFH bagi pegawai yang terdampak cuaca ekstrem sebenarnya sudah diterapkan, namun sebagian besar pegawai tetap memilih bekerja dari kantor. Menurut Tri, hal ini menunjukkan profesionalisme dan dedikasi tinggi aparatur sipil negara di Bekasi.
“Ini sungguh membanggakan. Semangat kerja para pegawai Kota Bekasi luar biasa. Mereka tetap hadir dan bekerja maksimal meski hujan lebat,” kata Tri.
Tri juga menekankan bahwa pemerintah kota selalu siap menyesuaikan kebijakan operasional sesuai situasi cuaca. Dengan pengawasan yang cermat dan koordinasi lintas instansi, pemerintah Kota Bekasi berharap dapat meminimalkan dampak banjir dan bencana lain akibat hujan ekstrem.
Selain koordinasi antar daerah, Tri menegaskan pentingnya rekayasa sungai dan manajemen debit air yang tepat sebagai upaya preventif. Saat ini, beberapa bendungan dan saluran air tengah direkayasa untuk mengurangi risiko banjir, sementara intensitas hujan masih dipantau secara berkala.
“Kami terus berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk BNPB dan pemerintah provinsi. Semua ini dilakukan untuk memastikan masyarakat dan pegawai tetap aman serta aktivitas pemerintah tetap berjalan lancar,” tambah Tri.
Wali Kota mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap curah hujan tinggi dan potensi banjir. Selain itu, masyarakat juga diingatkan untuk mengikuti arahan pemerintah daerah, seperti evakuasi bila diperlukan dan menghindari area rawan longsor.
Dengan semangat gotong royong dan koordinasi lintas instansi, pemerintah Kota Bekasi optimis dapat menghadapi tantangan cuaca ekstrem dan memastikan layanan publik tetap berjalan tanpa hambatan berarti.
Baca Juga
Komentar