Update IHSG Berpeluang Tembus 6.100! Harga Minyak Turun, Ini 5 Saham Pilihan Analis
JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan melanjutkan pergerakan stabil dengan kecenderungan menguat pada perdagangan Jumat, 26 Juni 2026. Sejumlah sentimen positif, baik dari dalam maupun luar negeri, menjadi penopang optimisme pelaku pasar, mulai dari penurunan harga minyak mentah dunia, kebijakan terbaru Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), hingga langkah pemerintah dalam mengelola likuiditas fiskal.
Pada perdagangan sebelumnya, Kamis (25/6/2026), IHSG berhasil ditutup menguat 1,96 persen ke level 5.999, menandai pulihnya minat beli investor setelah beberapa pekan pasar bergerak di bawah tekanan. Kenaikan tersebut dipicu kombinasi sentimen global dan domestik yang dinilai mampu memperbaiki prospek ekonomi Indonesia dalam jangka pendek.
Analis memperkirakan IHSG pada perdagangan hari ini akan bergerak sideways dengan kecenderungan positif di kisaran support 5.850 dan resistance 6.100. Level psikologis 6.000 menjadi area penting yang akan menentukan arah pergerakan indeks berikutnya.
Harga Minyak Brent Turun, Tekanan Fiskal Berkurang
Salah satu katalis utama yang mendorong penguatan pasar adalah terus melemahnya harga minyak mentah Brent yang kini mendekati level USD70 per barel.
Bagi Indonesia yang masih menjadi negara net importir minyak, penurunan harga energi memberikan sejumlah keuntungan strategis. Beban subsidi energi dan kompensasi pemerintah berpotensi menurun sehingga tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 menjadi lebih ringan.
Selain itu, harga energi yang lebih rendah turut membantu menekan potensi kenaikan inflasi. Dengan inflasi yang lebih terkendali, ruang bagi pemerintah maupun Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas ekonomi menjadi semakin besar.
Pelaku pasar memandang perkembangan tersebut sebagai sinyal positif karena berpotensi meningkatkan daya beli masyarakat sekaligus memperkuat fundamental makroekonomi nasional.
Rencana Efisiensi Anggaran MBG Disambut Positif Pasar
Sentimen positif lainnya datang dari pemerintah yang kembali mempertimbangkan efisiensi anggaran pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pemerintah dikabarkan tengah mengkaji pemangkasan anggaran sekitar Rp50 triliun untuk program tersebut sebagai bagian dari strategi menjaga kesehatan fiskal di tengah meningkatnya kebutuhan belanja negara.
Bagi investor, langkah tersebut dipersepsikan sebagai upaya pemerintah menjaga disiplin anggaran dan mengendalikan defisit APBN agar tetap sesuai target.
Efisiensi belanja negara dinilai dapat memberikan ruang fiskal yang lebih luas bagi pemerintah untuk membiayai program prioritas lain tanpa menambah tekanan terhadap pembiayaan utang.
Meski demikian, keputusan final mengenai besaran anggaran MBG masih menunggu pembahasan lebih lanjut di tingkat pemerintah.
LPS Naikkan Tingkat Bunga Penjaminan
Katalis domestik lain yang menjadi perhatian pasar adalah keputusan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menaikkan Tingkat Bunga Penjaminan (TBP) sebesar 25 basis poin (bps).
Kebijakan tersebut berlaku mulai 1 Juli hingga 30 September 2026.
Dengan keputusan tersebut, tingkat bunga penjaminan simpanan rupiah di bank umum naik menjadi 3,75 persen dari sebelumnya 3,50 persen.
Sementara itu, tingkat bunga penjaminan simpanan rupiah di Bank Perekonomian Rakyat (BPR) meningkat menjadi 6,25 persen dari sebelumnya 6,00 persen.
Adapun tingkat bunga penjaminan simpanan valuta asing di bank umum tetap dipertahankan sebesar 2,00 persen.
LPS menjelaskan bahwa penyesuaian tersebut dilakukan sebagai langkah antisipatif dalam menjaga efektivitas tingkat bunga penjaminan sekaligus mempertahankan kredibilitasnya sebagai acuan suku bunga simpanan yang wajar di industri perbankan.
Kenaikan TBP diharapkan mampu menjaga kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan nasional, terutama di tengah dinamika pasar keuangan global.
Pemerintah Tarik Bertahap Dana SAL dari Bank BUMN
Perhatian investor juga tertuju pada kebijakan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) yang mulai menarik kembali dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) dari sejumlah bank milik negara.
Sebelumnya, sejak September 2025 pemerintah menempatkan dana SAL sebesar Rp200 triliun dari Bank Indonesia ke sejumlah bank BUMN guna memperkuat likuiditas sektor perbankan.
Selanjutnya, nilai penempatan dana tersebut sempat ditambah menjadi Rp300 triliun.
Dana tersebut tersebar di lima bank nasional, yakni:
-
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI)
-
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI)
-
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI)
-
PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN)
-
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS)
Kini pemerintah mulai melakukan penarikan dana tersebut secara bertahap.
Menurut Kementerian Keuangan, langkah ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan belanja negara yang semakin meningkat pada paruh kedua tahun anggaran.
Pengembalian dana secara bertahap diyakini tidak akan mengganggu likuiditas perbankan karena kondisi permodalan bank-bank nasional masih berada dalam kategori kuat.
Pelaku pasar juga menilai kebijakan tersebut merupakan bagian dari strategi pengelolaan kas negara yang bersifat normal sehingga tidak memicu kekhawatiran berlebihan.
Prospek IHSG Masih Didukung Fundamental Domestik
Secara keseluruhan, kombinasi berbagai sentimen tersebut dinilai memberikan fondasi yang cukup baik bagi pasar saham Indonesia.
Harga minyak yang lebih rendah membantu menjaga inflasi.
Efisiensi anggaran pemerintah memperkuat persepsi disiplin fiskal.
Kenaikan tingkat bunga penjaminan menjaga stabilitas sistem keuangan.
Sementara penarikan dana SAL dilakukan secara terukur sehingga tidak mengganggu likuiditas industri perbankan.
Meski demikian, investor tetap diminta mencermati perkembangan ekonomi global, terutama arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve), pergerakan nilai tukar rupiah, serta dinamika geopolitik yang masih dapat memengaruhi aliran modal asing ke pasar negara berkembang.
Rekomendasi Saham Pilihan Hari Ini
Berdasarkan kondisi pasar terkini, Phintraco Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham yang dinilai memiliki peluang menarik untuk dicermati investor pada perdagangan hari ini.
Adapun saham-saham pilihan tersebut meliputi:
PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA)
Saham emiten tambang ini diperkirakan masih mendapat dukungan dari prospek harga logam global serta potensi pertumbuhan bisnis hilirisasi mineral.
PT Darma Henwa Tbk (DEWA)
Saham sektor jasa pertambangan ini dinilai menarik seiring meningkatnya aktivitas produksi di sektor batu bara dan mineral.
PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT)
Emiten pengelola jaringan minimarket Alfamart berpotensi memperoleh sentimen positif dari peningkatan konsumsi masyarakat dan stabilitas inflasi.
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS)
BRIS tetap menjadi salah satu pilihan utama sektor perbankan syariah berkat pertumbuhan pembiayaan yang solid dan prospek bisnis jangka panjang.
PT Bukalapak.com Tbk (BUKA)
Saham teknologi ini dinilai menarik untuk dipantau seiring transformasi bisnis serta peluang peningkatan efisiensi operasional perusahaan.
Investor Tetap Perlu Selektif
Meski berbagai sentimen saat ini cenderung positif, analis tetap mengingatkan investor agar tidak mengabaikan manajemen risiko.
Strategi akumulasi bertahap dinilai lebih tepat dibandingkan melakukan pembelian secara agresif, terutama menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting yang berpotensi memengaruhi volatilitas pasar.
Apabila IHSG mampu bertahan di atas level psikologis 6.000, peluang melanjutkan penguatan menuju area 6.100 dinilai semakin terbuka.
Sebaliknya, jika tekanan jual kembali meningkat, area 5.850 diperkirakan menjadi level support penting yang perlu dicermati pelaku pasar.
Dengan kombinasi sentimen domestik yang relatif kondusif dan meredanya tekanan eksternal, pasar saham Indonesia berpeluang mempertahankan momentum positif dalam jangka pendek. Investor pun diharapkan tetap disiplin menerapkan strategi investasi sesuai profil risiko masing-masing sambil mencermati perkembangan kebijakan ekonomi dan kondisi global.
Baca Juga
Komentar