Tragis di Menara BTS Kemayoran, Pekerja Muda Tewas Diduga Tersengat Listrik Saat Bertugas
JAKARTA – Kecelakaan kerja kembali merenggut nyawa di sektor pembangunan infrastruktur telekomunikasi. Seorang pekerja muda bernama Andi Azis Wijaya (21) ditemukan meninggal dunia di atas menara Base Transceiver Station (BTS) yang tengah dibangun di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, Minggu (12/4/2026).
Peristiwa ini menambah daftar panjang insiden fatal di proyek konstruksi, khususnya yang melibatkan pekerjaan di ketinggian dan risiko listrik bertegangan tinggi. Dugaan sementara, korban meninggal akibat tersengat listrik saat berada di struktur menara.
Kronologi Kejadian di Lokasi Proyek
Berdasarkan keterangan dari pihak di lapangan, insiden bermula ketika korban hendak naik ke bagian atas menara BTS melalui tangga struktur. Saat proses tersebut berlangsung, korban diduga tidak sengaja menyentuh kabel listrik yang kondisinya terkelupas.
Kontak langsung dengan kabel bertegangan tinggi itu diduga menyebabkan korban langsung kehilangan kesadaran di ketinggian. Dalam hitungan detik, korban tidak lagi menunjukkan respons dan diperkirakan meninggal dunia di tempat.
Lokasi kejadian yang berada di kawasan padat penduduk di Kemayoran membuat peristiwa ini cepat menarik perhatian warga. Namun, kondisi saat itu tidak memungkinkan pertolongan cepat karena faktor cuaca dan potensi bahaya listrik.
Cuaca dan Risiko Listrik Hambat Penyelamatan
Menurut keterangan Budi, pemilik proyek sekaligus atasan korban, kondisi cuaca saat kejadian menjadi salah satu faktor yang memperumit situasi. Hujan yang turun membuat lingkungan sekitar menjadi berisiko tinggi terhadap sengatan listrik.
“Situasi hujan membuat warga ragu untuk mendekat karena khawatir masih ada aliran listrik aktif,” ujar Budi.
Kondisi ini membuat proses penyelamatan tidak bisa dilakukan secara spontan oleh warga sekitar. Kekhawatiran akan aliran listrik aktif menjadi alasan utama mengapa korban tidak segera dievakuasi sesaat setelah kejadian.
Evakuasi Dramatis dari Ketinggian
Proses evakuasi korban berlangsung cukup dramatis. Posisi korban yang berada di atas menara BTS dengan ketinggian signifikan membuat tim penyelamat harus bekerja ekstra hati-hati.
Tim gabungan yang terdiri dari petugas darurat dan teknisi harus terlebih dahulu berkoordinasi dengan Perusahaan Listrik Negara untuk memastikan aliran listrik di area tersebut diputus sementara.
Setelah dipastikan aman, proses evakuasi baru dapat dilakukan. Petugas menggunakan peralatan khusus untuk menurunkan jenazah korban dari struktur menara.
“Evakuasi baru bisa dilakukan setelah aliran listrik diputus sementara,” jelas Budi.
Polisi Lakukan Penyelidikan Mendalam
Pihak kepolisian dari Polsek Kemayoran langsung turun tangan untuk menangani kasus ini. Aparat telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengumpulkan sejumlah bukti di lokasi.
Kapolsek Kemayoran, Agung Ardiansyah, menyatakan bahwa pihaknya masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan penyebab pasti kematian korban.
“Dugaan awal korban meninggal karena tersengat listrik, namun masih kami dalami,” ujarnya.
Jenazah korban telah dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan autopsi guna memastikan penyebab kematian secara medis.
Profil Korban dan Pekerjaan di Proyek
Korban diketahui merupakan warga Ciampea, Bogor, yang baru berusia 21 tahun. Ia telah bekerja di proyek tersebut selama kurang lebih tiga bulan.
Menurut keterangan atasan, korban sebelumnya lebih banyak membantu di bagian logistik dan administrasi. Namun, seperti lazimnya pekerjaan lapangan, ia juga terlibat dalam aktivitas di area konstruksi.
Minimnya pengalaman dan potensi kurangnya pelatihan keselamatan kerja menjadi faktor yang kerap disorot dalam kasus kecelakaan kerja di sektor konstruksi.
Sorotan pada Standar Keselamatan Kerja
Insiden ini kembali menyoroti pentingnya penerapan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di proyek konstruksi, khususnya yang melibatkan risiko tinggi seperti pekerjaan di ketinggian dan instalasi listrik.
Beberapa faktor yang sering menjadi penyebab kecelakaan kerja antara lain:
-
Kabel listrik terbuka atau tidak terlindungi dengan baik
-
Kurangnya alat pelindung diri (APD)
-
Minimnya pengawasan di lapangan
-
Prosedur keselamatan yang tidak dijalankan secara ketat
Dalam kasus ini, dugaan adanya kabel terkelupas menjadi indikator bahwa aspek pengamanan instalasi listrik belum optimal.
Infrastruktur Telekomunikasi dan Risiko Lapangan
Pembangunan menara BTS merupakan bagian penting dari pengembangan jaringan telekomunikasi nasional. Namun, di balik percepatan pembangunan tersebut, terdapat risiko tinggi yang dihadapi para pekerja lapangan.
Pekerjaan di menara BTS menuntut keterampilan khusus, termasuk pemahaman terhadap sistem kelistrikan dan prosedur keselamatan di ketinggian. Tanpa pelatihan yang memadai, risiko kecelakaan menjadi sangat tinggi.
Para ahli keselamatan kerja menekankan bahwa setiap proyek harus memiliki standar operasional prosedur (SOP) yang ketat, termasuk inspeksi rutin terhadap instalasi listrik.
Tanggung Jawab dan Evaluasi Proyek
Kasus ini berpotensi membuka evaluasi lebih luas terhadap pengawasan proyek konstruksi, terutama di wilayah perkotaan seperti Jakarta.
Pihak kontraktor dan pengelola proyek diharapkan dapat melakukan audit internal terhadap sistem keselamatan kerja. Selain itu, pengawasan dari instansi terkait juga perlu diperketat untuk mencegah kejadian serupa.
Penegakan aturan K3 tidak hanya menjadi tanggung jawab perusahaan, tetapi juga pemerintah sebagai regulator.
Dampak Sosial dan Kemanusiaan
Kematian korban yang masih berusia muda meninggalkan duka mendalam bagi keluarga. Selain itu, peristiwa ini juga menjadi pengingat keras akan risiko yang dihadapi pekerja sektor informal dan konstruksi.
Banyak pekerja di sektor ini yang belum mendapatkan perlindungan maksimal, baik dari sisi asuransi maupun jaminan keselamatan kerja.
Peristiwa ini diharapkan menjadi momentum bagi semua pihak untuk lebih serius dalam menerapkan standar keselamatan kerja.
Penutup
Insiden tragis di menara BTS Kemayoran ini menjadi cermin bahwa pembangunan infrastruktur tidak boleh mengabaikan aspek keselamatan. Di tengah kebutuhan akan percepatan pembangunan jaringan telekomunikasi, keselamatan pekerja harus tetap menjadi prioritas utama.
Penyelidikan yang dilakukan aparat diharapkan dapat mengungkap penyebab pasti kejadian ini sekaligus menjadi dasar perbaikan sistem keselamatan kerja ke depan.
Tanpa langkah konkret, bukan tidak mungkin kejadian serupa akan kembali terulang, dengan korban yang terus bertambah.
Baca Juga
Komentar